Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia Dideklarasikan di Cirebon: Perbedaan revisi

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
(←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel:''' {| |Sumber Original |: |[https://www.nu.or.id/nasional/kupi-deklarasikan-mei-bulan-kebangkitan-ulama-perempuan-indonesia-T9Wlj NU Online] |- |Penul...')
 
 
(1 revisi antara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://www.nu.or.id/nasional/kupi-deklarasikan-mei-bulan-kebangkitan-ulama-perempuan-indonesia-T9Wlj NU Online]
|[https://www.citrust.id/bulan-kebangkitan-ulama-perempuan-indonesia-dideklarasikan-di-cirebon.html citrust.id]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Nuriel Shiami Indiraphasa
|Haris
|-
|-
|Tanggal Terbit
|Tanggal Terbit
|:
|:
|<nowiki>Ahad, 18 Mei 2025 | 21:30 WIB</nowiki>
|Minggu, 18 Mei 2025
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://www.nu.or.id/nasional/kupi-deklarasikan-mei-bulan-kebangkitan-ulama-perempuan-indonesia-T9Wlj KUPI Deklarasikan Mei Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia]
|[https://www.citrust.id/bulan-kebangkitan-ulama-perempuan-indonesia-dideklarasikan-di-cirebon.html Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia Dideklarasikan di Cirebon]
|}
|}
[[Berkas:BrtBKUPI 2025-05-18 (2).jpg|jmpl|500x500px|''<small>Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia dideklarasikan di Cirebon. (Foto: Ist.)</small>'']]
'''Citrust.id –''' [[Jaringan]] Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) secara resmi mendeklarasikan Mei sebagai Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia. Deklarasi itu digelar pada Minggu (18/5/2025), di Masjid Puser Bumi, Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat.


[[Berkas:BrtBKUPI 2025-05-18.png|pra=https://kupipedia.id/index.php/Berkas:BrtBKUPI%202025-05-18.png|jmpl|500x500px|<small>''
Deklarasi tersebut menjadi wujud ikhtiar spiritual, sosial, dan kultural untuk memperkuat peran ulama perempuan dalam membela kehidupan, menurunkan ilmu, serta menjaga keberpihakan terhadap kelompok yang terpinggirkan oleh struktur sosial dan politik.
Pembacaan deklarasi Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia di Cirebon, Jawa Barat, Ahad (18/5/2025). (Foto: NU Online/Indiraphasa)''</small>]]
Cirebon, '''''NU Online'''''


Ketua Majelis Dzikir dan Pikir Paser Bumi, Rieke Diah Pitaloka, menyampaikan, deklarasi itu juga menjadi upaya untuk mengenang dan meneruskan semangat perjuangan para ulama perempuan Indonesia. Ia mencontohkan keteladanan salah satu [[tokoh]] perempuan pejuang Islam di Cirebon.
“Nyai Syarifah Mudaim telah ajarkan kepada kami, keturunannya, jiwa cahaya Islam yang pantang menyerah. Jiwa ini akan menuntun kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan dalam perjuangan,” ujarnya, di hadapan para peserta.
Bulan Mei dipilih karena bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, sekaligus menjadi pengingat sejarah Mei 1998. Saat itu, perempuan, warga Tionghoa, dan masyarakat miskin kota menjadi korban kekerasan politik yang membekas dalam sejarah bangsa.
Melalui deklarasi itu, KUPI mendorong masyarakat untuk menghadirkan ingatan kritis dan spiritual yang berpihak pada mereka yang rentan dan kerap dilupakan.
Peringatan Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia diisi dengan kegiatan doa bersama, tawasul, puisi, diskusi, pengajian, penulisan kisah, serta aksi-aksi sosial di berbagai wilayah.
Sekretaris Majelis [[Musyawarah]] KUPI, [[Masruchah]], menekankan pentingnya menjadikan kebangkitan nasional sebagai ruang refleksi terhadap isu-isu kemanusiaan.
“Kebangkitan nasional Indonesia tidak semata bicara soal nasionalisme atau kebangsaan. Ini juga soal keadilan sosial, keadilan gender, dan isu non-diskriminasi,” ujarnya.
Dalam pidato keulamaannya, Dewan Pertimbangan KUPI, [[Alissa Wahid]], menyerukan agar perempuan tidak ragu mengambil peran penting di ruang-ruang publik, meskipun rasa takut sering kali membayangi.
“Kita bukan tokoh dongeng yang gagah berani. Kita adalah manusia biasa yang punya keluarga dan rasa takut. Namun, meskipun kita takut, kita harus terus berjalan dan melompati pagar ketakutan itu. Mungkin di situlah martabat kita ditentukan,” tegas Alissa, mengutip pernyataan KH Abdurrahman Wahid.
Melalui inisiatif itu, KUPI juga mengajak masyarakat untuk mendokumentasikan nama-nama ulama perempuan di lingkungan mereka-para nyai, ustazah, guru ngaji, tengku, dan penggerak masyarakat yang selama ini bekerja dalam senyap, tetapi berkontribusi besar pada keilmuan dan peradaban.
Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia menjadi ajakan untuk membangun memori kolektif tentang peran penting perempuan dalam sejarah dan masa depan Islam Indonesia.
Semangat itu diharapkan menjadi bagian tak terpisahkan dari kebangkitan umat, kemuliaan bangsa, dan keberlangsungan semesta. (Haris)
[[Kategori:Berita Bulan KUPI]]
[[Kategori:Berita Bulan KUPI]]

Revisi terkini pada 3 September 2025 23.39

Info Artikel:

Sumber Original : citrust.id
Penulis : Haris
Tanggal Terbit : Minggu, 18 Mei 2025
Artikel Lengkap : Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia Dideklarasikan di Cirebon
Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia dideklarasikan di Cirebon. (Foto: Ist.)

Citrust.id – Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) secara resmi mendeklarasikan Mei sebagai Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia. Deklarasi itu digelar pada Minggu (18/5/2025), di Masjid Puser Bumi, Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat.

Deklarasi tersebut menjadi wujud ikhtiar spiritual, sosial, dan kultural untuk memperkuat peran ulama perempuan dalam membela kehidupan, menurunkan ilmu, serta menjaga keberpihakan terhadap kelompok yang terpinggirkan oleh struktur sosial dan politik.

Ketua Majelis Dzikir dan Pikir Paser Bumi, Rieke Diah Pitaloka, menyampaikan, deklarasi itu juga menjadi upaya untuk mengenang dan meneruskan semangat perjuangan para ulama perempuan Indonesia. Ia mencontohkan keteladanan salah satu tokoh perempuan pejuang Islam di Cirebon.

“Nyai Syarifah Mudaim telah ajarkan kepada kami, keturunannya, jiwa cahaya Islam yang pantang menyerah. Jiwa ini akan menuntun kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan dalam perjuangan,” ujarnya, di hadapan para peserta.

Bulan Mei dipilih karena bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, sekaligus menjadi pengingat sejarah Mei 1998. Saat itu, perempuan, warga Tionghoa, dan masyarakat miskin kota menjadi korban kekerasan politik yang membekas dalam sejarah bangsa.

Melalui deklarasi itu, KUPI mendorong masyarakat untuk menghadirkan ingatan kritis dan spiritual yang berpihak pada mereka yang rentan dan kerap dilupakan.

Peringatan Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia diisi dengan kegiatan doa bersama, tawasul, puisi, diskusi, pengajian, penulisan kisah, serta aksi-aksi sosial di berbagai wilayah.

Sekretaris Majelis Musyawarah KUPI, Masruchah, menekankan pentingnya menjadikan kebangkitan nasional sebagai ruang refleksi terhadap isu-isu kemanusiaan.

“Kebangkitan nasional Indonesia tidak semata bicara soal nasionalisme atau kebangsaan. Ini juga soal keadilan sosial, keadilan gender, dan isu non-diskriminasi,” ujarnya.

Dalam pidato keulamaannya, Dewan Pertimbangan KUPI, Alissa Wahid, menyerukan agar perempuan tidak ragu mengambil peran penting di ruang-ruang publik, meskipun rasa takut sering kali membayangi.

“Kita bukan tokoh dongeng yang gagah berani. Kita adalah manusia biasa yang punya keluarga dan rasa takut. Namun, meskipun kita takut, kita harus terus berjalan dan melompati pagar ketakutan itu. Mungkin di situlah martabat kita ditentukan,” tegas Alissa, mengutip pernyataan KH Abdurrahman Wahid.

Melalui inisiatif itu, KUPI juga mengajak masyarakat untuk mendokumentasikan nama-nama ulama perempuan di lingkungan mereka-para nyai, ustazah, guru ngaji, tengku, dan penggerak masyarakat yang selama ini bekerja dalam senyap, tetapi berkontribusi besar pada keilmuan dan peradaban.

Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia menjadi ajakan untuk membangun memori kolektif tentang peran penting perempuan dalam sejarah dan masa depan Islam Indonesia.

Semangat itu diharapkan menjadi bagian tak terpisahkan dari kebangkitan umat, kemuliaan bangsa, dan keberlangsungan semesta. (Haris)