Menemukan Makna Kemanusiaan dengan Kesadaran Disabilitas

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Info Artikel:

Sumber Original : Mubadalah.id
Tanggal Publikasi : 15/02/2023
Penulis : Nurul Latifah
Artikel Lengkap : Menemukan Makna Kemanusiaan dengan Kesadaran Disabilitas

Mubadalah.id – Bersyukurlah kita yang masih memperoleh karuniai anggota tubuh sebagaimana fungsinya. Mata yang senang melihat pemandangan indah. Tangan yang gemar bermain lato-lato. Kaki yang bebas berjalan-jalan ke mana pun kita mau. Telinga yang suka alunan musik sampai tidak jarang kita ikut bernyanyi. Itu semua nikmat yang terkadang kita lupa dan baru tersadar saat kita sakit. Hingga lambat menyadari makna kemanusiaan di sekitar kita.

Pernahkah kita berpikir tentang perbedaan kemampuan orang lain atas kenikmatan tersebut? Disabilitas adalah kondisi fisik, mental, intelektual dan/atau sensorik yang seseorang alami dalam jangka waktu lama yang membatasi interaksi dan aktivitas sehari-hari.

Seringkali kita menjumpai di masyarakat masih menyebut disabilitas dengan “cacat”. Sebutan tersebut sesungguhnya tidak manusiawi. Kata “cacat” terkesan negatif, rusak, tidak berguna, tidak normal. Penyebutan “cacat” pada seseorang tidak hanya akan menimbulkan dampak psikologis seperti sedih dan rendah diri, akan tetapi juga memicu munculnya diskriminasi bahkan kekerasan.

Penyandang disabilitas kadang masih kita nilai dari apa yang terlihat, bukan dari bagaimana kinerja mereka. Tidak semua penyandang disabilitas bisa bersekolah, kekhawatiran akan perundungan (bullying), akses ke sekolah luar biasa (SLB) yang jauh dari tempat tinggal masih menjadi alasan orang tua untuk tidak menyekolahkan anak berkebutuhan khusus. Mereka lebih memilih untuk berdiam di rumah.