Menyamai Kebaikan dan Perdamaian dari Pesantren

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Info Artikel

Sumber Original : shebuildspeace.id
Penulis : Hasna Azmi Fadhilah
Tanggal Publikasi : 1, October, 2022
Artikel Lengkap : Menyamai Kebaikan dan Perdamaian dari Pesantren

Setahun terakhir, citra pondok pesantren sempat ternodai oleh tindakan buruk oknum tertentu dari bullying hingga kekerasan seksual. Sehingga ada semacam kekhawatiran orangtua untuk menitipkan anaknya ke pesantren. Meski dilanda badai informasi negatif, masyarakat yang jeli seharusnya tidak perlu takut dan justru persoalan yang ada harus dijadikan bahan masukan kepada pihak-pihak terkait. Seperti Kementerian Agama, yayasan pesantren dan orangtua untuk bahu-membahu memberikan input positif agar pesantren tetap menjadi salah satu opsi terbaik bagi generasi muda untuk meneruskan pendidikannya.

Terlebih dari catatan sejarah, pesantren memiliki peran strategis dalam membangun bangsa Indonesia. Bahkan ketika masa penjajahan, pesantren turut serta dalam menjaga keutuhan wilayah NKRI dan bergerak bersama dengan segenap elemen negara dan masyarakat untuk meraih kemerdekaan. Dalam perkembangannya kini, pesantren bergerak lebih luas. Tidak terbatas pada pendidikan semata, tapi ikut bergerak dalam program-program lain seperti pengentasan kemiskinan dengan kolaborasi proyek ekonomi dan bisnisnya.

Dari aspek historis tersebut, merujuk pernyataan Kiai Cholil, “pesantren memegang peran strategis dalam banyak hal, seperti menjaga akhlak bangsa, (bahkan) pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan tapi juga menjalankan peran dakwah dan pemberdayaan umat.”

Dari apa yang disampaikan Ketua MUI bidang ukhuwah dan dakwah tadi, beberapa peristiwa negatif yang terjadi di pesantren harus menjadi bahan refleksi agar ke depannya pesantren jauh lebih mawas diri dan terus melakukan perbaikan. Langkah-langkah improvisasi dari pesantren juga didukung oleh Bu Nyai Masriyah Amva. Pemimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu ini tidak tinggal diam ketika melihat adanya budaya patriarki dan kekerasan yang terjadi di lingkungan pondok. . . . .