Siti Syamsiyatun: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
17 bita ditambahkan ,  20 Januari 2022 21.48
tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox person|name=Dra. Siti Syamsiyatun, M.A, Ph.D|birth_date=|image=Berkas:Syamsiyatun.jpeg|imagesize=220px|known for=*Pergolakan Putri Islam: Dinamika Wacana Jender di Nasyiatul Aisyiyah Agama, (2016)
{{Infobox person|name=Dra. Siti Syamsiyatun, M.A, Ph.D|birth_date=|image=Berkas:Syamsiyatun.jpeg|imagesize=220px|known for=*Pergolakan Putri Islam: Dinamika Wacana Jender di Nasyiatul Aisyiyah Agama, (2016)
*Conflict and Islah Strategi of Muslim Women Organization: Case Study of ‘Aisyiyah in Intra and Inter-Organizational Divergence” in Aljami’ah Journal of Islamic Studies (2020). Link https://aljamiah.or.d/index.php/AJIS/article/view/58204|occupation=*Dosen UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta}}'''Siti Syamsiyatun, MA, Ph.D''' adalah dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur ICRS (Indonesian Consortium for Religious Studies), sebuah konsorsium yang didirikan oleh UIN Sunan kalijaga, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Kristen Dutawacana, pada tahun 2010-2019.  
*Conflict and Islah Strategi of Muslim Women Organization: Case Study of ‘Aisyiyah in Intra and Inter- Organizational Divergence” in Aljami’ah Journal of Islamic Studies (2020). Link [[https://aljamiah.or.d/index.php/AJIS/article/view/58204]]|occupation=*Dosen UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta}}'''Siti Syamsiyatun, MA, Ph.D''' adalah dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur ICRS (Indonesian Consortium for Religious Studies), sebuah konsorsium yang didirikan oleh UIN Sunan kalijaga, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Kristen Dutawacana, pada tahun 2010-2019.  


Syamsiyatun ikut hadir dalam perhelatan Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) tahun 2017. Menurutnya, KUPI menjadi wadah bagi banyak ulama yang memberikan perhatian pada soal kesetaraan gender, tanpa memandang ulama itu perempuan atau laki-laki. Ulama perempuan harus tetap konsisten dan eksis memperhatikan isu perempuan dan keulamaan. Sebutan ulama mestinya tidak hanya disematkan kepada mereka yang memiliki pesantren, tetapi juga untuk mereka yang menghasilkan karya-karya keilmuan dan keislaman dan memberi manfaat untuk masyarakat luas.  
Syamsiyatun ikut hadir dalam perhelatan Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) tahun 2017. Menurutnya, KUPI menjadi wadah bagi banyak ulama yang memberikan perhatian pada soal kesetaraan gender, tanpa memandang ulama itu perempuan atau laki-laki. Ulama perempuan harus tetap konsisten dan eksis memperhatikan isu perempuan dan keulamaan. Sebutan ulama mestinya tidak hanya disematkan kepada mereka yang memiliki pesantren, tetapi juga untuk mereka yang menghasilkan karya-karya keilmuan dan keislaman dan memberi manfaat untuk masyarakat luas.  
Baris 11: Baris 11:
Keluarga ayahanda Syamsiyatun juga termasuk keluarga yang memperhatikan pendidikan. Ayahnya menghabiskan masa mudanya dengan menimba ilmu di berbagai pesantren, yaitu di pesantren Wonokromo, Bantul, di pesantren Wakucongol, Muntilan, dan di pesantren Tremas di Pacitan. Pada saat nyantri di Tremas Pacitan itu, ia satu angkatan dengan Prof. Dr. H. Mukti Ali, yang pernah menjadi Menteri Agama pada era awal pemerintahan Presiden Suharto.  
Keluarga ayahanda Syamsiyatun juga termasuk keluarga yang memperhatikan pendidikan. Ayahnya menghabiskan masa mudanya dengan menimba ilmu di berbagai pesantren, yaitu di pesantren Wonokromo, Bantul, di pesantren Wakucongol, Muntilan, dan di pesantren Tremas di Pacitan. Pada saat nyantri di Tremas Pacitan itu, ia satu angkatan dengan Prof. Dr. H. Mukti Ali, yang pernah menjadi Menteri Agama pada era awal pemerintahan Presiden Suharto.  


Kedua orangtua Syamsiyatun hidup dari dua kultur keagamaan yang beragam, Islam yang melembaga secara tradisi dan kultur Islam yang bercorak Muhammadiyah. Kakeknya dari garis ibu merupakan perintis Muhammadiyah di Kotagede, dan anak-anaknya menjadi penerus di gerakan Muhammadiyah. Ayah Syamsiyatun berlatar belakang pesantren salaf sehingga lekat dengan tradisi Nahdhatul Ulama. Tidak mengurangi rasa takzim terhadap tradisi itu, setelah selesai belajar di Tremas, ayahanda Syamsiyatun kemudian merasa lebih cocok dengan tradisi Muhammadiyah.
Kedua orangtua Syamsiyatun hidup dari dua kultur keagamaan yang beragam, Islam yang melembaga secara [[tradisi]] dan kultur Islam yang bercorak Muhammadiyah. Kakeknya dari garis ibu merupakan perintis Muhammadiyah di Kotagede, dan anak-anaknya menjadi penerus di gerakan Muhammadiyah. Ayah Syamsiyatun berlatar belakang pesantren salaf sehingga lekat dengan tradisi Nahdhatul Ulama. Tidak mengurangi rasa takzim terhadap tradisi itu, setelah selesai belajar di Tremas, ayahanda Syamsiyatun kemudian merasa lebih cocok dengan tradisi Muhammadiyah.


Dengan latar belakang pendidikan dan tradisi keislaman tersebut, orangtuanya memberikan pendidikan yang beragam pula kepada Syamsiyatun. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar Muhammadiyah Bodon di Kotagede. Ia memiliki ingatan yang indah tentang Sekolah Dasarnya, meskipun saat itu sebagian kelas-kelasnya masih beralaskan tanah, dengan bangunan yang sederhana. Tetapi, situasi kelas dan relasi dengan gurunya sangat menyenangkan. Setamat SD, ia dikirim untuk belajar di pesantren Pabelan di Muntilan. Kakak-kakaknya yang laki-laki sudah dikirim belajar ke Pesantren Gontor, Ponorogo, dan sebagian kakaknya yang puteri melanjutkan di Madrasah Muallimat Muhammadiyah.  
Dengan latar belakang pendidikan dan tradisi keislaman tersebut, orangtuanya memberikan pendidikan yang beragam pula kepada Syamsiyatun. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar Muhammadiyah Bodon di Kotagede. Ia memiliki ingatan yang indah tentang Sekolah Dasarnya, meskipun saat itu sebagian kelas-kelasnya masih beralaskan tanah, dengan bangunan yang sederhana. Tetapi, situasi kelas dan relasi dengan gurunya sangat menyenangkan. Setamat SD, ia dikirim untuk belajar di pesantren Pabelan di Muntilan. Kakak-kakaknya yang laki-laki sudah dikirim belajar ke Pesantren Gontor, Ponorogo, dan sebagian kakaknya yang puteri melanjutkan di Madrasah Muallimat Muhammadiyah.  
Baris 31: Baris 31:
Pada tahun 1998 setelah lulus S2 dari McGill, selain mengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, ia juga menjadi dosen tamu di UMY dan di UII kelas internasional. Pada saat Syamsiyatun meminta izin kepada Rektor untuk langsung melanjutkan pendidikan doktor, oleh Rektor diminta untuk mengabdi dahulu beberapa tahun, “Mengabdi dululah di kampus, karena PNS kamu kan dari Kemenag pusat, khawatir ada kecemburuan dengan yang lain.” Setelah mengabdi tiga tahun setengah di UIN Yogyakarta, pada tahun 2002 Syamsiyatun melanjutkan doktoral di Monash University, Australia.  
Pada tahun 1998 setelah lulus S2 dari McGill, selain mengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, ia juga menjadi dosen tamu di UMY dan di UII kelas internasional. Pada saat Syamsiyatun meminta izin kepada Rektor untuk langsung melanjutkan pendidikan doktor, oleh Rektor diminta untuk mengabdi dahulu beberapa tahun, “Mengabdi dululah di kampus, karena PNS kamu kan dari Kemenag pusat, khawatir ada kecemburuan dengan yang lain.” Setelah mengabdi tiga tahun setengah di UIN Yogyakarta, pada tahun 2002 Syamsiyatun melanjutkan doktoral di Monash University, Australia.  


Pada tahun 2000an McGill University Kanada sebenarnya mengadakan kerjasama dengan Kemenag untuk pendidikan ''social work''. Saat itu Syamsiyatun mencoba peruntungan dengan mendaftar S3 di Canada (McGill University) dan Australia (Monash University), kebetulan kedua-duanya lulus dan diterima. Sebelum menentukan pilihan, ia bermusyawarah dengan suami dan keluarga dari kedua belah pihak. Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya dia memutuskan untuk S3 ke Australia. Pertimbangannya antara lain untuk memperluas jaringan, karena di Canada sudah pernah dan ''winter'' (musim dinginnya) terlalu panjang, jarak Canada yang sangat jauh, juga belum pernah ke Australia.  
Pada tahun 2000an McGill University Kanada sebenarnya mengadakan kerjasama dengan Kemenag untuk pendidikan ''social work''. Saat itu Syamsiyatun mencoba peruntungan dengan mendaftar S3 di Canada (McGill University) dan Australia (Monash University), kebetulan kedua-duanya lulus dan diterima. Sebelum menentukan pilihan, ia bermusyawarah dengan suami dan keluarga dari kedua belah pihak. Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya dia memutuskan untuk S3 ke Australia. Pertimbangannya antara lain untuk memperluas [[jaringan]], karena di Canada sudah pernah dan ''winter'' (musim dinginnya) terlalu panjang, jarak Canada yang sangat jauh, juga belum pernah ke Australia.  


Pada saat mengambil program doktoral di Monash University, di School of Political and Social Inquiry, semula Syamsiyatun hendak meneliti tentang peran PSW (Pusat Studi Wanita) di PTKIN dalam menumbuhkan kesadaran dan sensitivitas kesetaraan gender. Tetapi setelah diskusi dengan supervisor akhirnya berganti topik, meneliti dinamika ideologi keperempuanan di Nasyiatul Aisyiyah tahun 1965-2005. Hal ini karena masih sangat sedikit disertasi yang meneliti tentang organisasi Islam di Indonesia yang sudah berusia satu abad. Karena akses pengumpulan data dapat dilakukan dengan relatif mudah dan cepat, Syamsiyatun dapat menyelesaikan kuliah S3 tepat waktu. Selain ingin selesai kuliah tepat waktu, Syamsiyatun sudah lama menyimpan cita-cita untuk dapat melaksanakan haji pada usia muda. Supervisor Syamsiyatun, Dr. Susan Blackburn, memperbolehkan Syamsiyatun untuk izin beberapa pekan, guna melaksanakan ibadah haji bersama suaminya. Izin ini diberikan oleh supervisor karena ia memandang Syamsiyatun disiplin mengerjakan disertasi, dan masih ada waktu bila ingin pergi haji.
Pada saat mengambil program doktoral di Monash University, di School of Political and Social Inquiry, semula Syamsiyatun hendak meneliti tentang peran PSW (Pusat Studi Wanita) di PTKIN dalam menumbuhkan kesadaran dan sensitivitas kesetaraan gender. Tetapi setelah diskusi dengan supervisor akhirnya berganti topik, meneliti dinamika ideologi keperempuanan di Nasyiatul Aisyiyah tahun 1965-2005. Hal ini karena masih sangat sedikit disertasi yang meneliti tentang organisasi Islam di Indonesia yang sudah berusia satu abad. Karena akses pengumpulan data dapat dilakukan dengan relatif mudah dan cepat, Syamsiyatun dapat menyelesaikan kuliah S3 tepat waktu. Selain ingin selesai kuliah tepat waktu, Syamsiyatun sudah lama menyimpan cita-cita untuk dapat melaksanakan haji pada usia muda. Supervisor Syamsiyatun, Dr. Susan Blackburn, memperbolehkan Syamsiyatun untuk izin beberapa pekan, guna melaksanakan ibadah haji bersama suaminya. Izin ini diberikan oleh supervisor karena ia memandang Syamsiyatun disiplin mengerjakan disertasi, dan masih ada waktu bila ingin pergi haji.
Baris 46: Baris 46:
Fakta bahwa Syamsiyatun dan teman-temannya mengenyam pendidikan tinggi di Barat ternyata berdampak pada saat mereka berbincang tentang kesetaraan gender di hadapan kaum laki-laki. Seringkali mereka mendapatkan penolakan karena stigma bahasa tentang gender, feminisme, dan feminis. Banyak kalangan menolak istilah gender karena dianggap sebagai barang impor dan tidak islami. Oleh karena itu, para sarjana ini perlu berstrategi untuk mencari istilah pengganti yang dapat dimengerti oleh audiens. Maka, pada saat Syamsiyatun mengisi forum atau dakwah, ia lebih banyak menggunakan istilah dalam Bahasa Arab agar dapat dipahami, seperti ''fiqhunnisa'', ''muasyarah bil ma’ruf'', ''ahsanul khuluq'', daripada istilah Barat ''equal relation''. Ternyata dengan menggunakan istilah-istilah berbahasa Arab, ide-ide menjadi lebih mudah diterima masyarakat.  
Fakta bahwa Syamsiyatun dan teman-temannya mengenyam pendidikan tinggi di Barat ternyata berdampak pada saat mereka berbincang tentang kesetaraan gender di hadapan kaum laki-laki. Seringkali mereka mendapatkan penolakan karena stigma bahasa tentang gender, feminisme, dan feminis. Banyak kalangan menolak istilah gender karena dianggap sebagai barang impor dan tidak islami. Oleh karena itu, para sarjana ini perlu berstrategi untuk mencari istilah pengganti yang dapat dimengerti oleh audiens. Maka, pada saat Syamsiyatun mengisi forum atau dakwah, ia lebih banyak menggunakan istilah dalam Bahasa Arab agar dapat dipahami, seperti ''fiqhunnisa'', ''muasyarah bil ma’ruf'', ''ahsanul khuluq'', daripada istilah Barat ''equal relation''. Ternyata dengan menggunakan istilah-istilah berbahasa Arab, ide-ide menjadi lebih mudah diterima masyarakat.  


Strategi lain yang dilakukan oleh orang-orang di PSW UIN Sunan Kalijaga selanjutnya adalah membentuk ''vocal points'' yang terdiri dari sarjana-sarjana perempuan dan laki-laki yang memang memiliki perhatian pada isu gender. PSW UIN Yogyakarta mendapat dukungan yang kuat Prof. [[Hamim Ilyas]] dan Dr. [[Wawan Gunawan]], yang kemudian mereka menjadi mentor persoalan gender terutama di lingkungan Muhammadiyah. Ketika Prof. Amin Abdullah, Prof. Hamim Ilyas dan Dr. Wawan Gunawan berbicara gender di hadapan laki-laki daya resistensinya rendah daripada bila yang berbicara adalah sarjana perempuan seperti Prof. Siti Ruhaini Dzuhayatin, Prof. Alimatul Qibtiyah, dan Syamsiyatun sendiri.  
Strategi lain yang dilakukan oleh orang-orang di PSW UIN Sunan Kalijaga selanjutnya adalah membentuk ''vocal points'' yang terdiri dari sarjana-sarjana perempuan dan laki-laki yang memang memiliki perhatian pada isu gender. PSW UIN Yogyakarta mendapat dukungan yang kuat Prof. [[Hamim Ilyas]] dan Dr. [[Wawan Gunawan]], yang kemudian mereka menjadi mentor persoalan gender terutama di lingkungan Muhammadiyah. Ketika Prof. Amin Abdullah, Prof. Hamim Ilyas dan Dr. Wawan Gunawan berbicara gender di hadapan laki-laki daya resistensinya rendah daripada bila yang berbicara adalah sarjana perempuan seperti Prof. [[Siti Ruhaini Dzuhayatin]], Prof. Alimatul Qibtiyah, dan Syamsiyatun sendiri.  


Mendekatkan isu gender dan agama kepada masyarakat umum harus dilakukan dengan ''hadharatun nash'' (teks) yang baik, sehingga argumen-argumen ''bayani'' harus diperkuat. Ulama masa kini berbeda dengan ulama-ulama terdahulu; ulama perempuan hari ini memilik kemudahan untuk mengakses, mempelajari dan menerapkan metode tafsir ulama-ulama kontemporer seperti Fazlur Rahman, Abdullah Said, Muhammad Sahrur, dan Abdullah An-Naim, selain dari pemikiran ulama tafsir abad klasik dan pertengahan, tentu saja. Ulama-ulama Indonesia yang terdahulu umumnya mengakses sampai pada tafsir karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.  
Mendekatkan isu gender dan agama kepada masyarakat umum harus dilakukan dengan ''hadharatun nash'' (teks) yang baik, sehingga argumen-argumen ''bayani'' harus diperkuat. Ulama masa kini berbeda dengan ulama-ulama terdahulu; ulama perempuan hari ini memilik kemudahan untuk mengakses, mempelajari dan menerapkan metode tafsir ulama-ulama kontemporer seperti Fazlur Rahman, Abdullah Said, Muhammad Sahrur, dan Abdullah An-Naim, selain dari pemikiran ulama tafsir abad klasik dan pertengahan, tentu saja. Ulama-ulama Indonesia yang terdahulu umumnya mengakses sampai pada tafsir karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.  

Menu navigasi