Mustofa Bisri

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Ahmad Mustofa Bisri
Mustofa Bisri.jpg
Tempat, Tgl. LahirRembang, 10 Agustus 1944
Aktivitas Utama
  • Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang.
  • Seorang budayawan, penyair, pelukis dan penulis kolom yang sangat dikenal di kalangan sastrawan maupun masyarakat pada umumnya
Karya Utama
  • Karya-karyanya, baik tulisan maupun lukisan sangat banyak diantranya adalah penulis antologi puisi “Negeri Daging” (2002),
  • Melihat Diri Sendiri (2003).
  • Pada 1998, karyanya 99 lukisan amplop, ditambah 10 lukisan bebas dan 15 kaligrafi, dipamerkan di Gedung Pameran Seni Rupa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta

Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus lahir di Rembang, 10 Agustus 1944. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang, ini adalah seorang kiai, penulis, penyair, pelukis, dan seorang budayawan yang dikenal luas oleh masyarakat lewat karya-karyanya.

Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus lahir di Rembang, 10 Agustus 1944. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang, ini adalah seorang kiai, penulis, penyair, pelukis, dan seorang budayawan yang dikenal luas oleh masyarakat lewat karya-karyanya.

Gus Mus merupakan salah satu Dewan Penasihat dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia yang digelar pada tanggal 25-27 April 2017 di Cirebon. Gus Mus menjadi salah satu kiai kharismatik NU yang menjadi tujuan panitia penyelenggara KUPI untuk melakukan silaturahmi dan memohon restu. Ia juga menjadi anggota Majelis Syuyukh Ma’had Aly Indonesia. Pada Rabu, 19 Juli 2017 ia meresmikan Ma`had Aly Kebon Jambu yang merupakan salah satu dari rekomendasi KUPI. Dalam peluncuran Ma`had Aly itu, Gus Mus menekankan pentingnya pendidikan di samping pengajaran. Pendidikan adalah soal karakter, pekerti, dan teladan. Sementara pengajaran adalah mengenai transmisi pengetahuan semata.

Riwayat Hidup

Gus Mus merupakan putera dari pasangan KH Bisri Mustofa dan Nyai Marafah Cholil. Ayah Gus Mus, KH Bisri dikenal luas oleh masyarakat sebagai pengarang kitab Al-Ibriz, kitab tafsir berbahasa Jawa yang menggunakan aksara pegon. Pada 1955, Kiai Bisri mendirikan Pondok Pesantren Roudlatuth Tholibin.

Di samping belajar di pesantren ayahnya, Gus Mus juga nyantri di berbagai pesantren. Setamat sekolah dasar tahun 1956, Gus Mus melanjut sekolah ke jenjang tsanawiyah. Ia memilih untuk tidak menyelesaikannya dan masuk ke Pesantren Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Marzuki dan KH Mahrus Ali. Setelah itu ia pindah ke Pesantren Al-Munawwar Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Ma‘shum dan KH Abdul Qadir. Kemudian pada 1964 ia belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir mengambil jurusan studi keislaman dan bahasa Arab, hingga tamat tahun 1970. Ia satu angkatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Gus Mus menikah dengan St. Fatma pada 19 September 1971. Pasangan ini dikaruniai 7 orang anak dan 13 cucu. Anak-anaknya adalah lenas Tsuroiya, Kautsar Uzmut, Rudloh Quds, Rabiatul Bisriyah, Nada, Almas, dan Muhammad Bisri Mustofa. Ia juga telah memiliki 6 orang menantu yakni Ulil Abshar Abdalla, Reza Shafi Habibi, Ahmad Sampton, Wahyu Salvana, Fadel Irawan, dan Rizal Wijaya.

Tokoh dan Keulamaan Perempuan

Dalam keseharian, Gus Mus memimpin Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin bersama keluarga besarnya. Pesantren ini terletak di Desa Leteh, Kecamatan Rembang Kota, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sebagai seorang ulama, Gus Mus adalah tokoh yang patut untuk diteladani. Ia menyampaikan pengetahuannya dengan santun dan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat.

Gus Mus termasuk ke dalam ulama yang sangat sederhana dan cenderung menghindari jabatan politik. Pada Muktamar NU ke-31 tahun 2004 di Boyolali, Jawa Tengah, ia didorong Gus Dur dan kawan-kawan untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU, akan tetapi ia kukuh menolaknya. Ia juga ditunjuk sembilan kiai sepuh anggota ahlul halli wal aqdi (AHWA) untuk menjadi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2015-2020. Akan tetapi, Gus Mus menolaknya. Dalam surat penolakannya Gus Mus menyatakan penolakan ini demi kemasalahatan jamaah.

Ternyata langkah seperti itu bukan kali pertama dilakukannya. Jika tidak merasa cocok berada di suatu lembaga, dia dengan elegan menarik diri. Sebagai misal, kendati pernah tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah tahun 1987-1992, mewakili PPP, demikian pula pernah sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), mantan Rois Syuriah PBNU periode 1994-1999 dan 1999-2004 ini tidak pernah mau dicalonkan untuk menjabat kembali di kedua lembaga tersebut. Lalu, ketika NU ramai-ramai mendirikan partai PKB, ia tetap tak mau turun gelanggang politik apalagi terlibat aktif di dalamnya.

Pada Pemilu Legislatif 2004, meski namanya sudah ditetapkan sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Jawa Tengah, ia lalu memilih mengundurkan diri sebelum pemilihan itu sendiri digelar. Ia merasa dirinya bukan orang yang tepat untuk memasuki bidang pemerintahan. Ia merasa, dengan menjadi wakil rakyat, ternyata apa yang diberikannya tidak sebanding dengan yang diberikan oleh rakyat. Gus Mus mengakui, selama menjadi anggota DPRD, sering terjadi pertikaian di dalam batinnya. Karena sebagai wakil rakyat, yang menerima lebih banyak dibandingkan dengan apa yang bisa dia berikan kepada rakyat Jawa Tengah.

Di luar kegiatan rutin sebagai ulama, Gus Mus juga seorang budayawan, pelukis, dan penulis. Dia telah menulis belasan buku fiksi dan nonfiksi. Melalui karya-karyanya, Gus Mus sering kali menunjukkan sikap kritisnya terhadap budaya yang berkembang dalam masyarakat.

Bakat melukis Gus Mus terasah sejak masa remaja, saat mondok di Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Ia sering keluyuran ke rumah-rumah pelukis. Salah satunya bertandang ke rumah sang maestro seni lukis Indonesia, Affandi. Ia seringkali menyaksikan langsung bagaimana Affandi melukis. Sehingga setiap kali ada waktu luang, dalam batinnya sering muncul dorongan untuk menggambar. Pada akhir tahun 1998, Gus Mus memamerkan sebanyak 99 lukisan amplop, ditambah 10 lukisan bebas, dan 15 kaligrafi, digelar di Gedung Pameran Seni Rupa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Saat belajar di Leteh, di pesantren ayahnya sendiri, selain pengajian dan olah raga, aktivitas lain yang digunakan Gus Mus adalah menulis Puisi. Hal yang sama juga dilakukan oleh kakaknya, Gus Cholil. Kedua kakak beradik ini saling berkompetensi untuk menunjukkan hasil karya siapa dulu yang dimuat di media massa.

Gus Mus ingat betul, betapa ia sangat jengkel saat karya puisi Gus Cholil muncul di sebuah harian yang terbit di Semarang. Lebih jengkel lagi ketika kliping karya puisi itu ditempelkan di papan pengumuman yang ada di pesantren, sehingga semua santri dapat membacanya. Gus Mus memandang hal itu sebagai tantangan yang perlu dijawab. Ia berusaha keras menunjukkan kemampuan di bidang yang sama. Akhirnya, berkat kerja keras, tulisan puisi Gus Mus dimuat di media massa. Karya puisi itu kemudian ditempel pada papan yang sama di atas karya puisi milik kakaknya. Kejengkelan Gus Mus terobati.

Sewaktu Gus Mus belajar di Kairo, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Mesir membuat majalah. Salah satu pengasuh majalah adalah Gus Dur. Setiap kali ada halaman kosong, Gus Mus diminta mengisi dengan puisi-puisi karyanya. Karena Gus Dur juga tahu Gus Mus bisa melukis, maka ia diminta untuk membuat lukisan sehingga jadilah coret-coretan, kartun, atau apa saja, yang penting ada gambar pengisi halaman kosong. Sejak itu, Gus Mus hanya menyimpan puisi karyanya di rak buku.

Gus Dur pula yang mengembalikan Gus Mus ke habitat perpuisian. Pada tahun 1987, ketika menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Gus Dur membuat acara Malam Palestina. Salah satu mata acara adalah pembacaan puisi karya para penyair Timur Tengah. Selain pembacaan puisi terjemahan, juga dilakukan pembacaan puisi aslinya. Gus Mus, yang fasih berbahasa Arab dan Inggris, mendapat tugas membaca karya penyair Timur Tengah dalam bahasa aslinya. Sejak itulah Gus Mus mulai bergaul dengan para penyair.

Selain menulis puisi, Gus Mus juga menulis esai-esai keagamaan baik asli maupun terjemahan yang diterbitkan dalam buku-buku. Gus Mus juga aktif menulis artikel ilmiah populer yang tersebar di berbagai surat kabar di daerah maupun nasional. Sebagai penulis, Gus Mus menghasilkan karya yang beragam genre. Ia pernah menulis cerita anak. Ia juga pernah menulis naskah drama sekitar tahun 1973. Naskah tersebut dikirimkannya ke TVRI dan memenangkan sayembara drama di TVRI. Kiprahnya dalam penulisan naskah drama berhenti setelah karyanya tersebut tidak ditayangkan oleh TVRI. Saat itu nama yang ia pakai adalah M. Ustov Abi Sri. Gus Mus juga menulis humor.

Penghargaan dan Prestasi

Beberapa penghargaan yang diterima Gus Mus antara lain:

  • Sebagai cerpenis, Gus Mus menerima penghargaan “Anugerah Sastra Asia” dari Majelis Sastra (Mastera, Malaysia, 2005).
  • UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memberikan gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Kebudayaan Islam kepada Gus Mus pada Sabtu, 30 Mei 2009, dipimpin langsung oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. H. Amin Abdullah.
  • Presiden Joko Widodo atas nama negara memberikan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada Gus Mus. Acara penyematan berlangsung di Istana Negara, Jakarta, pada 13 Agustus 2015.
  • Penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2017 diberikan Gus Mus sebagai tokoh yang memiliki perhatian yang besar terhadap perjuangan dan tegaknya nilai-nilai hak asasi manusia.

Karya-karya

  • Kitab Pendidikan Islam: (Kimiya-us Sa‘adah (terj. Berbahasa Jawa, t,th, Assegaf, Surabaya) (Proses kebahagiaan (t.th, Sarana Sukses, Surabaya)
  • Pokok-Pokok Agama (t.th., Ahmad Putra, Kendal)
  • Dasar-Dasar Islam (1987, Abdillah Putra, Kendal)
  • Ensiklopedi Ijmak (bersama K.H. Ahmad Sahal Mahfudz, 1987, Pustaka Firdaus, Jakarta)
  • Maha kiai Hasyim Asy‘ari (1996, Kurnia Kalam Semesta, Yogyakarta)
  • Metode Tasawuf Al Ghozali (terjemahan & komentar, 1996, Pelita Dunia, Surabaya)
  • Al-Muna, Syair Alumnus dan penerima beasiswa dari Universitas Al Azhar Cairo (Mesir, 1964-1970).
  • Asma‘ul Husna (terj. Berbahasa Jawa tulisan pegon, cet.1, Al Miftah, Surabaya; 1417H/1997, cet.2, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang)
  • Fikih Keseharian Gus Mus, Bunga Rampai Masalah-Masalah Keberagamaan (Juni 1997, cet.1, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang bersama Al-Miftah, Surabaya; April 2005, cet.2; Januari 2006, cet.3, Khalista, Surabaya & Komunitas MataAir).

Kumpulan Esai:

  • Saleh Ritual Saleh Sosial, Esai-Esai Moral (1995, cet.2, Mizan, Bandung),
  • Pesan Islam Sehari-hari, Ritus Dzikir dan Gempita Umat (1997, cet.1; 1999, cet.2, Risalah gusti, Surabaya),
  • Melihat Diri Sendiri (2003, Gama Media, Yogyakarta),
  • Kompensasi (2007, MataAir Publishing, Surabaya)
  • Oase Pemikiran (2007, Kanisius, Yogyakarta)
  • Membuka Pintu Langit (2007, Penerbit Buku Kompas, Jakarta).

Kumpulan Puisi:

  • Ohoi, Kumpulan Puisi-Puisi Balsem (1998, stensilan; 1990, P3M), (Dr. Sapardi Djoko damono, Pengantar: H. Soetjipto Wirosardjono dan al-haj Stardji Calzoum Bachri)
  • Tadarus 1993, Prima Pustaka, Yogyakarta, Pengantar: Prof. Dr. Umar Kayam),
  • Rubaiyat Angin dan rumput (t.Th., Majalah Humor dan PT Matra Multi Media, pengantar: Sapardi Djoko Damono)
  • Pahlawan dan Tikus (1995, Pustaka Firdaus, Jakarta, Kata Pembaca: Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail, Danarto)
  • Wekwekwek, Sajak-Sajak bumi Langit (1996, Risalah Gusti, Surabaya)
  • Gelap Berlapis-lapis (1998, Yayasan Al-Ibriz, Rembang dan Fatma Press, Jakarta)
  • Gandrung, Sajak-Sajak Cinta (2000, cet.1, Yayasan Al-Ibriz, Rembang; 2006, cet.2, MataAir, Surabaya)
  • Negeri Daging (2002, Benteng, Yogyakarta)
  • Aku Manusia (2007, MataAir Publishing, Surabaya)
  • Syi‘iran Asmaul Husna (Berbahasa Jawa, t.th., cet.1, Al Huda, Temanggung; 1997, cet.2, MataAir Publishing, Surabaya)

Kumpulan Cerpen

  • Lukisan Kaligrafi (2003, Penerbit Buku Kompas, Jakarta) Menerima Penghargaan Anugerah Sastra Asia‖ dari Majelis Sastra Asia (Mastera) (Malaysia, 2005)
  • Cerpen A. Mustofa Bisri Gus Jakfar bersama rekan-rekan masuk dalam antologi Waktu Nayla, Cerpen Pilihan Kompas 2003 (2003, Penerbit Buku Kompas, Jakarta)
  • Bacalah Cinta (editor Abdul wahid B.S., 2005, bukulaela, Yogyakarta).

Gubahan Humor:

  • Mutiara-Mutiara Benjol (1994, cet.1, Lembaga Studi Filsafat, Yogyakarta; 2004, cet.2, Mata Air publishing Surabaya)
  • Canda Nabi & Tawa Sufi (Pengantar KH. Abdurrahman Wahid, Juli 2002, cet.1; November 2002, cet.2, Hikmah, Bandung)

Gubahan Dongeng untuk Anak:

  • Awas Manusia (1979, Gaya Favorit Press, Jakarta)
  • Nyamuk Yang Perkasa.

Daftar Bacaan Lanjutan


Penulis : Abdul Rosyidi
Editor : Nor Ismah
Reviewer : Faqihuddin Abdul Kodir