Siti Syamsiyatun: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
8 bita ditambahkan ,  10 November 2021 22.29
tidak ada ringkasan suntingan
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox person|name=Dra. Siti Syamsiyatun, M.A, Ph.D|birth_date=|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|imagesize=180px|known for=*Pergolakan Putri Islam: Dinamika Wacana Jender di Nasyiatul Aisyiyah Agama, (2016)
{{Infobox person|name=Dra. Siti Syamsiyatun, M.A, Ph.D|birth_date=|image=Berkas:Syamsiyatun.jpeg|imagesize=220px|known for=*Pergolakan Putri Islam: Dinamika Wacana Jender di Nasyiatul Aisyiyah Agama, (2016)
*Conflict and Islah Strategi of Muslim Women Organization: Case Study of ‘Aisyiyah in Intra and Inter-Organizational Divergence” in Aljami’ah Journal of Islamic Studies (2020). Link https://aljamiah.or.d/index.php/AJIS/article/view/58204|occupation=*Dosen UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta}}'''Siti Syamsiyatun, MA, Ph.D''' adalah dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur ICRS (Indonesian Consortium for Religious Studies), sebuah konsorsium yang didirikan oleh UIN Sunan kalijaga, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Kristen Dutawacana, pada tahun 2010-2019.  
*Conflict and Islah Strategi of Muslim Women Organization: Case Study of ‘Aisyiyah in Intra and Inter-Organizational Divergence” in Aljami’ah Journal of Islamic Studies (2020). Link https://aljamiah.or.d/index.php/AJIS/article/view/58204|occupation=*Dosen UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta}}'''Siti Syamsiyatun, MA, Ph.D''' adalah dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur ICRS (Indonesian Consortium for Religious Studies), sebuah konsorsium yang didirikan oleh UIN Sunan kalijaga, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Kristen Dutawacana, pada tahun 2010-2019.  


Baris 46: Baris 46:
Fakta bahwa Syamsiyatun dan teman-temannya mengenyam pendidikan tinggi di Barat ternyata berdampak pada saat mereka berbincang tentang kesetaraan gender di hadapan kaum laki-laki. Seringkali mereka mendapatkan penolakan karena stigma bahasa tentang gender, feminisme, dan feminis. Banyak kalangan menolak istilah gender karena dianggap sebagai barang impor dan tidak islami. Oleh karena itu, para sarjana ini perlu berstrategi untuk mencari istilah pengganti yang dapat dimengerti oleh audiens. Maka, pada saat Syamsiyatun mengisi forum atau dakwah, ia lebih banyak menggunakan istilah dalam Bahasa Arab agar dapat dipahami, seperti ''fiqhunnisa'', ''muasyarah bil ma’ruf'', ''ahsanul khuluq'', daripada istilah Barat ''equal relation''. Ternyata dengan menggunakan istilah-istilah berbahasa Arab, ide-ide menjadi lebih mudah diterima masyarakat.  
Fakta bahwa Syamsiyatun dan teman-temannya mengenyam pendidikan tinggi di Barat ternyata berdampak pada saat mereka berbincang tentang kesetaraan gender di hadapan kaum laki-laki. Seringkali mereka mendapatkan penolakan karena stigma bahasa tentang gender, feminisme, dan feminis. Banyak kalangan menolak istilah gender karena dianggap sebagai barang impor dan tidak islami. Oleh karena itu, para sarjana ini perlu berstrategi untuk mencari istilah pengganti yang dapat dimengerti oleh audiens. Maka, pada saat Syamsiyatun mengisi forum atau dakwah, ia lebih banyak menggunakan istilah dalam Bahasa Arab agar dapat dipahami, seperti ''fiqhunnisa'', ''muasyarah bil ma’ruf'', ''ahsanul khuluq'', daripada istilah Barat ''equal relation''. Ternyata dengan menggunakan istilah-istilah berbahasa Arab, ide-ide menjadi lebih mudah diterima masyarakat.  


Strategi lain yang dilakukan oleh orang-orang di PSW UIN Sunan Kalijaga selanjutnya adalah membentuk ''vocal points'' yang terdiri dari sarjana-sarjana perempuan dan laki-laki yang memang memiliki perhatian pada isu gender. PSW UIN Yogyakarta mendapat dukungan yang kuat Prof. [[Hamim Ilyas]] dan Dr. Wawan Gunawan, yang kemudian mereka menjadi mentor persoalan gender terutama di lingkungan Muhammadiyah. Ketika Prof. Amin Abdullah, Prof. Hamim Ilyas dan Dr. Wawan Gunawan berbicara gender di hadapan laki-laki daya resistensinya rendah daripada bila yang berbicara adalah sarjana perempuan seperti Prof. Siti Ruhaini Dzuhayatin, Prof. Alimatul Qibtiyah, dan Syamsiyatun sendiri.  
Strategi lain yang dilakukan oleh orang-orang di PSW UIN Sunan Kalijaga selanjutnya adalah membentuk ''vocal points'' yang terdiri dari sarjana-sarjana perempuan dan laki-laki yang memang memiliki perhatian pada isu gender. PSW UIN Yogyakarta mendapat dukungan yang kuat Prof. [[Hamim Ilyas]] dan Dr. [[Wawan Gunawan]], yang kemudian mereka menjadi mentor persoalan gender terutama di lingkungan Muhammadiyah. Ketika Prof. Amin Abdullah, Prof. Hamim Ilyas dan Dr. Wawan Gunawan berbicara gender di hadapan laki-laki daya resistensinya rendah daripada bila yang berbicara adalah sarjana perempuan seperti Prof. Siti Ruhaini Dzuhayatin, Prof. Alimatul Qibtiyah, dan Syamsiyatun sendiri.  


Mendekatkan isu gender dan agama kepada masyarakat umum harus dilakukan dengan ''hadharatun nash'' (teks) yang baik, sehingga argumen-argumen ''bayani'' harus diperkuat. Ulama masa kini berbeda dengan ulama-ulama terdahulu; ulama perempuan hari ini memilik kemudahan untuk mengakses, mempelajari dan menerapkan metode tafsir ulama-ulama kontemporer seperti Fazlur Rahman, Abdullah Said, Muhammad Sahrur, dan Abdullah An-Naim, selain dari pemikiran ulama tafsir abad klasik dan pertengahan, tentu saja. Ulama-ulama Indonesia yang terdahulu umumnya mengakses sampai pada tafsir karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.  
Mendekatkan isu gender dan agama kepada masyarakat umum harus dilakukan dengan ''hadharatun nash'' (teks) yang baik, sehingga argumen-argumen ''bayani'' harus diperkuat. Ulama masa kini berbeda dengan ulama-ulama terdahulu; ulama perempuan hari ini memilik kemudahan untuk mengakses, mempelajari dan menerapkan metode tafsir ulama-ulama kontemporer seperti Fazlur Rahman, Abdullah Said, Muhammad Sahrur, dan Abdullah An-Naim, selain dari pemikiran ulama tafsir abad klasik dan pertengahan, tentu saja. Ulama-ulama Indonesia yang terdahulu umumnya mengakses sampai pada tafsir karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.  

Menu navigasi