Masriyah Amva

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Hj. Masriyah Amva
Masriyah Amva.jpg
Tempat, Tgl. LahirCirebon, 13 0ktober 1961
Aktivitas Utama
  • Pengasuh Pesantren Kebon Jambu al-Islamy di Babakan Ciwaringin Cirebon
Karya Utama
  • Ketika Aku Gila Cinta, Cara Mudah Menggapai Impian

Nyai Hj. Masriyah Amva lahir di Babakan, Ciwaringin, Cirebon pada 13 0ktober 1961. Ia adalah seorang ulama perempuan penulis, penyair, spiritualis dan pimpinan Pondok Pesantren Jambu al-Islamy, Babakan, Ciwaringin, Cirebon.

Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) tahun 2017 dilaksanakan di Pondok Pesantren yang dipimpin oleh Nyai Masriyah. Tidak ada satu catatan di dalam sejarah bahwa ulama perempuan pernah melakukan kongres sebelumnya, baik di Indonesia maupun dunia. Bahkan penyebutan istilah “ulama perempuan” sendiri masih debatable. Meski tidak menyebut “kongres pertama”, KUPI 2017 dapat disebut sebagai kongres pertama ulama perempuan, baik di Indonesia maupun dunia.

Riwayat Hidup

Nyai Masriyah memperoleh pendidikan pertama dari orang tuanya. Ibunya, al-maghfurlah Hj. Fariatul ‘Aini yang sehari-hari berkiprah sebagai ustadzah adalah sosok gigih yang aktif dalam berkegiatan sosial dan dakwah. Sementara ayahnya, al-maghfurlah KH. Amrin Khanan adalah sosok kiai dan ulama pesantren traditional yang istiqamah mengajar dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Kakeknya K.H. Amrin dan KH. Abdul Hannan adalah dua ulama kharismatik yang disegani bukan hanya karena kedalaman ilmunya tetapi juga karena ketekunan dan kesabaran mereka dalam membimbing para santri dan masyarakat setempat.

Sejak kecil Masriyah hidup di lingkungan pesantren yang dipimpin oleh orang tuanya. Ayahnya mengajarkan anak-anak perempuannya untuk menempuh pendidikan yang sama dengan laki-laki. Keteladanan orang tua Masriyah dalam mendidik puterinya, bisa dilihat dari putri-putrinya yang mendapatkan perhatian dan pendidikan yang sama seperti anak laki-laki pada umumnya.

Ia sempat belajar di Pesantren Al-Muayyad Solo, Pesantren Al-Badi'iyyah Pati, Jawa Tengah, dan Pesantren Dar al-Lughah wa Da'wah di Bangil, Jawa Timur. "Ketika itu orang tua saya punya anak perempuan terus, walaupun kemudian ada adik saya laki-laki, lalu akhirnya mereka bertekad agar anak-anak perempuannya mendapatkan pendidikan yang sama," kata Masriyah.

Ketika belajar di Bangil, ia menikah dengan suami pertamanya, KH. Syakur Yasin, dan menetap di Tunisia selama empat tahun. Setelah delapan tahun menikah, mereka bercerai dan beberapa tahun kemudian Masriyah menikah dengan KH. Muhammad, pengasuh Pesantren Kebon Melati. Mereka berdua mendirikan Pesantren Kebon Jambu, dan ketika itu Masriyah mengelola pesantren puteri.

Namun, KH Muhammad meninggal dunia pada tahun 2007. Saat itu, para santri, yang dititipkan orang tua mereka karena melihat sosok kharismatik Kiai Muhammad, mulai meninggalkan pesantren yang kehilangan kiainya.

"Ini menjadi pukulan yang sangat berat bagi saya dan keluarga, apalagi ini merupakan pesantren tradisional yang sangat patriarkhis, yang tidak menerima kepemimpinan perempuan. Ketika mereka pergi saya seperti dipukuli, rasanya gelap sekali. Ya Allah bagaimana ini mereka satu-satu mulai meninggalkan saya," ungkap Masriyah.

Ia menjalani hidupnya sebagai tulang punggung untuk “memimpin” pesantren. Tentu hal ini bukan perkara mudah. Tetapi ia tetap istiqamah dan menunjukkan kepemimpinannya. Rasa perhatian yang tinggi terhadap pendidikan membuatnya lebih bersemangat.

Saat itu tantangan terberat, menurut Masriyah berasal dari para alumni dan pengurus yang menolak kepemimpinan perempuan. "Banyak yang mengatakan juga bahwa pesantren ini akan bangkrut, karena sudah tidak ada kiainya, kalau ada yang mengatakan itu saya langsung menjerit dalam hati," ungkapnya.

"Saya tidak mungkin menyampaikan bahwa saya akan memimpin pesantren, tetapi saya katakan yang memimpin pesantren ini pengganti akang (panggilan untuk suami), yaitu Allah SWT yang langsung akan memimpin pesantren dan akan membuat kita menjadi lebih hebat, dan saat itu tak ada lagi yang permisi pulang," tambahnya.

Ia pun berhasil membuktikan bahwa dirinya bisa memajukan pesantren. Dari jumlah 300an santri saat ditinggal suami, saat ini jumlah santri di Pesantren Kebon Jambu mencapai 1400 orang—yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. "Semuanya menginap," lanjutnya.

Meskipun demikian, Masriyah kadang masih mengalami diskriminasi dari sejumlah kalangan. Di awal kepemimpinannya, ia banyak sekali mendapat cemoohan dari masyarakat, bahkan ulama-ulama besar. Nyai Masriyah kerap menghadapi laki-laki yang melakukan mansplaining kepadanya, padahal saat itu ia sudah menjadi seorang pemimpin dan juga tidak kalah berilmu. “Banyak sekali laki-laki yang menafikan kerja saya,” tuturnya.

Ketika itu, seorang kiai datang ke pesantrennya untuk menghadiri sebuah pertemuan. Kiai itu mengatakan, "Tahu tidak, kamu itu tidak ada apa-apanya, nol besar. Pesantren ini menjadi lebih maju karena menantu dan anak kamu pintar, mereka laki-laki kan?” Lantas karena kaget, Masriyah membalas, “Iya saya itu nol besar, tetapi saya tak ingin nol saya,” sambil bergurau. Kemudian ia masuk ke kamar dan menangis.

Mengalihkan kesedihan, Masriyah menulis puisi. Puisi bagi Masriyah tak hanya merupakan pelarian ketika dilanda gelisah, tetapi juga salah satu cara yang bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Di tengah kesibukannya, dia menyempatkan diri untuk menulis 'curahan hati' kepada Tuhan, dan beberapa sudah diterbitkan dalam bentuk buku.

Masriyah tidak menyangkal bahwa ada saat-saat dia merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya akibat pandangan dan sikap negatif tersebut. Namun, ia tetap berteguh dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT agar selalu diberikan kekuatan.

Tokoh dan Keulamaan Perempuan

Masriyah mengajarkan toleransi kepada para santrinya. "Saya katakan berapa ratus orang datang ke sini dengan agama dan pandangan yang berbeda, adakah mereka merusak kita? Tidak ada, kita masih seperti dulu. Akhirnya mereka mengerti bahwa menghormati itu tidak mengancam agama mereka, tidak mengancam kehidupan mereka, dan tidak mengancam iman mereka sedikit pun. Bahkan memperindah, dan mempertebal iman mereka," kata Masriyah.

Setiap hari Masriyah membuka pintu pesantren untuk tamu dari berbagai kalangan. Ia tidak membatasi etnis dan juga agama. Di sebuah pendopo di teras rumahnya, tampak foto dirinya bersama dengan tokoh-tokoh dari berbagai agama dan negara.

Masriyah pun mulai berdekatan dengan isu gender yang bermula dari pengalamannya memimpin pesantren yang cenderung patriarkhis sehingga tidak menerima kepemimpinan perempuan. Di lingkungan pesantren ini, ia mengajarkan kesetaraan gender sekaligus mempraktikkannya.

"Saya selalu menjelaskan bahwa agama tidak melarang kesetaraan gender, karena sesungguhnya menjadikan agama kita menjadi lebih hidup, lebih maju, agar setara dengan lelaki. Kalau laki-laki bersandar kepada Allah kepada Tuhan, lalu perempuan bersandar kepada laki-laki, itu jelas tidak sama. Maka jelas, perempuan yang seperti itu akan lemah. Perempuan harus mempunyai sandaran yang sama agar setara dengan laki-laki, yaitu kepada Tuhan," kata Masriyah.

Meski di Indonesia banyak sosok ulama perempuan yang mumpuni, Masriyah melihat masih banyak kalangan yang menganggap perempuan tidak bisa menjadi ulama. Padahal, ulama perempuan memiliki peran strategis untuk menyelesaikan masalah-masalah di masyarakat, terutama yang dihadapi perempuan. "Saya sering kali menerima keluhan dari para istri yang diperlakukan tidak adil oleh suami, ada yang mengalami KDRT," tuturnya. Untuk itu, dia merasa berkewajiban untuk terus menyebarluaskan pentingnya pemahaman kesetaraan gender di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar, agar perempuan diperlakukan secara adil.

Dia berharap kepada berbagai kalangan yang merasa 'terancam' dengan gerakan kesetaraan ini agar dapat mengubah sikap mereka. "Kesetaraan gender itu tidak akan mengotori agama kita, bahkan akan memberikan cahaya pada agama kita, membuat kita lebih maju. Saya selalu katakan kesetaraan gender tidak akan membantai laki-laki, akan kita junjung, akan kita muliakan, jangan takut dengan gerakan ini karena akan membuat laki-laki menjadi lebih hebat," kata Masriyah. Ia juga menolak anggapan kalangan yang menyebutkan kesetaraan gender tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Kiprah dan pengalaman Masriyah memimpin pesantren yang hanya menerima kepemimpinan laki-laki membuktikan bahwa perempuan pun bisa memimpin di lembaga dan ranah keagamaan. Sudah 13 tahun ia memimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy di Cirebon.

Selain tantangan dari masyarakat, selama setahun ini ia juga menghadapi tantangan besar karena pandemi COVID-19. Pembelajaran yang seharusnya dilakukan secara tatap muka tidak bisa lagi dilakukan. Pada empat bulan pertama pandemi, Masriyah memutuskan untuk memberhentikan sementara semua aktivitas pesantren. Dengan sekuat tenaga dan penuh empati, ia berusaha keras agar orang-orang yang bekerja di pesantren tetap bisa hidup.

Sebagai seorang ulama perempuan yang berpegang pada interpretasi ajaran Islam yang berkesetaraan gender, Masriyah tidak suka memaparkan banyak teori. Ia lebih banyak mencontohkan dalam perbuatan sehari-hari atau lewat obrolan santai bersama santri dan guru.

Masriyah selalu mendorong para santri perempuannya untuk selalu percaya diri dan tidak minder ketika berkompetisi dengan laki-laki. Hal ini juga merupakan salah satu contoh bagaimana ‘mendidik anak perempuan menjadi pemimpin’. “Saya sering mengarahkan mereka bahwa perempuan dan laki-laki itu memiliki kesadaran dan kesempatan yang sama, kalau sandaran kita sama. Kalau perempuan bersandarnya kepada Tuhan, laki-laki juga begitu. Maka kekuatannya sama,” kata Masriyah.

Prestasi dan Penghargaan

Upayanya untuk mengajarkan kesetaraan gender dan pluralisme di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitarnya, membuat dia diberi penghargaan antara lain Albiruni Award sebagai tokoh yang sukses mengembangkan dakwah melalui seni dan budaya (2012), serta SK Trimurti Award sebagai tokoh gender dan pluralis (2014).

Karya-Karya

Sejak 2007 Masriyah telah menerbitkan lebih dari 20 buku berupa novel dan puisi, yang bertemakan motivasi serta ketuhanan. Di antaranya adalah Ketika Aku Gila Cinta, Cara Mudah Menggapai Impian, dan Matematika Allah.

Sumber Tulisan dan Bacaan Lanjutan

  • Yusron Razak dan Ilham Mundzir. 2019. “Otoritas Agama Ulama Perempuan: Relevansi Pemikiran Nyai Masriyah Amva Terhadap Kesetaraan Gender dan Pluralisme”. Jurnal Palastren, Vol. 12, No. 2 (2019). https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/Palastren/article/view/5981
  • Deden Gunawan. 2021. “Blak-blakan Nyai Masriyah Amva: Perjuangkan Kesetaraan Gender Tak Rusak Agama”. DetikNews. [21 April 2021]. https://news.detik.com/berita/d-5540283/masriyah-amva-perjuangkan-kesetaraan-gender-tak-rusak-agama


Penulis : Rusli Latief
Editor : Nor Ismah
Reviewer : Faqihuddin Abdul Kodir