15.259
suntingan
| Baris 1: | Baris 1: | ||
Indonesia kembali mengukir sejarah ketika untuk pertama kalinya Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) diselenggarakan. Ini adalah yang pertama di dunia, menunjukkan betapa majunya pemikiran Islam dan gerakan perempuan di Indonesia. Acara ini diselenggarakan ALIMAT, FAHMINA dan RAHIMA (ALFARA), bekerjasama dengan [[Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy]] Babakan Ciwaringin, Cirebon Jawa Barat. Tak kalah istimewanya adalah acara ini juga didukung oleh Kementerian Agama, bahkan ditutup secara resmi oleh Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin. | Indonesia kembali mengukir sejarah ketika untuk pertama kalinya Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) diselenggarakan. Ini adalah yang pertama di dunia, menunjukkan betapa majunya pemikiran Islam dan gerakan perempuan di Indonesia. Acara ini diselenggarakan ALIMAT, FAHMINA dan RAHIMA (ALFARA), bekerjasama dengan [[Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy]] Babakan Ciwaringin, Cirebon Jawa Barat. Tak kalah istimewanya adalah acara ini juga didukung oleh Kementerian Agama, bahkan ditutup secara resmi oleh Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin. | ||
“Kalau di Malaysia itu tidak mungkin terjadi, pemerintah tidak akan mengijinkan,” ujar Zaenah Anwar, pembicara dari Malaysia. “Itulah kenapa Islam Indonesia adalah contoh yang luar biasa untuk dunia. ''But Indonesia is always too modest'', malah saya yang selalu mempromosikan Indonesia kepada dunia,” lanjut Zaenah. Saya jadi ingat, Majalah TIME juga pernah mengomentari Indonesia yang ''too inward looking'', sehingga dunia kerap tak tahu betapa besarnya Indonesia. | “Kalau di Malaysia itu tidak mungkin terjadi, pemerintah tidak akan mengijinkan,” ujar Zaenah Anwar, pembicara dari Malaysia. “Itulah kenapa Islam Indonesia adalah contoh yang luar biasa untuk dunia. ''But Indonesia is always too modest'', malah saya yang selalu mempromosikan Indonesia kepada dunia,” lanjut Zaenah. Saya jadi ingat, Majalah TIME juga pernah mengomentari Indonesia yang ''too inward looking'', sehingga dunia kerap tak tahu betapa besarnya Indonesia. | ||
Zaenah pendiri Sisters in Islam (SIS) adalah satu dari puluhan pembicara keren pada acara KUPI di Cirebon, 25-27 April 2017. Pembicara lainnya ada yang berasal dari Cirebon, Yogyakarta, Jakarta, sementara dari luar negeri berasal dari Kenya, Afganistan, Nigeria, USA, dan masih banyak lagi. Peserta yang hadir pun sama kerennya, yaitu ulama, aktivis, intelektual, akademisi yang berjumlah lebih dari 575 orang. Semua disatukan oleh tujuan dan kepedulian yang sama yaitu dunia yang lebih adil untuk perempuan. Saya datang sebagai pengamat bersama sekitar 182 orang lainnya. | Zaenah pendiri Sisters in Islam (SIS) adalah satu dari puluhan pembicara keren pada acara KUPI di Cirebon, 25-27 April 2017. Pembicara lainnya ada yang berasal dari Cirebon, Yogyakarta, Jakarta, sementara dari luar negeri berasal dari Kenya, Afganistan, Nigeria, USA, dan masih banyak lagi. Peserta yang hadir pun sama kerennya, yaitu ulama, aktivis, intelektual, akademisi yang berjumlah lebih dari 575 orang. Semua disatukan oleh tujuan dan kepedulian yang sama yaitu dunia yang lebih adil untuk perempuan. Saya datang sebagai pengamat bersama sekitar 182 orang lainnya. | ||
Lebih dari 80% peserta yang hadir memang perempuan, tapi sebetulnya kongres ini bukanlah khusus untuk peserta perempuan. Kata ‘Ulama Perempuan’ berbeda dari ‘Perempuan Ulama’. Perempuan Ulama menunjukkan perempuan yang menjadi ulama, sama dengan perempuan pengusaha, atau perempuan penulis. Sementara Ulama Perempuan menunjukkan fokus, kajian, dan yang terpenting perspektif dari ulama tersebut yang selalu memperhatikan keadilan untuk perempuan dan kelompok minoritas. Dengan penjelasan ini mudah dimengerti bahwa Ulama Perempuan tidak harus berjenis kelamin perempuan. Sementara Perempuan Ulama bisa saja tidak memiliki perspektif yang adil terhadap perempuan. Kira-kira demikian. | Lebih dari 80% peserta yang hadir memang perempuan, tapi sebetulnya kongres ini bukanlah khusus untuk peserta perempuan. Kata ‘Ulama Perempuan’ berbeda dari ‘Perempuan Ulama’. Perempuan Ulama menunjukkan perempuan yang menjadi ulama, sama dengan perempuan pengusaha, atau perempuan penulis. Sementara Ulama Perempuan menunjukkan fokus, kajian, dan yang terpenting perspektif dari ulama tersebut yang selalu memperhatikan keadilan untuk perempuan dan kelompok minoritas. Dengan penjelasan ini mudah dimengerti bahwa Ulama Perempuan tidak harus berjenis kelamin perempuan. Sementara Perempuan Ulama bisa saja tidak memiliki perspektif yang adil terhadap perempuan. Kira-kira demikian. | ||
Ada tiga bahasan utama yang ditetapkan di kongres, yaitu tentang kekerasan seksual, pernikahan anak, dan perusakan lingkungan. “Kami sengaja memilih topik yang memang sedang aktual, misalnya karena sedang diproses RUU-nya atau ada kasus yang belum lama terjadi seperti semen Kendeng,” ujar Kyai Husein Muhammad pendiri Yayasan [[Fahmina]], salah satu penyelenggara perhelatan ini. Namun di forum berbagai isu dan perdebatan menarik lainnya pun muncul seperti isu poligami, radikalisme, jilbab, dan masih banyak lagi. | Ada tiga bahasan utama yang ditetapkan di kongres, yaitu tentang kekerasan seksual, pernikahan anak, dan perusakan lingkungan. “Kami sengaja memilih topik yang memang sedang aktual, misalnya karena sedang diproses RUU-nya atau ada kasus yang belum lama terjadi seperti semen Kendeng,” ujar Kyai Husein Muhammad pendiri Yayasan [[Fahmina]], salah satu penyelenggara perhelatan ini. Namun di forum berbagai isu dan perdebatan menarik lainnya pun muncul seperti isu poligami, radikalisme, jilbab, dan masih banyak lagi. | ||
Banyak memang isu menarik yang dibicarakan di KUPI dan berbagai beritanya juga sudah tersebar di media. Semoga catatan saya bisa melengkapi berita yang ada. Dalam catatan sekadarnya ini, saya ingin menyoroti tiga hal yang semoga bisa menjadi masukan bagi kalangan Islam moderat atau semua orang yang peduli akan Indonesia yang beragam dan lebih adil. | Banyak memang isu menarik yang dibicarakan di KUPI dan berbagai beritanya juga sudah tersebar di media. Semoga catatan saya bisa melengkapi berita yang ada. Dalam catatan sekadarnya ini, saya ingin menyoroti tiga hal yang semoga bisa menjadi masukan bagi kalangan Islam moderat atau semua orang yang peduli akan Indonesia yang beragam dan lebih adil. | ||
#Pentingnya masuk ke [[komunitas]]-komunitas Masjid. | #Pentingnya masuk ke [[komunitas]]-komunitas Masjid. | ||
#Perbanyak konten Islam di media online, yang mendasar, mudah diakses dan mempromosikan Islam yang moderat. | #Perbanyak konten Islam di media online, yang mendasar, mudah diakses dan mempromosikan Islam yang moderat. | ||
#Bagi media, lebih sering memilih narasumber dari kalangan ulama perempuan atau pemikir Islam yang progresif. | #Bagi media, lebih sering memilih narasumber dari kalangan ulama perempuan atau pemikir Islam yang progresif. | ||
Ok, mulai dari poin pertama. Perwakilan dari Kemenag ketika berpidato di Seminar Internasional IAIN Syekh Nurjati menyitir suatu hasil penelitian yang dilakukan Kemenag yaitu pengajian, majelis taklim dan ceramah agama di Masjid-Masjid itu adalah sumber pengetahuan yang penting dan dipercaya umat. Ini sangat masuk akal karena sifat pengajian yang guyub. Kalau melihat yang terjadi menjelang pilkada DKI lalu, terlihat bahwa anjuran memilih pemimpin Muslim di khutbah Jumat dan pengajian-pengajian ternyata sangat efektif. Saya mengamati Ibu saya yang sudah 30 tahun ikut pengajian di masjid dekat rumah kami. Bagaimana setiap minggu Ibu saya bertugas menghubungi guru mengaji mereka, yang rata-rata adalah figur yang memang sudah tinggal bertahun bahkan puluhan tahun dan dihormati di lingkungan kami. Mereka ini unggul di konsistensi. Kelompok pengajian Ibu-Ibu ini terdiri dari 20-30 orang, kadang bisa lebih banyak. Selalu ada ibu-ibu muda yang baru bergabung. Dan mereka tentu memiliki keluarga dan teman lain dimana mereka memiliki lingkaran pengaruh. | |||
Ok, mulai dari poin pertama. Perwakilan dari Kemenag ketika berpidato di Seminar Internasional IAIN Syekh Nurjati menyitir suatu hasil penelitian yang dilakukan Kemenag yaitu pengajian, majelis taklim dan ceramah agama di Masjid-Masjid itu adalah sumber pengetahuan yang penting dan dipercaya umat. Ini sangat masuk akal karena sifat pengajian yang guyub. Kalau melihat yang terjadi menjelang pilkada DKI lalu, terlihat bahwa anjuran memilih pemimpin Muslim di khutbah Jumat dan pengajian-pengajian ternyata sangat efektif. Saya mengamati Ibu saya yang sudah 30 tahun ikut pengajian di masjid dekat rumah kami. Bagaimana setiap minggu Ibu saya bertugas menghubungi guru mengaji mereka, yang rata-rata adalah figur yang memang sudah tinggal bertahun bahkan puluhan tahun dan dihormati di lingkungan kami. Mereka ini unggul di konsistensi. Kelompok pengajian Ibu-Ibu ini terdiri dari 20-30 orang, kadang bisa lebih banyak. Selalu ada ibu-ibu muda yang baru bergabung. Dan mereka tentu memiliki keluarga dan teman lain dimana mereka memiliki lingkaran pengaruh. | |||
Ada faktor kedekatan yang terbangun di antara kelompok pengajian tersebut dengan guru yang mengajar. Kedekatan menimbulkan kepercayaan lebih. Seringkali orang bisa bergabung dengan suatu kelompok pemikiran tak ada hubungannya dengan ideologi, tapi semata adalah hasrat dasar manusia untuk memiliki teman, diperhatikan dan memperhatikan, diterima dan menerima sebagai manusia yang berharga. | Ada faktor kedekatan yang terbangun di antara kelompok pengajian tersebut dengan guru yang mengajar. Kedekatan menimbulkan kepercayaan lebih. Seringkali orang bisa bergabung dengan suatu kelompok pemikiran tak ada hubungannya dengan ideologi, tapi semata adalah hasrat dasar manusia untuk memiliki teman, diperhatikan dan memperhatikan, diterima dan menerima sebagai manusia yang berharga. | ||