Istibsjaroh

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Istibsjaroh
Istibsjaroh.jpeg
Tempat, Tgl. LahirJombang, 19 September 1955
Aktivitas Utama
  • Dosen Pascasarjana IAIN Sunan Ampal Surabaya (Sekarang)
  • Guru Gesar Ilmu Tafsir pada IAIN Sunan Ampel Surabaya (2004- Sekarang)
Karya Utama
  • Penulis buku “Hak-Hak Perempuan Relasi Gender” (2004),
  • Pebulis buku “Poligami Dalam Cita dan Fakta” (2004)
  • Penulis buku “Aborsi dan Hak-Hak Reproduksi Dalam Islam” (2012)

Istibsjaroh lahir di Jombang pada 19 September 1955. Ia adalah salah satu ulama, akademisi, dan politisi yang mempunyai segudang pengalaman dan pengabdian kepada masyarakat. Ia merupakan Dosen dan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya dan penulis berbagai buku tentang relasi gender. Disertasinya mengangkat konsep relasi gender dalam Tafsir Al-Sya’rawi.

Istibsjaroh hadir sebagai peserta pada Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) 2017 di Pesantren Kebon Jambu, Cirebon.

Riwayat Hidup

Bersama suami, KH Zaimuddin Badrus Sholeh, Nyai Istibsjaroh mengasuh Pesantren Al-Hikmah Purwoasri Kediri, Jawa Timur. Guru Besar Ilmu Tafsir pada Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya ini memiliki enam orang anak, yakni A`in Ainul Ghurroh, I`ik Atiyatul Husna, Hamidah 'Izzatul Laili, Diyah Halimatus Sa`diyah, Tata Taqiyatuz Zahroh, dan Muhammad Dzu `Izzin. Menantunya yakni M. Arja `Imroni, Bisri Musthofa, dan A. Qisa`i.

Istibsjaroh mengawali pendidikan di Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Bulurejo Diwek Jombang (1965). Selepas itu ia melanjutkan ke Mu’allimat VI Tahun Cukir Jombang (1971), kemudian, Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng Jombang (BA.) (1974). Pendidikan Strata 1 ia selesaikan di dua universitas, yakni Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang (1976) dan Fakultas Hukum Universitas Darul Ulum (UNDAR) Jombang (1997). Dilanjutkan dengan S2 Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya (2000) dan S3 di program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2004).

Tokoh dan Keulamaan Perempuan

Ulama perempuan ini sudah melanglang buana. Karya-karyanya juga menjadi rujukan banyak orang. Perempuan dengan gelar lengkap Prof. Dr. Dra. Hj. Istibsjaroh, B.A., S.H, M.A. ini pada 2017 pernah menggegerkan khalayak saat mengunjungi Presiden Israel, Reuven Rivlin. Padahal pada saat itu, Ibtibsjaroh menjabat Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pertemuan itu diketahui atas prakarsa Dewan Hubungan Australia/Israel dan Yahudi (AIJAC). MUI secara kelembagaan pun membantah Istibsjaroh mewakili lembaga dalam kunjungan ke Israel.

Istibsjaroh mengawali karir pengabdiannya sebagai Guru MI Seblak Jombang (1971-1975), Guru Madrasah Tsanawiyah Bulurejo Jombang (1975-1979), dan Guru Madrasah Aliyah Negeri Purwoasri Kediri (1979-1991). Pada tahap berikutnya, ia terjun ke dunia politik praktis dan pada 1992 ia terpilih menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kediri Komisi E. Amanat itu ia selesaikan hingga 1997. Pada periode berikutnya ia kembali dipercaya menjadi Anggota DPRD Kab. Kediri hingga 1999. Sepuluh tahun kemudian ia terpilih sebagai Anggota DPD RI, MPR RI periode 2009-2014.

Meskipun sibuk dalam dunia politik, Istibsjaroh tidak bisa meninggalkan dunia pendidikan begitu saja. Sejak 1999, ia menjadi dosen di Fakultas Syari`ah IAIN Sunan Ampel Surabaya (1999-2009). Juli 2005 ia menjadi guru besar Ilmu Tafsir di kampus yang sekarang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel. Ia juga mengajar di Pascasarjana kampus tersebut.

Selain dalam dunia pendidikan dan politik, Istibsjaroh juga tercatat aktif di berbagai lembaga. Di antaranya yakni sebagai Ketua Forum Muballighah Peduli Perempuan dan Anak (FMP2A) Provinsi. Jatim; Wakil ketua PSG/PSW PTAI-PTAIS Se-Jatim; Penasihat Pusat Studi Gender (PSG) IAIN Sunan Ampel Surabaya; Wakil Ketua PW LP Ma`arif NU Jawa Timur; Wakil Ketua  Muslimat NU Wilayah Jawa Timur; Dewan Pakar Muslimat NU cabang Surabaya; Dewan Pakar Muslimat NU cabang Kabupaten Kediri; Wakil Ketua Ikatan Alumni Sunan Ampel/IKASA; Penasihat IQMA IAIN Sunan Ampel; Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah al-Qur’an (LPTQ) Prop. Jatim; Penasihat Jama’iyyatul Qurra’ wal Huffadz Wilayah Prov. Jatim; Sekertaris Ikatan Qori, Qori’ah, Hafiz, Hafizah (IPQAH) Prov. Jatim; Penasihat Ikatan Qori, Qori’ah, Hafiz, Hafizah (IPQAH) Pusat; Dewan Pakar Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) Prov. Jatim; Ketua Forum Komunikasi Perempuan Lintas Agama (FKPLA) Jawa Timur; Pengasuh Pondok Pesantren al-Hikmah Purwoasri Kediri; dan Ketua STIT al-Urwatul Wutsqo Bulurejo Diwek Jombang.

Untuk mengetahui salah satu pemikiran dan kiprah dari Istibsjaroh, bisa dilihat misalnya dari salah satu pandangannya yang cukup dikenal, yakni tentang aborsi dalam perspektif Islam. Dalam bukunya Menimbang Hukum Pornografi, Pornoaksi dan Aborsi Dalam Perspektif Islam, ia menyebutkan bahwa banyak alasan perempuan melakukan aborsi. Alasan tersebut ialah:

Pertama, pada perempuan yang belum atau tidak menikah, alasan melakukan aborsi di antaranya karena masih berusia remaja, pacar tidak mau bertanggung jawab, takut pada orang tua, berstatus janda yang hamil di luar nikah, dan berstatus sebagai simpanan seseorang dan dilarang hamil oleh pasangannya. Kedua, pada perempuan yang sudah menikah, alasannya antara lain karena kegagalan alat kontrasepsi, jarak kelahiran yang terlalu rapat, jumlah anak yang terlalu banyak, terlalu tua untuk melahirkan, faktor sosial ekonomi [tidak sanggup lagi membiayai anak-anaknya dan khawatir masa depan anak tidak terjamin], alasan medis, sedang dalam proses perceraian dengan suami, atau karena berstatus sebagai isteri kedua dan suaminya tidak menginginkan kehadiran anak dari dia.

Istibsjaroh sendiri berpandangan bahwa dari perspektif agama-agama samawai, khususnya Islam, aborsi pada dasarnya adalah tindakan yang dilarang. Namun demikian, Islam mempunyai corak hukum yang lebih fleksibel, sehingga banyak variable yang dipertimbangkan dalam proses penentuan hukum aborsi. Menurutnya, melihat perdebatan yang terjadi, baik dalam Islam maupun dalam hukum positif, tampak bahwa dasar pelarangan aborsi adalah penghormatan kepada kehidupan, khususnya kepada yang bernyawa. Berbagai perangkat hukum, termasuk sanksi-sanksi hukum dirumuskan untuk melindungi kehidupan makhluk bernyawa yang bernama janin. Sayangnya sampai kini persoalan kapan kehidupan dimulai masih menjadi sesuatu yang diperdebatkan oleh para ahli, baik dari kalangan agama maupun medis.

Baginya, nilai-nilai moral yang mendasari seluruh bangunan hukum tentang aborsi, baik hukum agama maupun hukum negara, ternyata mengalami kesulitan penerapan dan perbenturan di tingkat lapangan. Sekalipun secara moral-ideal dan legal-formal aborsi dilarang, toh praktik aborsi menunjukkan angka yang cukup tinggi. Aborsi juga signifikan menyumbang angka kematian ibu akibat proses reproduksi yang tidak aman. Ini semua menunjukkan bahwa pendekatan terhadap masalah aborsi semata-mata dari sudut moral dan hukum tidak cukup.

Ia juga malihat baik hukum positif maupun, terutama, fiqh Islam tidak memasukkan agenda hak-hak reproduksi perempuan, dalam hal ini hak untuk memutuskan hamil atau tidak dan hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi yang amandalam konsideran hukumnya. Dalam kasus tertentu bahkan hak perempuan ini dinafikan sama sekali. Oleh karen itu, bisa dimengerti jika suara yang menginginkan diberikannya hak ini kepada perempuan kian hari kian nyaring terdengar.

Di tengah dilema antara nilai moral dan tuntutan kebebasan perempuan untuk menjalankan hak-hak reproduksinya [pro-choice] seperti yang terjadi sekarang, sudah saatnya agama Islam menyatakan pendirian yang tegas dengan segala konsekuensinya. Bila pilihan “pro-life” merupakan pilihan terbaik, atau bahkan satu-satunya, maka Islam juga perlu mempersiapkan berbagai perangkat yang mendukung tersosialisasikannya pilihan itu di tengah masyarakat. Misalnya, menyiapkan sikap mental dan sosial masyarakat agar tidak mau melakukan aborsi, mensosialisasikan sikap bisa menerima anak yang lahir dari kehamilan yang tidak dikehendaki, dan membuat sistem sosial yang siap dengan segala resiko pilihan sikap “pro-life”. Agama dan hukum tidak boleh ambigu, sebab ambiguitas seperti ini terbukti tidak menyelesaikan persoalan.

Mempertimbangkan itu semua, Istibsjaroh berpandangan bahwa aborsi yang dilakukan oleh pasangan yang di luar nikah dalam Islam menurut pendapat para Imam adalah "haram mutlak". Sementara itu dalam kasus yang sudah pasangan yang sudah menikah hukum yang berlaku adalah "kondisional" dalam artian tergantung situasi yang berlaku tersebut.

Karya-karya

  • Peranan Pendidikan Membaca Al-Qur’an pada Anak-Anak Bagi Pembinaan Akhlak di Kecamatan Diwek Kab. Jombang, (Skripsi Fak.Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang 1979).
  • Peningkatan Kemampuan Pendapatan Asli Daerah Kab.Kediri (PAD) Dalam Rangka Pembangaunan Daerah (Skripsi UNDAR Jombang,1998).
  • Problematika Pembiayaan Pendidikan Islam (Studi Kasus Kab.Kediri), Tesis Program Magister IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2000).
  • Konsep Relasi Gender dalam Tafsir Al-Sya’rawi (Disertasi Program Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2004).
  • Tafsir Ayat-Ayat Ahkam (Diktat Kuliah).
  • Ilmu Hukum (Diktat Kuliah).
  • Analisis Hukum Islam terhadap Batas Usia Perkawinan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 (penelitian individual).
  • Gender Dalam Islam Perspektif al-Qur’an dan Hadits (Penelitian Individual)
  • Buku ”Hak-Hak Perempuan Relasi Gender” (Jakarta, Teraju Mizan, 2004)
  • Buku “Poligami Dalam Cita dan Fakta” (Jakarta: Blantika Mizan, 2004)
  • Kontributor Buku Perempuan dalam Perspektif dan Aksi, (Surabya, IAIN Pres & Sinar Jaya, 2006).
  • Buku ”Aborsi dan Hak-Hak Reproduksi Dalam Islam” (Yogyakarta, LKiS, 2012)
  • Buku ”Menimbang Hukum P0rn0grafi, P0rn0aksi” (proses terbit)
  • Tulisan lainnya dalam berbagai jurnal baik yang sudah terakreditasi maupun yang belum terakreditasi.

Penghargaan

  • Menteri Agama R.I. Juara II MTQ Nasional Tingkat Remaja tahun 1972.
  • Menteri Agama R.I. Hakim Nasional MHQ 10 dan 20 juz Tahun 2001 di Jakarta.
  • Menteri Agama R.I. Hakim Nasional Tafsir al-Qur’an Bahasa Indonesia tahun 2002 di Mataram.
  • Menteri Agama R.I. Hakim Nasional Tafsir al-Qur’an Bahasa Indonesia dan MHQ 30 juz tahun 2003 di Palangkaraya.
  • Menteri Agama R.I. Hakim Nasional Tafsir al-Qur’an Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris tahun 2004 di Bengkulu.
  • Menteri Agama R.I. Hakim Nasional Bidang Tilawah tahun 2005 di Gorontalo.
  • Presiden R.I. Satya Lencana Karya Satya 30 Tahun.
  • Wisudawati Terbaik S-3 (Commeloude) tahun 2004 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • Woman International Award tahun 2011.
  • Best Mother Award tahun 2012.
  • Indonesian Most Popular tahun 2012
  • Woman Of The Year 2018 dari Indonesian Human Resources Development Program Foundation (IHRDP Foundation), Jakarta.

Daftar bacaan lanjutan


Penulis : Abdul Rosyidi
Editor : Nor Ismah
Reviewer : Faqihuddin Abdul Kodir