Para Perempuan Fenomenal Penulis tentang Pesantren, Ada Sosok Favoritmu?
Info Artikel
| Sumber Original | : | tugumalang.id |
| Penulis | : | Fitriatul H. (Magang) |
| Tanggal Publikasi | : | Oktober 17, 2023 4:11 pm |
| Artikel Lengkap | : | Para Perempuan Fenomenal Penulis tentang Pesantren, Ada Sosok Favoritmu? |
Tugumalang.id – Selain mengaji Alquran dan mengkaji kitab kuning, banyak kegiatan yang menopang para santri dalam mengembangkan kemampuannya di pesantren agar tidak buta intelektual ketika keluar dari pesantren.
Hadirnya beberapa penulis perempuan yang lahir di lingkungan pesantren memiliki peran penting dalam mengembangkan literasi pesantren. Mereka menuliskan pengalaman dan ilmu yang didapat dari kehidupan pesantren sehingga memberitahu masyarakat bagaimana kehidupan di balik pondok pesantren.
Kali ini akan diulas tiga penulis perempuan fenomenal yang berkontribusi pada literasi pesantren. Penulis-penulis ini telah banyak melahirkan karya-karya yang kini dikonsumsi oleh publik.
1. Khilma Anis
Siapa yang tidak tahu penulis satu ini, baru-baru ini novelnya diangkat menjadi sebuah film yang tayang pada bulan Mei lalu yakni “Hati Suhita”. Film ini dibintangi oleh Nadya Arina, Omar Daniel, Anggika Bolsterli.
Khilma Anis merupakan putri KH. Lukman Yasir, M.Si dan Dra. Hj. Hamidah Sri Winarni, M.Pd.I. Dia memulai bakatnya di dunia literasi di Majalah Susana (Suara Santri Assaidiyah) Tambak beras Jombang.
Saat sekolah pun ia sudah bergelut di dunia media yakni menjadi redaktur di majalah ELITE (sebuah majalah yang berisi siswa-siswi MAN Tambak beras Jombang) dan juga pemimpin redaksi Majalah Kresida (Kreativitas Siswa-siswi Jurusan Bahasa).
Kontribusinya dalam kehidupan literasi pesantren dimulai dari karya fiksinya yang berjudul Jadilah Purnamaku Ning, Wigati, Hati Suhita.
2. Nyai Hj. Masriyah Amva
Penulis perempuan kedua yang memiliki kontribusi dalam literasi pesantren adalah ibu nyai Hj. Masriyah Amva. Dia adalah pengasuh pondok pesantren Jambu al Islamy yang berada di desa Babakan, Ciwaringin, Cirebon. Selain mengasuh pondok pesantren, dia juga seorang penulis dan ulama perempuan yang disegani.
Pada tahun 2017, pesantrennya menjadi tempat Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang membahas literasi pendidikan pesantren terkait pemahaman gender di dalam Islam. Dia pertama kali mendapat pendidikan gender dari orang tuanya yaitu al-maghfurlah Hj. Fariatul ‘Aini dan juga al-maghfurlah KH. Amrin Khanan.
Ia mendapat wawasan kesetaraan gender dalam hal pendidikan dari orang tuanya dan kini ia memiliki lebih dari 20 karya berupa novel maupun puisi. Salah satunya adalah Matematika Allah, Cara Mudah Menggapai Impian. . . . .