Ulama Perempuan Indonesia Akan Gelar Kongres di Cirebon: Perbedaan revisi

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
 
(4 revisi antara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
'''Info Artikel:'''
{|
|Sumber Original
|:
|[http://www.cirebonsatu.com/ulama-perempuan-indonesia-akan-gelar-kongres-di-cirebon.html Cirebon Satu]
|-
|Tanggal Publikasi
|:
|09 April 2017
|-
|Penulis
|:
|
|-
|Artikel Lengkap
|:
|[http://www.cirebonsatu.com/ulama-perempuan-indonesia-akan-gelar-kongres-di-cirebon.html Ulama Perempuan Indonesia Akan Gelar Kongres di Cirebon]
|}
Ulama perempuan Indonesia akan menggelar Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) di Pondok Pesantren Kebun Jambu, Babakan Ciwaringin, Cirebon Jawa Barat pada 25-27 April 2017 mendatang.
Ulama perempuan Indonesia akan menggelar Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) di Pondok Pesantren Kebun Jambu, Babakan Ciwaringin, Cirebon Jawa Barat pada 25-27 April 2017 mendatang.


Setelah hampir 72 tahun Indonesia merdeka, KUPI akan menjadi kongres Ulama Perempuan pertama di Indonesia. Berbeda dengan di negara-negara mayoritas Muslim lain yang memisahkan perempuan dengan laki-laki, di Indonesia sejak lama tidak ada pemisahan antara peran perempuan dan laki-laki baik dalam dunia ekonomi maupun politik. Bahkan di masa lalu pernah ada dua Sultana atau Pemimpin Kerajaan Perempuan di Indonesia, yaitu kerajaan Aceh dan Sulawesi. Sekitar 800 peserta sudah mendaftar untuk ikut serta dalam KUPI ini.
Setelah hampir 72 tahun Indonesia merdeka, KUPI akan menjadi kongres Ulama Perempuan pertama di Indonesia. Berbeda dengan di negara-negara mayoritas Muslim lain yang memisahkan perempuan dengan laki-laki, di Indonesia sejak lama tidak ada pemisahan antara peran perempuan dan laki-laki baik dalam dunia ekonomi maupun politik. Bahkan di masa lalu pernah ada dua Sultana atau Pemimpin Kerajaan Perempuan di Indonesia, yaitu kerajaan Aceh dan Sulawesi. Sekitar 800 peserta sudah mendaftar untuk ikut serta dalam KUPI ini.


Steering Committee KUPI Hj. Badriyah Fayumi mengatakan, dipilihnya Pesantren Pondok Jambu sebaga lokasi KUPI dikarenakan pimpinan tertingi di situ adalah seorang perempuan yang memimpin lebih dari 1000 santri.
Steering Committee KUPI Hj. [[Badriyah Fayumi]] mengatakan, dipilihnya Pesantren Pondok Jambu sebaga lokasi KUPI dikarenakan pimpinan tertingi di situ adalah seorang perempuan yang memimpin lebih dari 1000 santri.


“Dipilihnya Ponpes Kebon Jambu karena pimpinan di situ perempuan, pimpinan tertinggi, bukan istri kiyai atau istri ulama, tapi perempuan yang memimpin lebih dari 1000 santri di situ,” tandas Badriyah dalam konfrensi pers di Kafe Kekini, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (09/04/2017).
“Dipilihnya Ponpes Kebon Jambu karena pimpinan di situ perempuan, pimpinan tertinggi, bukan istri kiyai atau istri ulama, tapi perempuan yang memimpin lebih dari 1000 santri di situ,” tandas Badriyah dalam konfrensi pers di Kafe Kekini, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (09/04/2017).


Dari kongres ini akan dihasilkan sejumlah kebijakan terkait perempuan, anak, dan isu radikalisme. KUPI juga akan mengeluarkan fatwa yang berdasar pada Al Quran.
Dari kongres ini akan dihasilkan sejumlah kebijakan terkait perempuan, anak, dan isu radikalisme. KUPI juga akan mengeluarkan [[fatwa]] yang berdasar pada Al Quran.


Badriyah juga mengatakan, kongres ini akan dihadiri lebih dari 500 ulama perempuan se-Indonesia. Dia menjelaskan, kongres ini memang gagasan dari ulama perempuan Indonesia.
Badriyah juga mengatakan, kongres ini akan dihadiri lebih dari 500 ulama perempuan se-Indonesia. Dia menjelaskan, kongres ini memang gagasan dari ulama perempuan Indonesia.


“Acara ini sejak awal digagas partisipatoris. Kami tidak mengandalkan ketokohan tertentu, karena ulama perempuan punya ilmu semuanya dalam berbagai level bahkan di tingkat [[komunitas]] terkecil pun sangat patut untuk dishare dengan ulama di daerah, dan patut untuk berpartisipasi pada khalayak,” kata Badriyah. (C101)
“Acara ini sejak awal digagas partisipatoris. Kami tidak mengandalkan ketokohan tertentu, karena ulama perempuan punya ilmu semuanya dalam berbagai level bahkan di tingkat [[komunitas]] terkecil pun sangat patut untuk dishare dengan ulama di daerah, dan patut untuk berpartisipasi pada khalayak,” kata Badriyah. (C101)
Cirebonsatu.com, 09 April 2017
''Sumber: <nowiki>http://www.cirebonsatu.com/ulama-perempuan-indonesia-akan-gelar-kongres-di-cirebon.html</nowiki>''
[[Kategori:Berita]]
[[Kategori:Berita]]
[[Kategori:Berita Kongres 1]]

Revisi terkini pada 1 September 2025 03.23

Info Artikel:

Sumber Original : Cirebon Satu
Tanggal Publikasi : 09 April 2017
Penulis :
Artikel Lengkap : Ulama Perempuan Indonesia Akan Gelar Kongres di Cirebon

Ulama perempuan Indonesia akan menggelar Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Pondok Pesantren Kebun Jambu, Babakan Ciwaringin, Cirebon Jawa Barat pada 25-27 April 2017 mendatang.

Setelah hampir 72 tahun Indonesia merdeka, KUPI akan menjadi kongres Ulama Perempuan pertama di Indonesia. Berbeda dengan di negara-negara mayoritas Muslim lain yang memisahkan perempuan dengan laki-laki, di Indonesia sejak lama tidak ada pemisahan antara peran perempuan dan laki-laki baik dalam dunia ekonomi maupun politik. Bahkan di masa lalu pernah ada dua Sultana atau Pemimpin Kerajaan Perempuan di Indonesia, yaitu kerajaan Aceh dan Sulawesi. Sekitar 800 peserta sudah mendaftar untuk ikut serta dalam KUPI ini.

Steering Committee KUPI Hj. Badriyah Fayumi mengatakan, dipilihnya Pesantren Pondok Jambu sebaga lokasi KUPI dikarenakan pimpinan tertingi di situ adalah seorang perempuan yang memimpin lebih dari 1000 santri.

“Dipilihnya Ponpes Kebon Jambu karena pimpinan di situ perempuan, pimpinan tertinggi, bukan istri kiyai atau istri ulama, tapi perempuan yang memimpin lebih dari 1000 santri di situ,” tandas Badriyah dalam konfrensi pers di Kafe Kekini, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (09/04/2017).

Dari kongres ini akan dihasilkan sejumlah kebijakan terkait perempuan, anak, dan isu radikalisme. KUPI juga akan mengeluarkan fatwa yang berdasar pada Al Quran.

Badriyah juga mengatakan, kongres ini akan dihadiri lebih dari 500 ulama perempuan se-Indonesia. Dia menjelaskan, kongres ini memang gagasan dari ulama perempuan Indonesia.

“Acara ini sejak awal digagas partisipatoris. Kami tidak mengandalkan ketokohan tertentu, karena ulama perempuan punya ilmu semuanya dalam berbagai level bahkan di tingkat komunitas terkecil pun sangat patut untuk dishare dengan ulama di daerah, dan patut untuk berpartisipasi pada khalayak,” kata Badriyah. (C101)