Umdatul Choirot

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Umdatul Choirot
Gagal membuat miniatur: Tidak dapat menyimpan berkas kecil ke tujuan
Aktivitas Utama
  • Kepala MA Al-I’dadiyyah Bahrul Ulum, Jombang
  • Pengasuh PP. As-Sa’idiyah II, Bahrul Ulum, Jombang
  • Pemateri rutin di Sekolah Perempuan Berlian “Puspa Arimbi” Kabupaten Jombang
Karya Utama
  • Menulis lirik lagu “Sebelum Subuh”, lirik mars Bahrul Ulum, dan lirik mars MA I’dadiyah

Umdatul Choirot atau Bu Um, demikian ia biasa dipanggil, adalah pengasuh Pondok Pesantren As-Saidiyah II Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. Ia mengenyam pendidikan dasar dan menengah di tempat kelahirannya di Jombang, yakni MI Tambak Beras kemudian MMA Tambak Beras, sebelum kemudian hijrah ke Yogyakarta untuk berkuliah di IAIN Sunan Kalijaga. Puteri kedua dari enam bersaudara ini memulai kariernya sebagai aktivis sejak di bangku Aliyah, tepatnya di IPPNU Jombang. Selanjutnya, ia pernah memimpin Fatayat NU Jombang, menjadi pengurus RMI puteri dan Lakpesdam NU Pusat.

Pada saat pelaksanaan KUPI di Cirebon, Bu Um hadir sebagai peserta yang juga tampil membacakan hasil-hasil dari kongres pertama tersebut. Paska pelaksanaan KUPI, ia beberapa kali diminta pandangannya oleh KUPI berkaitan dengan persoalan-persoalan perempuan, seperti perihal RUU Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Ramadhan tahun 2021 lalu, ia juga diminta KUPI untuk mengisi pengajian kitab kuning Nasho’ihul Ibad berbasis virtual setiap pukul 10.30 hingga 11.30 WIB.

Riwayat Hidup

Sejak beberapa tahun belakangan, ibu tiga anak dan nenek dari enam cucu ini membatasi aktivitasnya di luar karena gangguan kesehatan. Ia mengaku tidak ingin banyak terlibat pada persoalan yang ‘mumet-mumet’ (membuat pusing), namun ia tetap ingin melakukan sesuatu. Oleh karena itu, ia mempersempit target dakwahnya tetapi memperbesar skala kontribusinya. Ia mandori (memantau) pembangunan pondok dan memastikan setiap detailnya sudah sesuai dengan yang diharapkan untuk kenyamanan para santri. Ketika ditanya dari mana ia memperoleh ilmu teknis tentang itu semua, Bu Um hanya tersenyum dan menjawab bahwa hal tersebut ia rasa semacam ladunni; datang begitu saja dan seperti sudah menemukan bentuknya.

Sehari-hari, Bu Um rutin berjalan-jalan ke seputar kompleks pesantren untuk membangunkan santri putera hingga memastikan kebersihan dan keteraturan pondok terjaga. Fasilitas ranjang susun yang disedikan untuk para santri tidak pernah luput dari pantauannya, termasuk bantal-bantal yang sudah harus diganti, pakaian dan perlengkapan yang sudah harus masuk laundry, dan kebersihan pondok secara umum. Tentu saja di luar itu, Bu Um juga memastikan aspek-aspek lain seperti kedisiplinan, keamanan, kesehatan, hingga hal-hal yang sifatnya sekunder bahkan tersier. Santri puteri yang membutuhkan perawatan wajah khusus kerap ia ajak ke salon hingga ke dokter kulit.

Slogan As-Saidiyah II sebagai pondok yang ramah anak dan anti-bullying ia terapkan melalui langkah-langkah unik yang bisa jadi tidak mudah ditemukan di pesantren lain. Santri yang melanggar peraturan, misalnya, tidak serta-merta dihukum atau mendapat sanksi, tetapi mengikuti konseling. Bu Um meyakini bahwa perilaku-perilaku semacam itu bisa disebabkan berbagai faktor, termasuk kondisi orang tua di rumah. Maka dari itu, Bu Um mendirikan pengajian wali santri bulanan yang juga berisi forum konseling dengan materi persoalan rumah tangga dan pendidikan anak. Akhirnya Bu Um sering juga memfasilitasi rekonsiliasi konflik antarpasangan. Kanal itu jugalah yang Bu Um jadikan ruang untuk membentuk kesadaran yang sensitif gender. Forum lain yang didirikan Bu Um secara swadaya adalah jam’iyah janda yang memfasilitasi para anggotanya untuk mendapatkan materi soal kesehatan lansia, senam lansia, santunan, dan sarapan pagi bersama.

Selain resik-resik pondok yang nyaris ia lakukan setiap hari, aktivitas utama Kepala Sekolah MA Al-I’dadiyyah Bahrul Ulum ini adalah mengajar, baik di kelas formal maupun memberi materi pelatihan untuk kesadaran gender di masyarakat. Ia mengaku diamanahi mendiang ayahnya untuk mengampu mata pelajaran tafsir di Aliyah, termasuk di kalangan santri putera. Tafsir Rawai’ al-Bayan Ash-Shabuni, menurut mendiang sang ayah, harus tetap diampu Bu Um agar nalar kesetaraannya jalan dan tidak diajarkan secara textbook. Kata rijal di dalam QS. an-Nisa’ [34], misalnya, menurut Bu Um tidak harus diartikan laki-laki, tetapi siapa pun, antara suami dan istri dalam sebuah keluarga, yang mampu melakukan mobilitas dan bergerak untuk kesejahteraan keluarga. Ini merupakan salah satu materi yang sering ia sampaikan kepada santri-santrinya. Menurutnya, beberapa santri tidak selalu sepakat dengan apa yang ia sampaikan bahkan blak-blakan menunjukkan penolakan.

Merespon penolakan tersebut, Bu Um biasanya bersikap santai saja dan pelan-pelan menjelaskan bahwa jika pandangan tersebut tidak diubah dan suatu saat mereka memiliki anak perempuan, maka si anak perempuan akan menderita dan terpuruk. Bu Um juga sering membuat pengandaian jika seorang suami belakangan mendapat halangan untuk mencari nafkah sementara si istri bergantung sepenuhnya kepada suami, ekonomi rumah tangga akan collapse dan kesejahteraan anak-anak menjadi terancam. Itulah mengapa, Bu Um selalu mengimbau para santri putera untuk memberi peran dan kesempatan kepada isteri-isteri mereka ketika kelak sudah menikah. Santri-santri senior, tuturnya, justru banyak yang belakangan berterima kasih atas penanaman wawasan kesetaraan gender yang ia lakukan. Bu Um berharap para santri yang ia didik langsung bisa menjadi corong pesantren untuk mensyiarkan pesan-pesan kesetaraan.

Tokoh dan Keulamaan Perempuan

Sementara itu di masyarakat, Bu Um juga rutin diundang untuk menjadi pembicara dalam forum yang bertajuk Sekolah Perempuan (SEKOPER) Berlian oleh Komunitas Puspa Arimbi di Balai Desa Tambak Rejo, Jombang. Forum dua mingguan yang dilaksanakan dalam 3 atau 4 kali pertemuan ini adalah wadahnya yang lain untuk menanamkan kesadaran akan keadilan gender di masyarakat. Meski sebagai program pemerintah, ia secara spesifik bertujuan membangun kesadaran perihal hak-hak reproduksi dan hak setiap suami isteri dalam membina keluarga sakinah. Peserta forum ini, seperti namanya, adalah ibu-ibu produktif di desa setempat dengan jumlah maksimal 30 orang.

Dialog dua arah serta iklim kondusif yang diciptakan memungkinkan partisipan untuk bertanya dan berkomunikasi langsung dengan Bu Um selaku pembicara. Jika tidak demikian, beberapa partisipan ada yang mengirim pesan via aplikasi WhatsApp. Tentu saja, tidak semua partisipan sepakat dengan apa yang disampaikan Bu Um. Seorang peserta pernah melayangkan complain kepada Bu Um setelah mendengar pandangannya yang menolak poligami. Selain itu, Bu Um bersama beberapa ibu nyai muda juga bekerja sama dengan Women Crisis Center di mana ia kerap menjadi pemateri di wilayah-wilayah dampingan WCC. Bagi Bu Um, dakwah kecil-kecil semacam itulah yang bisa ia lakukan saat ini.

Kegetolan Bu Um menyuarakan hak-hak perempuan serta akses ke sektor publik tak bisa dilepaskan dari pengalaman pribadinya. Penerimaan Bu Um terhadap perspektif tersebut berawal dari didikan ayahnya langsung, mendiang Abah Nasrulloh. Memiliki lima anak perempuan, Abah Nas menurutnya selalu mendidik kelima putrinya untuk berani, maju, dan tidak minder karena terlahir sebagai perempuan. Abah Nas sering mengatakan bahwa banyak perempuan yang pintar, seperti Zakiah Drajat, sehingga Zakiah-Zakiah lain juga akan muncul. Sebaliknya, Abah Nas juga tidak segan menyebutkan contoh laki-laki yang dianggap bodoh untuk membesarkan hati para puterinya bahwa mejadi perempuan bukan merupakan penghalang untuk berkontribusi bagi masyarakat dan mengembangkan diri.

Fondasi demikian kembali diperkuat oleh Pak Hasan, suami Bu Um yang begitu mendukung aktivitas dakwahnya. Bu Um mengaku peran Pak Hasan demikian besar dalam melengkapi dan memudahkan aktivismenya. Keduanya saling melengkapi. Profesi Pak Hasan sebagai PNS membuat Bu Um tidak menyasar pekerjaan yang sama agar, menurutnya, ada yang nggawangi di rumah. Pak Hasan juga dengan siaga mem-back-up semua aktivitas Bu Um. Ketika harus ikut pelatihan di Jakarta, Pak Hasan tidak segan membelikan tiket pesawat ketika moda transportasi tersebut masih terbilang mahal dan tidak banyak dipilih orang ketika itu.

Dengan perannya yang demikian sentral di pondok maupun di lingkungan yang meski belakangan semakin terbatas tersebut, Bu Um bukan tidak pernah menerima komentar kurang mengenakkan. Cibiran sebagai bu nyai gender yang disampaikan dengan sinis, misalnya, kerap ia terima. Bu Um mengaku cuek saja dengan respon-respon yang demikian dan merasa tidak dirundung. Ia menilai bahwa komentar semacam itu biasanya datang dari mereka yang tidak siap menerima perbedaan. Karenanya, ia tidak terlalu mempedulikan dan lebih fokus mengembangkan peluang ulama perempuan yang ia nilai demikian besar untuk melanjutkan perjuangan yang sudah dimulai.

Gerakan ulama perempuan seperti KUPI, baginya adalah upaya untuk mengeksiskan diri sendiri, orang lain, lembaga, termasuk calon-calon ulama perempuan yang saat ini masih nyantri. KUPI, menurut Bu Um, bisa menjadi role model atau contoh dari kelembagaan ulama perempuan dengan kekuatan yang luar biasa. Tanpa kelembagaan semacam ini, Bu Um melihat bahwa akan cukup susah untuk membangun kekuatan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, seperti RUU PKS yang membutuhkan dukungan institusional untuk memeratakan semangat pengarusutamaan gender.

Penghargaan dan Prestasi

Semasa bersekolah, Bu Um pernah memenangkan kompetisi menghafal 500 bait Alfiyyah Ibnu Malik, kitab rujukan nahwu (gramatika Arab) yang otoritatif. Selebihnya, capaian-capaian Bu Um tidaklah di level formal, tetapi lebih pada hal-hal yang sifatnya kultural-sosial. Ia beberapa kali diutus untuk menghadiri berbagai pertemuan, seperti pertemuan di Filipina bersama Masdhar F. Mas’udi dan para ulama perempuan pesantren pada 1997. Bu Um juga sempat mendapat rekomendasi ke US (meski kemudian tidak ia ambil) untuk menghadiri peringatan 9/11 sekitar tahun 2002. Lain dari itu, Bu Um juga memupuk jiwa wirausaha para santrinya dengan memafsilitasi mereka melakukan budi daya jamur dan lele.

Karya-Karya

Di antara beberapa karya monumental Bu Um adalah desain masjid etnik di pesantrennya yang diberi nama Masjid Sunan Kalijaga. Seperti ketika menjadi mandor pembagunan pondok, Bu Um juga turun langsung merancang, mendesain, dan menentukan tiap detail dalam masjid etnik tersebut. Selain itu, beberapa lagu pendidikan karakter juga berhasil ia ciptakan dan beberapa di antaranya menjadi mars pondok, sekolah (MA I’dadiyyah) hingga kampus (Unwaha) serta dihafal dan dinyanyikan santri di setiap acara-acara seremonial. Bu Um menambahkan bahwa dalam soal irama dan notasi, ia bekerja sama dengan rekannya sementara ia sendiri lebih fokus pada penyusunan lirik. Selain itu, semasa S-1, Bu Um menulis skripsi tentang Pandangan Ibnu Katsir terhadap Tafsir-tafsir Israiliyyat.

Daftar Bacaan Lanjutan


Penulis : Masyithah Mardhatillah
Editor : Nor Ismah
Reviewer : Faqihuddin Abdul Kodir