Perempuan Cirebon dapat Anugerah S.K. Trimurti 2014: Perbedaan revisi

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
(←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia] |- |Penulis |: |Editor :...')
 
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia]
|[https://fahmina.id/perempuan-cirebon-dapat-anugerah-s-k-trimurti-2014/ fahmina.id]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Editor : Triwinarno
|Redaksi
|-
|-
|Tanggal Publikasi
|Tanggal Publikasi
|:
|:
|23/10/2020 05:15
|2 September 2014
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Belajar dari sang Nyai Masriyah Amva]
|[https://fahmina.id/perempuan-cirebon-dapat-anugerah-s-k-trimurti-2014/ Perempuan Cirebon dapat Anugerah S.K. Trimurti 2014]
|}PESANTREN menjadi salah satu [[lembaga]] pendidikan, khusus agama Islam. Tidak heran jika satu pesantren terkadang memiliki ratusan hingga ribuan santri yang rela mondok untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.  
|}Pada Jumat (22/8) lalu, Nyai Hj [[Masriyah Amva]] menerima anugerah Penghargaan S.K. Trimurti 2014 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Anugerah kepada pimpinan Pondok Pesantren Kebon Jambu Cirebon tersebut diberikan di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta.  


Jika pada umumnya pesantren identik dengan penokohan seorang kiai, beda halnya dengan Pesantren Kebon Jambu yang berada di kawasan kampung santri Desa Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat.
Pada kesempatan itu, Nyai Masriyah mengungkapkan kegembiraannya. “Penghargaan ini anugerah yang tak terkira nilainya. Menjadi modal saya untuk mengumandangkan perjuangan kesetaraan gender yang lebih luas lagi,” ujar perempuan berusia 52 tahun ini.


Di pesantren ini justru seorang nyailah yang menjadi pemimpin utama.
Menjadi pimpinan pondok, bukanlah hal yang lazim di kalangan ulama. Dia memimpin pondoknya sepeninggal suaminya. Pondok pesantren tradisionalnya berkembang menjadi pondok modern yang mengembangkan nilai-nilai pluralisme dan kesetaraan gender di kalangan santri dan masyarakat sekitarnya. Di tengah kesibukannya mengasuh para santri, Nyai Masriyah produktif dalam menghasilkan berbagai karya. Hingga saat ini tak kurang 12 buku dan novel telah diterbitkan. Salah satu karyanya yang fenomenal Bangkit dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan.


"Dulunya pesantren ini dipimpin oleh suami saya, tetapi beliau wafat. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kepemimpinan pesantren ini," ungkap Nyai [[Masriyah Amva]] pemimpin Pesantren Kebon Jambu.
Salah satu juri penghargaan, [[Masruchah]] (Wakil Ketua Komnas Perempuan) mengatakan perjuangan Masriyah patut diapresiasi terutama karena kegigihan dan konsistensinya. Apalagi saat ini Indonesia sedang menghadapi gerakan intoleransi dan budaya patriarki. “Dia sosok yang berusaha mendobrak, melawan, berjuang di tengah lingkungan yang sarat isu agama dan fundamentalisme,” ujar Masruchah.


Keputusan Sang Nyai untuk menjadi pimpinan pesantren bukanlah tanpa alasan. Masih belum siapnya penerus suami untuk memimpin pesantren menjadi dasar utama diambilnya keputusan tersebut.
Juri penghargaan yang terdiri dari Masruchah (Wakil Ketua Komnas Perempuan), Listyowati (Direktur Eksekutif Kalyanamitra), dan Luviana (jurnalis KBR 68H) sepakat memilih Masriyah setelah melalui serangkaian seleksi terhadap belasan kandidat. . . . .
 
"Saya ingat waktu awal-awal suami meninggal satu per satu santri pergi meninggalkan pesantren ini. Orangtua mereka datang dan izin untuk memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain," ujarnya kembali.
 
Masa-masa itu menjadi masa yang kelam baginya. Hidup dalam keterpurukan yang akhirnya membuat ia sadar bahwa hanya Sang Mahakuasalah yang dapat menolongnya. Perlahan, tapi pasti Masriyah Amva mampu membawa pesantrennya bangkit dalam keterpurukan. Bahkan kini Pondok Kebon Jambu menjadi salah satu tempat pembelajaran agama favorit.
 
Apa sebenarnya yang menjadi kekuatan Nyai Masriyah Amva memimpin Pesantren Kebon Jambu yang mayoritas santrinya didominasi oleh pria? Lalu bagaimana respons dirinya terhadap anggapan jika seorang wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin?
 
Cerita sang Nyai dirangkum dalam film dokumenter berjudul Pesan dari sang Nyai yang tayang dalam program Melihat Indonesia di Metro TV pada Minggu, 25 Oktober 2020 pukul 10.30 WIB. (RO/H-1)
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]

Revisi terkini pada 14 Juli 2025 21.14

Info Artikel

Sumber Original : fahmina.id
Penulis : Redaksi
Tanggal Publikasi : 2 September 2014
Artikel Lengkap : Perempuan Cirebon dapat Anugerah S.K. Trimurti 2014

Pada Jumat (22/8) lalu, Nyai Hj Masriyah Amva menerima anugerah Penghargaan S.K. Trimurti 2014 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Anugerah kepada pimpinan Pondok Pesantren Kebon Jambu Cirebon tersebut diberikan di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta.

Pada kesempatan itu, Nyai Masriyah mengungkapkan kegembiraannya. “Penghargaan ini anugerah yang tak terkira nilainya. Menjadi modal saya untuk mengumandangkan perjuangan kesetaraan gender yang lebih luas lagi,” ujar perempuan berusia 52 tahun ini.

Menjadi pimpinan pondok, bukanlah hal yang lazim di kalangan ulama. Dia memimpin pondoknya sepeninggal suaminya. Pondok pesantren tradisionalnya berkembang menjadi pondok modern yang mengembangkan nilai-nilai pluralisme dan kesetaraan gender di kalangan santri dan masyarakat sekitarnya. Di tengah kesibukannya mengasuh para santri, Nyai Masriyah produktif dalam menghasilkan berbagai karya. Hingga saat ini tak kurang 12 buku dan novel telah diterbitkan. Salah satu karyanya yang fenomenal Bangkit dari Terpuruk: Kisah Sejati Seorang Perempuan tentang Keagungan Tuhan.

Salah satu juri penghargaan, Masruchah (Wakil Ketua Komnas Perempuan) mengatakan perjuangan Masriyah patut diapresiasi terutama karena kegigihan dan konsistensinya. Apalagi saat ini Indonesia sedang menghadapi gerakan intoleransi dan budaya patriarki. “Dia sosok yang berusaha mendobrak, melawan, berjuang di tengah lingkungan yang sarat isu agama dan fundamentalisme,” ujar Masruchah.

Juri penghargaan yang terdiri dari Masruchah (Wakil Ketua Komnas Perempuan), Listyowati (Direktur Eksekutif Kalyanamitra), dan Luviana (jurnalis KBR 68H) sepakat memilih Masriyah setelah melalui serangkaian seleksi terhadap belasan kandidat. . . . .