Kongres Ulama Perempuan Indonesia yang Membanggakan: Sekadar Catatan Pengamat: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
tidak ada ringkasan suntingan
Baris 10: Baris 10:


Banyak memang isu menarik yang dibicarakan di KUPI dan berbagai beritanya juga sudah tersebar di media. Semoga catatan saya bisa melengkapi berita yang ada. Dalam catatan sekadarnya ini, saya ingin menyoroti tiga hal yang semoga bisa menjadi masukan bagi kalangan Islam moderat atau semua orang yang peduli akan Indonesia yang beragam dan lebih adil.
Banyak memang isu menarik yang dibicarakan di KUPI dan berbagai beritanya juga sudah tersebar di media. Semoga catatan saya bisa melengkapi berita yang ada. Dalam catatan sekadarnya ini, saya ingin menyoroti tiga hal yang semoga bisa menjadi masukan bagi kalangan Islam moderat atau semua orang yang peduli akan Indonesia yang beragam dan lebih adil.
#Pentingnya masuk ke [[komunitas]]-komunitas Masjid.
#Pentingnya masuk ke [[komunitas]]-komunitas Masjid.
#Perbanyak konten Islam di media online, yang mendasar, mudah diakses dan mempromosikan Islam yang moderat.
#Perbanyak konten Islam di media online, yang mendasar, mudah diakses dan mempromosikan Islam yang moderat.
Baris 16: Baris 17:
Ok, mulai dari poin pertama. Perwakilan dari Kemenag ketika berpidato di Seminar Internasional IAIN Syekh Nurjati menyitir suatu hasil penelitian yang dilakukan Kemenag yaitu pengajian, majelis taklim dan ceramah agama di Masjid-Masjid itu adalah sumber pengetahuan yang penting dan dipercaya umat. Ini sangat masuk akal karena sifat pengajian yang guyub. Kalau melihat yang terjadi menjelang pilkada DKI lalu, terlihat bahwa anjuran memilih pemimpin Muslim di khutbah Jumat dan pengajian-pengajian ternyata sangat efektif. Saya mengamati Ibu saya yang sudah 30 tahun ikut pengajian di masjid dekat rumah kami. Bagaimana setiap minggu Ibu saya bertugas menghubungi guru mengaji mereka, yang rata-rata adalah figur yang memang sudah tinggal bertahun bahkan puluhan tahun dan dihormati di lingkungan kami. Mereka ini unggul di konsistensi. Kelompok pengajian Ibu-Ibu ini terdiri dari 20-30 orang, kadang bisa lebih banyak. Selalu ada ibu-ibu muda yang baru bergabung. Dan mereka tentu memiliki keluarga dan teman lain dimana mereka memiliki lingkaran pengaruh.
Ok, mulai dari poin pertama. Perwakilan dari Kemenag ketika berpidato di Seminar Internasional IAIN Syekh Nurjati menyitir suatu hasil penelitian yang dilakukan Kemenag yaitu pengajian, majelis taklim dan ceramah agama di Masjid-Masjid itu adalah sumber pengetahuan yang penting dan dipercaya umat. Ini sangat masuk akal karena sifat pengajian yang guyub. Kalau melihat yang terjadi menjelang pilkada DKI lalu, terlihat bahwa anjuran memilih pemimpin Muslim di khutbah Jumat dan pengajian-pengajian ternyata sangat efektif. Saya mengamati Ibu saya yang sudah 30 tahun ikut pengajian di masjid dekat rumah kami. Bagaimana setiap minggu Ibu saya bertugas menghubungi guru mengaji mereka, yang rata-rata adalah figur yang memang sudah tinggal bertahun bahkan puluhan tahun dan dihormati di lingkungan kami. Mereka ini unggul di konsistensi. Kelompok pengajian Ibu-Ibu ini terdiri dari 20-30 orang, kadang bisa lebih banyak. Selalu ada ibu-ibu muda yang baru bergabung. Dan mereka tentu memiliki keluarga dan teman lain dimana mereka memiliki lingkaran pengaruh.


Ada faktor kedekatan yang terbangun di antara kelompok pengajian tersebut dengan guru yang mengajar. Kedekatan menimbulkan kepercayaan lebih. Seringkali orang bisa bergabung dengan suatu kelompok pemikiran tak ada hubungannya dengan ideologi, tapi semata adalah hasrat dasar manusia untuk memiliki teman, diperhatikan dan memperhatikan, diterima dan menerima sebagai manusia yang berharga.  
Ada faktor kedekatan yang terbangun di antara kelompok pengajian tersebut dengan guru yang mengajar. Kedekatan menimbulkan kepercayaan lebih. Seringkali orang bisa bergabung dengan suatu kelompok pemikiran tak ada hubungannya dengan ideologi, tapi semata adalah hasrat dasar manusia untuk memiliki teman, diperhatikan dan memperhatikan, diterima dan menerima sebagai manusia yang berharga.


Para aktivis dan pemikir Islam moderat yang ingin menyebarkan paham Islam yang inklusif sepertinya perlu benar-benar berstrategi untuk menjangkau kelompok-kelompok pengajian kampung begini. Inilah cara-cara yang telah ditempuh dengan tekun oleh teman-teman kita dari paham konservatif dan fundamentalis. Jujur saja, Islam moderat masih kalah skor jauh jika dibandingkan rekan-rekan itu.  Seorang peserta kongres, perempuan ulama dan aktivis sempat angkat bicara soal itu. “Kenapa sekarang paham Wahabi itu menyebar begitu luas? Kita ini mesti introspeksi diri, apa memang ceramah-ceramah mereka itu lebih menarik, sementara kita ini begitu-begitu saja dan membosankan? “''Pertanyaan yang penting untuk kita pikirkan bersama”.''
Para aktivis dan pemikir Islam moderat yang ingin menyebarkan paham Islam yang inklusif sepertinya perlu benar-benar berstrategi untuk menjangkau kelompok-kelompok pengajian kampung begini. Inilah cara-cara yang telah ditempuh dengan tekun oleh teman-teman kita dari paham konservatif dan fundamentalis. Jujur saja, Islam moderat masih kalah skor jauh jika dibandingkan rekan-rekan itu.  Seorang peserta kongres, perempuan ulama dan aktivis sempat angkat bicara soal itu. “Kenapa sekarang paham Wahabi itu menyebar begitu luas? Kita ini mesti introspeksi diri, apa memang ceramah-ceramah mereka itu lebih menarik, sementara kita ini begitu-begitu saja dan membosankan? “''Pertanyaan yang penting untuk kita pikirkan bersama”.


Terkait kebutuhan untuk berteman dan menjadi bagian dari sesuatu ini, ada penelitian lain yang menjelaskan yaitu yang dilakukan Nava Nuraniyah, peneliti dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC). Beberapa perempuan buruh migran yang terlibat gerakan radikal rata-rata minim pengetahuan agama dan terseret melalui pergaulan. “Mereka bekerja sendiri di negeri orang, jauh dari keluarga, akses internet kencang 24 jam. Akhirnya mulai mendapat teman dari media sosial, seperti ''facebook, telegram'' dan sebagainya,” tutur Nava. Jika menonton Jihad Selfie film dokumenter dari Noor Huda Ismail, kita juga bisa melihat banyak anak muda direkrut melalui jaringan media sosial.


 
Fenomena mendapatkan teman dan kelompok baru melalui internet ini juga akan tersambung dengan poin kedua, yaitu konten Islam di media online. Dari penelitian Nava, subjek yang diwawancarainya kerap mengakses pengetahuan tentang Islam melalui internet. “Kalau kita ketik hal semacam fiqih wanita di google, laman-laman teratas yang muncul adalah pengetahuan Islam yang berasal dari kalangan konservatif,” kata Nava. Menurut Kyai Husein Muhammad, konservatisme adalah tahap awal, berikutnya adalah Fundamentalisme, lalu Radikalisme dan kemudian Terorisme.
Terkait kebutuhan untuk berteman dan menjadi bagian dari sesuatu ini, ada penelitian lain yang menjelaskan yaitu yang dilakukan Nava Nuraniyah, peneliti dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC). Beberapa perempuan buruh migran yang terlibat gerakan radikal rata-rata minim pengetahuan agama dan terseret melalui pergaulan. “Mereka bekerja sendiri di negeri orang, jauh dari keluarga, akses internet kencang 24 jam. Akhirnya mulai mendapat teman dari media sosial, seperti ''facebook, telegram'' dan sebagainya,” tutur Nava. Jika menonton Jihad Selfie film dokumenter dari Noor Huda Ismail, kita juga bisa melihat banyak anak muda direkrut melalui jaringan media sosial. 
 
Fenomena mendapatkan teman dan kelompok baru melalui internet ini juga akan tersambung dengan poin kedua, yaitu konten Islam di media online. Dari penelitian Nava, subjek yang diwawancarainya kerap mengakses pengetahuan tentang Islam melalui internet. “Kalau kita ketik hal semacam fiqih wanita di google, laman-laman teratas yang muncul adalah pengetahuan Islam yang berasal dari kalangan konservatif,” kata Nava. Menurut Kyai Husein Muhammad, konservatisme adalah tahap awal, berikutnya adalah Fundamentalisme, lalu Radikalisme dan kemudian Terorisme.  


Saat menulis catatan ini, saya mencoba meng-google fiqih wanita dan sempat melihat situs yang berada di urutan teratas yakni fiqihwanita.com yang ber-tag line ‘Karena Islam begitu Memahami Wanita’. Dari laman terdepannya, saya membaca topik-topik artikel yang muncul adalah hal-hal yang dekat dengan keseharian perempuan, seperti bolehkah memakai sepatu tinggi? (tidak) Bolehkah menipiskan alis? (tidak). Bolehkah suami minum air susu istrinya? (boleh). Melihat topik-topik ini saya jadi berpikir, mungkin banyak dari muslim/muslimah yang memang betul-betul merasa butuh dituntun sampai dengan hal yang sekecil-kecilnya, untuk memvalidasi setiap langkahnya. ''Wallahu Alam.''  
Saat menulis catatan ini, saya mencoba meng-google fiqih wanita dan sempat melihat situs yang berada di urutan teratas yakni fiqihwanita.com yang ber-tag line ‘Karena Islam begitu Memahami Wanita’. Dari laman terdepannya, saya membaca topik-topik artikel yang muncul adalah hal-hal yang dekat dengan keseharian perempuan, seperti bolehkah memakai sepatu tinggi? (tidak) Bolehkah menipiskan alis? (tidak). Bolehkah suami minum air susu istrinya? (boleh). Melihat topik-topik ini saya jadi berpikir, mungkin banyak dari muslim/muslimah yang memang betul-betul merasa butuh dituntun sampai dengan hal yang sekecil-kecilnya, untuk memvalidasi setiap langkahnya. ''Wallahu Alam.''  


Yang jelas, bagi teman-teman Islam moderat, menyebarkan pengetahuan super dasar Islam di internet ini perlu dipikirkan. Jenis-jenis topiknya bisa disamakan, tapi isi dan dalil Islamnya bisa dipilih yang lebih inklusif, ramah dan—ini penting—mengajak orang untuk mulai berani berpikir sendiri.


Saya sih masih percaya bahwa Islam itu membuka pintu yang luas bagi Ijtihad, sebuah usaha yang sungguh-sungguh yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan perkara yang tidak dibahas dalam al-Qur’an dan Hadits dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang. Akal sehat, Bung Nona! Muslim itu boleh menggunakan akal sehat, sebab seperti hadits Nabi Muhammad SAW, “Untuk urusan duniamu, kamu lebih tahu.” Tapi kan sekarang ini sebagian muslim begitu mencurigai akal sehatnya sendiri dan jadinya berpegang pada orang-orang bergelar Habib atau Ustad yang sebetulnya belum tentu lebih jernih daripada mereka sendiri.


Yang jelas, bagi teman-teman Islam moderat, menyebarkan pengetahuan super dasar Islam di internet ini perlu dipikirkan. Jenis-jenis topiknya bisa disamakan, tapi isi dan dalil Islamnya bisa dipilih yang lebih inklusif, ramah dan—ini penting—mengajak orang untuk mulai berani berpikir sendiri.  
Ok, lalu poin ketiga. Sebagai orang yang pernah jadi jurnalis, - sekarang sesekali jurnalis lepas, dan selamanya jurnalis ''at heart -,'' saya melihat media mesti lebih banyak lagi memberi ruang untuk para narasumber dari kalangan ulama perempuan ini. Ini adalah kesempatan untuk menciptakan percakapan-percakapan publik yang lebih adil dan manusiawi. Ketika kita meliput topik-topik seperti kekerasan seksual, pernikahan anak, poligami, radikalisme, bahkan isu yang nampak jauh seperti politik dan keselamatan berlalu lintas. Sesungguhnya kita selalu punya ruang untuk melibatkan ulama perempuan. Selama kita tinggal di Indonesia, apapun area yang Anda pedulikan dan ingin perbaiki, memasukkan pemahaman agama yang lebih adil melalui narasumber terseleksi merupakan pilihan yang patut dipertimbangkan.


Saya sih masih percaya bahwa Islam itu membuka pintu yang luas bagi Ijtihad, sebuah usaha yang sungguh-sungguh yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan perkara yang tidak dibahas dalam al-Qur’an dan Hadits dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang. Akal sehat, Bung Nona! Muslim itu boleh menggunakan akal sehat, sebab seperti hadits Nabi Muhammad SAW, “Untuk urusan duniamu, kamu lebih tahu.” Tapi kan sekarang ini sebagian muslim begitu mencurigai akal sehatnya sendiri dan jadinya berpegang pada orang-orang bergelar Habib atau Ustad yang sebetulnya belum tentu lebih jernih daripada mereka sendiri.  
Karena media-media penting di Indonesia banyak yang berbasis di Jakarta, nama narasumber yang kerap muncul adalah mereka yang memang berbasis di Jakarta. Itupun kadang dia lagi, dia lagi. Padahal sebetulnya masih banyak nama lain yang bisa kita wawancara dan menyumbangkan perspektif penting. Saya akan menceritakan dua di antaranya, yang sudah masuk radar media tapi menurut saya masih bisa lebih sering lagi dijadikan narasumber.


Ok, lalu poin ketiga. Sebagai orang yang pernah jadi jurnalis, - sekarang sesekali jurnalis lepas, dan selamanya jurnalis ''at heart -,'' saya melihat media mesti lebih banyak lagi memberi ruang untuk para narasumber dari kalangan ulama perempuan ini. Ini adalah kesempatan untuk menciptakan percakapan-percakapan publik yang lebih adil dan manusiawi. Ketika kita meliput topik-topik seperti kekerasan seksual, pernikahan anak, poligami, radikalisme, bahkan isu yang nampak jauh seperti politik dan keselamatan berlalu lintas. Sesungguhnya kita selalu punya ruang untuk melibatkan ulama perempuan. Selama kita tinggal di Indonesia, apapun area yang Anda pedulikan dan ingin perbaiki, memasukkan pemahaman agama yang lebih adil melalui narasumber terseleksi merupakan pilihan yang patut dipertimbangkan.  
Yang pertama, Siti Ruhaini Dzuhayatin, Ketua Komisioner HAM Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang misinya menegakkan HAM di negara-negara Islam.  Ibu ini sungguh keren sekali! Di acara KUPI lalu, ia sempat menyatakan hal-hal penting, misalnya bahwa poligami bukanlah tradisi Islam, karena poligami sudah ada lama sekali sebelum Islam hadir. Justru Islam itu semangatnya adalah menghentikan poligami. (Wahai Arifin Ilham, dengarkanlah!). Bu Ruhaini juga mengatakan, “Perempuan dewasa itu harusnya boleh menikahkan dirinya sendiri, tidak perlu ada wali. Ulama kita harusnya sudah bisa mengeluarkan pernyataan-pernyataan seperti ini.” Ujarannya itu langsung disambut tepuk tangan gemuruh hadirin. (Bu Ruhaini, ''I love you full''! Saya doakan Ibu jadi Ketua MUI satu saat nanti).


Karena media-media penting di Indonesia banyak yang berbasis di Jakarta, nama narasumber yang kerap muncul adalah mereka yang memang berbasis di Jakarta. Itupun kadang dia lagi, dia lagi. Padahal sebetulnya masih banyak nama lain yang bisa kita wawancara dan menyumbangkan perspektif penting. Saya akan menceritakan dua di antaranya, yang sudah masuk radar media tapi menurut saya masih bisa lebih sering lagi dijadikan narasumber. 
Yang kedua adalah Nur Rofiah, Dosen Pascasarjana PTIQ, Pengurus [[Alimat]] dan [[Rahima]], Jakarta. Ibu ini juga keren, bergaya ustazah dengan pakaian jilbab yang panjang, suara yang mantap dan cocok untuk menangani publik dalam jumlah besar. Ibu Nur Rofiah ini selintas tak ada bedanya dengan penceramah seperti Mamah Dedeh tapi perspektifnya sangat berkeadilan gender. Wajib lebih sering diundang ke berbagai acara dan lebih sering diwawancara media.
 
Yang pertama, Siti Ruhaini Dzuhayatin, Ketua Komisioner HAM Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang misinya menegakkan HAM di negara-negara Islam.  Ibu ini sungguh keren sekali! Di acara KUPI lalu, ia sempat menyatakan hal-hal penting, misalnya bahwa poligami bukanlah tradisi Islam, karena poligami sudah ada lama sekali sebelum Islam hadir. Justru Islam itu semangatnya adalah menghentikan poligami. (Wahai Arifin Ilham, dengarkanlah!). Bu Ruhaini juga mengatakan, “Perempuan dewasa itu harusnya boleh menikahkan dirinya sendiri, tidak perlu ada wali. Ulama kita harusnya sudah bisa mengeluarkan pernyataan-pernyataan seperti ini.” Ujarannya itu langsung disambut tepuk tangan gemuruh hadirin. (Bu Ruhaini, ''I love you full''! Saya doakan Ibu jadi Ketua MUI satu saat nanti). 
 
Yang kedua adalah Nur Rofiah, Dosen Pascasarjana PTIQ, Pengurus [[Alimat]] dan [[Rahima]], Jakarta. Ibu ini juga keren, bergaya ustazah dengan pakaian jilbab yang panjang, suara yang mantap dan cocok untuk menangani publik dalam jumlah besar. Ibu Nur Rofiah ini selintas tak ada bedanya dengan penceramah seperti Mamah Dedeh tapi perspektifnya sangat berkeadilan gender. Wajib lebih sering diundang ke berbagai acara dan lebih sering diwawancara media.  


Jadi demikian poin-poin dari saya, hasil mengamati KUPI. Saya mesti bilang sekali lagi KUPI itu sungguh membanggakan. Bukan hanya karena penyelenggara dan panitia yang diketuai Mbak Badariyah Fayumi memang oke banget, tapi lebih dari itu adalah para peserta dari seluruh Indonesia yang luar biasa yang terlihat antara lain dari pertanyaan-pertanyaan kri tis mereka di forum. Juga ketika seorang pembicara masih menyatakan kalimat-kalimat yang cenderung konservatif (misalnya: memang laki-laki sudah dari sananya begitu), respon khalayak cepat menunjukkan protes. Begitu tanggap dan ''advance'', pikir saya. Sungguh membahagiakan melihat para peserta dari seluruh Indonesia ini yang saya bayangkan merupakan motor gerakan di wilayahnya masing-masing.
Jadi demikian poin-poin dari saya, hasil mengamati KUPI. Saya mesti bilang sekali lagi KUPI itu sungguh membanggakan. Bukan hanya karena penyelenggara dan panitia yang diketuai Mbak Badariyah Fayumi memang oke banget, tapi lebih dari itu adalah para peserta dari seluruh Indonesia yang luar biasa yang terlihat antara lain dari pertanyaan-pertanyaan kri tis mereka di forum. Juga ketika seorang pembicara masih menyatakan kalimat-kalimat yang cenderung konservatif (misalnya: memang laki-laki sudah dari sananya begitu), respon khalayak cepat menunjukkan protes. Begitu tanggap dan ''advance'', pikir saya. Sungguh membahagiakan melihat para peserta dari seluruh Indonesia ini yang saya bayangkan merupakan motor gerakan di wilayahnya masing-masing.


Di tengah kecenderungan meningkatnya radikalisme Islam akhir-akhir ini, KUPI menjadi oase yang begitu menyegarkan. Dan sekali lagi, membanggakan.  Kita masih punya harapan.
Di tengah kecenderungan meningkatnya radikalisme Islam akhir-akhir ini, KUPI menjadi oase yang begitu menyegarkan. Dan sekali lagi, membanggakan.  Kita masih punya harapan.




Menu navigasi