Makna Ulama Perempuan: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
19 bita ditambahkan ,  18 Agustus 2021 22.53
tidak ada ringkasan suntingan
(Created page with "''Oleh: Faqihuddin Abdul Kodir'' ''(Wakil Ketua Yayasan Fahmina, Sekretaris KUPI)'' Ulama Perempuan adalah kata majemuk. Terdiri dari dua kata: “ulama” dan “perempuan...")
 
Baris 1: Baris 1:
''Oleh: Faqihuddin Abdul Kodir''
[[Ulama Perempuan]] adalah kata majemuk. Terdiri dari dua kata: “ulama” dan “perempuan”.  Kata “ulama” sudah disebutkan dalam al-Qur’an dan beberapa teks Hadits. Secara bahasa, kata “ulama” merupakan bentuk jamak dari kata “''’aliim''” yang berarti orang yang tahu atau sangat berilmu, tanpa batasan disiplin ilmu tertentu. Ia juga tidak terbatas pada gender tertentu. Secara sosial, terminologi ”ulama” sering dilekatkan kepada [[tokoh]] atau pemuka agama yang bisa memahami sumber-sumber Islam secara baik, berperilaku mulia, dan membimbing umat dalam kehidupan mereka sehari-hari.
 
''(Wakil Ketua Yayasan Fahmina, Sekretaris KUPI)''
 
Ulama Perempuan adalah kata majemuk. Terdiri dari dua kata: “ulama” dan “perempuan”.  Kata “ulama” sudah disebutkan dalam al-Qur’an dan beberapa teks Hadits. Secara bahasa, kata “ulama” merupakan bentuk jamak dari kata “''’aliim''” yang berarti orang yang tahu atau sangat berilmu, tanpa batasan disiplin ilmu tertentu. Ia juga tidak terbatas pada gender tertentu. Secara sosial, terminologi ”ulama” sering dilekatkan kepada tokoh atau pemuka agama yang bisa memahami sumber-sumber Islam secara baik, berperilaku mulia, dan membimbing umat dalam kehidupan mereka sehari-hari.  


Al-Qur’an menyebut kata “’''aliim''” (bentuk tunggal) sebanyak 13 kali (9:105, 13:9, 32:6, 33:92, 34:3, 35:38, 39:46, 59:22, 62:8, 18:64, dan 72:26). Semuanya mengenai sifat Allah SWT, Yang Maha Tahu dalam segala hal, baik yang terlihat maupun gaib. Sementara kata “ulama” sendiri hanya disebut sekali dalam Surat Fathir (35:28). Ayat ini berbicara mengenai karakter dasar “ulama” yang harusnya berintegritas tinggi karena hanya takut pada Allah SWT. Kata lain yang masih dari akar yang sama adalah “''ulul ’ilmi''” (orang yang berilmu), terdapat dalam surat Ali Imran (3:18), mengenai tugas utama ulama untuk menegakkan keadilan. Al-Qur’an juga menyebut beberapa kata lain yang memiliki makna yang sama dengan ''ulul ‘ilmi'', yakni  “''ulul abshaar''”    
Al-Qur’an menyebut kata “’''aliim''” (bentuk tunggal) sebanyak 13 kali (9:105, 13:9, 32:6, 33:92, 34:3, 35:38, 39:46, 59:22, 62:8, 18:64, dan 72:26). Semuanya mengenai sifat Allah SWT, Yang Maha Tahu dalam segala hal, baik yang terlihat maupun gaib. Sementara kata “ulama” sendiri hanya disebut sekali dalam Surat Fathir (35:28). Ayat ini berbicara mengenai karakter dasar “ulama” yang harusnya berintegritas tinggi karena hanya takut pada Allah SWT. Kata lain yang masih dari akar yang sama adalah “''ulul ’ilmi''” (orang yang berilmu), terdapat dalam surat Ali Imran (3:18), mengenai tugas utama ulama untuk menegakkan keadilan. Al-Qur’an juga menyebut beberapa kata lain yang memiliki makna yang sama dengan ''ulul ‘ilmi'', yakni  “''ulul abshaar''”    
Baris 26: Baris 22:




''(Ditulis dari hasil mudzakarah di Pesantren Mahasina Bekasi, 31 Januari 2017, dihadiri KH Husein Muhammad, Badriyah Fayyumi, Faqihuddin Abdul Kodir, Nur Rofiah, dan Marzuki Wahid).''
''(Ditulis dari hasil mudzakarah di Pesantren Mahasina Bekasi, 31 Januari 2017, dihadiri KH Husein Muhammad, Badriyah Fayyumi, [[Faqihuddin Abdul Kodir]], Nur Rofiah, dan Marzuki Wahid).''
 
'''Penulis: Faqihuddin Abdul Kodir'''
 
''(Wakil Ketua Yayasan [[Fahmina]], Sekretaris KUPI)''
[[Category:Diskursus]]
[[Category:Diskursus]]

Menu navigasi