Badriyah Fayumi

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Badriyah Fayumi
Badriyah Fayumi.jpg
Tempat, Tgl. LahirPati, 05 Agustus 1971
Aktivitas Utama
  • Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an wal Hadits
Karya Utama
  • Buku Halaqah Islam: Mengaji Perempuan, HAM, dan Demokrasi (2004)

Badriyah perempuan kelahiran Pati 5 Agustus 1971, sejak kecil Badriyah hidup dengan kultur agama yang kuat, ayah dan ibunya merupakan pengasuh pondok pesantren Raudhatul Ulum dan juga tempat Badriyah menimba ilmu agama dan bersosialisasi nilai-nilai pesantren. Sewaktu kecil belajar dasar-dasar agama kepada ayah dan ibunya, sedangkan pendidikan formalnya ditempuh di sekolah dasar negeri dan Muallimat serta pernah menjadi ketua OSIS Putri serta mendirikan majalah Ukhuwwah. Kemudian melanjutkan pendidikan tingginya di IAIN Syarif Hidyatullah Jakarta (UIN Jakarta) jurusan Tafsir Hadist, Fakultas Ushuluddin dengan lulusan terbaik tahun 1995. Kemudian melanjutkan kembali ke Al-Azhar, Cairo, Mesir (lulus tahun 1998) dan kembali  tanah air menjadi dosen Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir.

KUPI

Interaksi pertama dengan KUPI dimulai dari bagian anggota Rahima pada saat itu zaman mba Cici sebagai direktur, Badriyah sebagai penulis di suara Rahima dan menjadi narasumber di Rahima tentang ulama perempuan dan event yang diselenggarakan Rahima. Tahun 2000 di PPIM UIN Jakarta penelitian kemudian terbit buku ulama perempuan, buku mutiara terpendam perempuan dalam literature klasik Islam, Badriyah menulis dengan Mba Alai Najib tentang perempuan dalam literature hadist. Term tentang ulama perempuan adalah satu obsesi spirit pergerakan yang harus terus menjadi konsentrasi. Saat itu belum terpikirkan menjadi KUPI namun term “ulama perempuan” suatu entitas untuk diganungkan, diperjuangkan dan melakukan kaderisasi. Rahiman memiliki PUP namun Badriyah tidak menjadi fasilitator tetap dan juga menjadi anggota dewan. Pandai mengelola dan konsisten sehingga Rahima membangun jaringan meskipun Badriyah jarang muncul namun mereka tidak patah semangat untuk selalu berkomunikasi denga Badriyah.

Pada tahun 2015 kepemimpinan Rahiman dibawah Mba Dani meminta mengadakan acara workshop dan meminta menjadi narasumber Mba nana dan pemantik Badriyah ide berwal dari Rahiman saat di workshop ada pembicaraan merumuskan berdirinya KUPI karena Rahima kurang “greget” kemudian disepakati Rahima, Alimat dan Fahmina kemudian lahirlah KUPI, ide tersebut bukan suatu yang tiba-tiba tapi sejak kata “ulama perempuan” menyihir perhatiannya spirit perjuangan sewaktu berpatisipasi di PPIM UIN Jakarta yang saat itu menulis ulama perempuan dan buku ulama perempuan editornya kang jajat.

KUPI lahir dari proses yang panjang dan bergulir sesuai ide dan visinya walaupun bukan organisasi struktural tetapi institusionalisasi komunitas (jaringan) tetapi menjadi kekuatan kultural. Aktivitas dan kerja keulamaan disampaikan untuk menyerukan dan memperjuangkan Islam wasthiyah dengan tagline mendamaikan, mencerdaskan, mensejahterakan mempunyai tarikan nafas yang sama hanya sarana, model kerja, sasaran dan pergerakannya namun tidak ada yang berbenturan namun selaras dan sejalan begitu juga Badriyah saat ini menjadi pengurus MUI Pusat. Setiap lembaga mempunyai karakteristik yang berbeda dan ciri khas masing-masing hanya dipertemukan saja. Badriyah tidak akan masuk kedalam seuatu lembaga, institusi, organisasi yang tidak sesuai dengan visi misinya seperti Majalah An-Nur karena satu visi dan misi dengan Badriyah dan kemudian Badriyah ditunjuk sebagai redaktur ahli dari tahun 2003 sampai 2018 (berhenti) karena tidak bisa bersaing dengan media online.

Badriyah ketika masih menjadi redaktur ahli Majalah An-Nur selalu menyampaikan pesan-pesan suara perempuan, Islam wasthiyah, keindonesiaa, kearifan lokal dikonsumsi kaum urban dan kelas menengah atas dengan konten gaya hidup, populer, simple dan nilai serta prinsip yang dibawa adalah sama. Badriyah juga pernah menjadi narasumber tetap di TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) kerjasama dengan Uhsuluddin dan Asia Fondation meluncurkan buku halaqah Islam Membincang Perempuan HAM dan Demokrasi dimanapun tempatnya namun substansinya sama.

Pesantren

Badriyah mendirikan pesantren merupakan cita-cita lama bermula dari kegelisahan hidup yang hanya menikmati sebuah kebijakan, melakukan  penelitian, pengajaran di kampus, advokasi kebijakan sehingga ingin juga terlibat dan hidup bermanfaat secara langsung di masyarakat dan menyentuh masyarakat bawah. Awal mula pesantren berdiri sejak awal kuliah kemudian menikah tinggal di kontrakan kecil semasa kuliah dan melanjutkan studi ke mesir hingga berlabuh di pondok gede. Suami juga mengisi kajian keislaman, khutbah dan melakukan santunan kepada dhuafa setiap tahun.

Pernah menjadi dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan juga menjadi staff ibu Negara (Abdurrahman wahid) membangun rumah dari mulai tahun 2000 an, membuat konsep rumah yang minimalis namun bisa bermanfaat untuk lingkungan dengan menyediakan dua ruangan, pertama untuk kursus computer secara gratis dibantu oleh volunteer juniornya, kedua ruang tamu, dimanfaatkan untuk pengajian ibu-ibu (satu minggu sekali) dan setiap sore untuk anak-anak.

Tekad yang kuat dan pendiriannya untuk mendirikan sebuah yayasan pendidikan dengan membeli sebidang tanah di samping rumahnya yang kemudian dinamai mahasina li ad-Dakwah wa at-Tarbiyah untuk menjadi amal usaha, berbisnis, kursus computer, travel, karena di kemenkumham sudah ada nama mahasina hanya ditambahkan redaksi li ad-Dakwah wa at-Tarbiyah berdiri pada tahun 2005 di isi oleh pengajian ibu-ibu dan anak-anak, saat itu juga sudah duduk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Rumah sebelahnya dilantai dua menjadi tempat penitipan anak-anak yang sekolah diluar ada juga yang memasrahkan ke Badriyah karena menjadi korban KDRT, broken home dan sebagainya. Semua yang menetap gratis dan tidak membebani biaya, hanya kebutuhan sekolah dibiayai oleh kedua orang tuanya. Gedung pertama berdiri tahun  2008 dan membebaskan tanah depan dan samping secara bertahap dengan ukurang yang minimal untuk membangun gedung kedua dan berdirilah pesantren mahasina li ad-Dakwah wa at-Tarbiyah pada tahun 2016 di dalamnya asrama pesantren ada, pendidikan formal ada sesuai dengan konsep terintegrasi.

Di sela-sela kesibukkan mengasuh pesantren Badiryah masih memperhatikan kehidupan untuk masyarakat dan umat. Harapannya pesantren mahasina li ad-Dakwah wa at-Tarbiyah menjadi rumah besar umat dan masyarakat, karena pemikiran awal adalah mendirikan pesantren kemudian dinamai mahasina Darul al-Qur’an wa al-Hadist sehingga mempunyai visi dan misi yang jelas. Bersama suami tercinta yang juga alumni tafsir hadist mempunyai program yang penting dengan program adalah tahsin wa tahfidz al-Qur’an, hifdzu wa al-fahmu al-hadist tafaquh fi al-Din karena terintegrasi menjadikan lulusan yang menjadi kader ulama dan pemimpin, berahlak qur’ani dan berwawasan kebangsaan. Proses pemikiran, keilmuan, pergulatan sosial, politik, kebangsaan diramu dimana saja berada namun cita-cita visi dan misi tetap sama.

Saat duduk di DPR Badriyah selalu memperjuangkan persamaan, keadilan, kesetaraan gender, pendidikan agama, pesantren tidak boleh di diskriminasi sehingga memilih di komisi VIII diwaktu 2009 tidak mencalonkan diri sebagai anggota dewan kembali karena situasi politik yang tidak memungkin untuk kembali mencalonkan diri. Bagi Badriyah dimanapun kita berada maka dedikasi itu tetap ada pun di KUPI dengan mendidikasikan keulamaan, keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan.

Jika di pesantren untuk kader ulama, kebangsaan, implementasi Islam wasathiyah sehingga semua aktifitas kehidupan merupakan saluran yang dijalani. Pesantren merupakan institusionalisasi dari visi misi cita-cita dalam hidup keluarga. Dalam keluarga mempunyai ikatan, seperti ikatan cinta, ikatan anak dan ikatan cita-cita yang kemudian menjadi ikatan yang besar dan menjadi ikatan paling kuat suami isteri.

Tantangan kekerasan seksual

Bagi Badriyah menyuarakan kekerasan seksual adalah untuk membuktikan fakta-fakta dilapangan dan menyuarakan pandangan Islam yang selama ini tidak banyak dipahami sendiri oleh umat Islam dan isu nasional. Rancangan UU Penghapusan seksual menjadi waca publik dengan pemikiran-pemikiran KUPI mempunyai ruang untuk didengar baik yang setuju maupun tidak setuju proses ini menjadi edukasi publik, kesadaran publik dan menjadi peluang. Dalam memantau perkembangan RUU PKS KUPI mempunyai tujuan dan maksud dengan di sahkannya RUU PKS dan menjadi undang-undang bukan menjadi tujuan akhir namun tujuan akhirnya adalah membangun masyarakat yang adil dan beradab, masyarakat bebas kekerasan seksual, menghargai manusia dengan memanuasiakan manusia dengan martabat yang terhormat dan bermartabat dan tidak dinodai kekerasan seksual.

Kekerasan seksual adalah kesalahan besar untuk dihindari dan dijauhi oleh muslim, masyarakat pada umumnya dan bagi muslim bahwa agama melarang itu. Menghindari pandangan yang sebalikanya seperti, konservatisme agama dan salah paham. Pandangan KUPI merupakan prespektif KUPI sendiri yang berlandasarkan al-Qur’an, Hadist, konstitusi Negara, ahwal ulama dan pengalaman perempuan dalam proses istidlal harus memiliki banyak ilmu untuk meramu hingga sesuai dengan visi misi KUPI mewujudkan Islam rahmatan lil alamin, kehidupan berahlak mulia dan bertauhid berimpelemtasi kemanusiaan. Sebenarnya sudah clear jika ada masyarakat yang belum paham sekalipun namun menjadi tantangan bagi KUPI sendiri, bagi Badriyah tidak khawatir dengan tantangan tersebut karena KUPI sudah memiliki jati diri dipertanggung jawabkan secara ilmiah, secara sosiologis, kultural dan dipertanggungjawabkan secara agama baik di dunia dan akhirat.

Sembari tertawa melalui sambungan zoom, Badriyah bercerita ketika duduk di DPR bahwa di sana ada istilah komisi mata air dan komisi air mata, komisi mata air adalah komisi yang menaungi migas, perdagangan, pertanian Badriyah yang saat itu duduk di Komisi VIII sebagai “komisi air mata” yang bermitra dengan Kementerian Perempuan dan Anak, Kementerian Agama, kementerian Sosial dan KPAI adalah komisi yang dianggap “buangan” tidak seperti komisi mata air. Akan tetapi bagi Badriyah ini merupakan momentum baginya untuk menyuarakan suara perempuan, ketidakadilan gender, persamaan, kesetaraan di institusi tertinggi Negara untuk di perjuangkan baik secara legislasi, budgeting, hingga pengawasan. Seperti halnya dalam pembahasan aturan dan perbedaan anggaran untuk pondok pesantren dianggap ada ketidakadilan dan keberpihakan anggaran pendidikan yang dibawah kementerian agama melalui APBN (vertikal) sangat minim dan terbatas, tapi dibawah Kemendikbud mendapatkan kucuran anggaran dana dari otonomi daerah sehingga mempunyai 3 keran dari APBN, APBD dan Kabupaten pendanaan. Di tahun 2005 Badriyah berusaha hingga jam satu malam di gedung DPR mengusulkan bagi tahfidz, tafaquh fi al-Din dimasukkan kedalam penerima bantuan sistem BOS (Biaya Operasional Sekolah) dan akhirnya di amandemenkan. Contoh lainnya yang menjadi perhatian Badriyah adalah petugas haji, rata-rata petugas haji adalah maskulin, kemudian Badriyah mengusulkan untuk perempuan masuk dan menjadi petugas haji sebagai bentuk keadilan dan kesetaraan.

Sebelum menjadi pengasuh pesantren Badriyah memiliki prestasi seperti menjadi Sarjana terbaik, Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta (1995), penghargaan Kementerian Agama menjadi  tokoh pesantren peduli perempuan dan anak.

Selain menjadi penulis di majalah An-Nur, dan juga Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an Wal Hadist, menulis buku Halaqah Islam: Mengaji Perempuan, HAM, dan Demokrasi (2004) Badriyah tampak mencarikan panggung bagi kaum perempuan Indonesia, agar turut serta bersama laki-laki memperjuangkan Hak Asasi Manusia dan Demokrasi. Kaum perempuan harus segera naik ke pentas publik membawa gagasan orisinil mereka.

Bagi Badriyah ketika kita berpendapat menyampaikan argumentasi apapun bisa dipertanggungjawabkan secara Islam, sesuai fakta dan data sesara sosiologis jika menemukkan sebuah perbedaan Badriyah akan mempelajari pemikirannya dan berdialektika pemikiran dan sudah biasa dalam hal isu gender, keislama sendiri, bagi Badriyah yang berlatar belakang NU akomodatif terhadap budaya lokal, ketika Badriyah menjadi narasumber di komunitas seperti al-irsyad yang berlandaskan al-Qur’an dan hadis Badriyah menjelaskan bahwa harta gono-gini tidak dijelaskan dalam syariat Islam tapi itu adalah syariat Islam yang sudah menjadi ijma’ ulama Indonesia barada dalam KHI kemudian dijelaskan dalam fiqih, realitas sosial, ayat al-Qur’an dan Hadist meskipun tentang harta gono-gini.

Aktivitas selain pengasuh pesantren Khodimatul Ma’had juga sebagai wakil ketua MUI Pusat (sekarang), KUPI sebagai ketua, semua yang dilakukan untuk menolong dan misi untuk masyarakat, Alimat sebagai anggota, wakil ketua Alumni Ushuluddin, keluarga Mathlaul Falah, Majelis Istiqlal Mudzakarah berkaitan Bahtsul Masail, advoksai dewan pakar Kaukus Parlemen Perempuan Indonesia, Filantropi BWI, Dewan pakar Masyarakat Ekonomi Islam.

Tujuan hidup Badriyah adalah untuk melakukan kerja-kerja kebaikan untuk masyarakat dan fokus untuk mengasuh pesantren mahasina Darul al-Qur’an wa al-Hadist bermanfaat bagi para calon ulama dan pemimpin bangsa.           



Penulis : Yulianti Muthmainnah
Editor : Nor Ismah
Reviewer : Faqihuddin Abdul Kodir