Review Dokumenter ‘Pesantren’: Membongkar Stigma Buruk Pesantren

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Info Artikel

Sumber Original : magdalene.co
Penulis : Theresia Amadea
Tanggal Publikasi : August 3, 2022
Artikel Lengkap : Review Dokumenter ‘Pesantren’: Membongkar Stigma Buruk Pesantren

Alunan suara orang sedang mengaji membuka film Pesantren di bioskop. Merdunya suara santri yang sedang mengaji diganti dengan kesunyian di kamar santri lain yang sedang terlelap, lalu terbangun demi sholat subuh.

Pondok pesantren yang menjadi subyek dalam film ini adalah Pondok Kebon Jambu Al-Islamy yang terletak di Cirebon, Jawa Barat. Mungkin dari luarnya terlihat sama seperti pondok pesantren lainnya, tetapi pondok pesantren dengan 2.000 santri ini memiliki keunikan. Ia dipimpin seorang perempuan,Nyai Hj. Masriyah Amva.

Suasana pesantren yang sederhana, tempat belajar agama, kental di setiap adegan yang ditunjukan dalam layar lebar. Film ini bisa menjadi opsi perkenalan terhadap Islam kepada komunitas yang bukan Muslim, terlebih kepada dunia. Terutama, orang-orang yang selama ini mengenal Islam lewat lensa negara barat. Bingkai yang biasanya menyerempeti ekstremisme, radikalisme, dan fanatisme Islam dalam pondok pesantren.

Mungkin begitu, buat penonton global di International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA), festival film dokumen terbesar di dunia. Sebab sebelum tayang luas di bioskop Indonesia tahun ini, Pesantren telah lebih dulu tayang di sana, pada 2019 lalu. . . . .