Liya Aliyah

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Liya Aliyah al-Himmah (Almh.)
Aliyah al Himmah.jpeg
Tempat, Tgl. LahirCirebon, 5 Januari 1972
Karya Utama
  • Penulis Buku Tafsir Ayat-Ayat Seksualitas dalam Al-Qur'an (2006)

Liya Aliyah al-Himmah lahir pada 5 Januari 1972 di Arjawinangun, Cirebon. Ia wafat pada 21 Juli 2014 di usia 42 tahun. Pada masa hidupnya, ia merupakan seorang ulama perempuan yang aktif melakukan kegiatan dakwah dalam rangka mengampanyekan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Ia merupakan kader ulama perempuan dari Rahima dan terlibat aktif di Fahmina sebagai Ketua Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir pada Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Riwayat Hidup

Nyai Liya Aliyah al-Himmah yang memiliki nama asli Aliyah saja merupakan anak dari KH. Ahmad Baidlowi Sulaiman dan Nyai. Hj. Channah Syathori. Namanya berubah dari Aliyah menjadi Liya Aliyah, kemdian berubah menjadi Liya Aliyah al-Himmah sejak KH. Ali Maksum, gurunya di Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, menambahkan nama al-Himmah. Namun, keluarga dan kerabat, serta para santrinya sering memanggilnya “Angyah” sebagai panggilan akrab.  Sisipan “Ang” di awal adalah panggilan cepat dari kakang (dalam bahasa Cirebon yang berarti kakak), dan “yah” merupakan akhiran dari namanya “Aliyah”. Ia lahir dan besar hingga wafat di lingkungan Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon.

Pendidikan pertama ia peroleh dari Umi dan Bapaknya yang merupakan guru pertama. Liya Aliyah kecil diajari budi pekerti, tata kehidupan, dan mengenali huruf Arab serta latin. Setelah melek huruf Arab dan latin, ia melanjutkan pendidikan formal ke SDN III Arjawinangun, Madrasah Ibtidaiyyah Pondok Pesantren Dar al-Tauhid al-Alawiyah Arjawinangun, dan MTsN Arjawinangun hingga lulus. Selain di Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun yang memang milik keluarga, ia juga belajar di sejumlah pesantren yang lain, seperti Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Tambakberas Jombang, Pesantren Krapyak Yogyakarta, dan Pesantren Betengan Demak.

Pendidikan tinggi ia tempuh di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Ushuludin Jurusan Tafsir Hadist untuk strata sarjana (S1), dan strata magister (S2) ditempuh di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, pada Program Studi al-Qur’an.

Sebagai ulama perempuan, selain mengajar di pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi, ia juga aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat yang memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender. Beberapa di antaranya adalah Fahmina-institute Cirebon, Rahima Jakarta, Puan Amal Hayati Jakarta, dan Lakpesdam PBNU Jakarta. Pada tahun 2005, ia bersama dengan sepupunya yang bernama Ny. Hj. Afwa Mumtaza, M.Ag. mengikuti program kaderisasi ulama perempuan yang diinisiasi oleh Rahima, yakni Pendidikan Ulama Perempuan (PUP).

Tokoh dan Keulamaan Perempuan

Nyai Liya Aliyah al-Himmah menghabiskan waktu belajarnya di Pesantren Krapyak selama 11 tahun, sejak tahun 1987 hingga 1998. Di Pesantren Krapyak, mondok pertama kali di Komplek N, asuhan Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah hingga ia menyelesaikan pendidikan Madrasah Aliyah. Ketika kuliah di IAIN Yogyakarta, Nyai Liya Aliyah al-Himmah pindah ke Pondok Gedung Putih yang diasuh oleh kakaknya yang bernama Nyai Hj. Luthfiyyah Baidlowi.

Ketika mondok di Pesantren Krapyak ia menimba banyak kitab kuning. Di antaranya adalah kitab Mutammimah al-Ajurumiyyah, Alfiyah Ibnu Malik, Ibnu Aqil, Riyadusholihin, Tafsir Jalalayn, al-Itqan fiy ‘Ulumil Qur’an, al-Muhadzdzab, Kifayatul Akhyar, Taysir Mushthalahul Hadits, al-Wahyu al-Muhammadiy, Bulughul Maram, al-Adzkar, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Risalatus Shiyam, dll.

Selama di Pesantren Krapyak, Nyai Liya Aliyah al-Himmah pernah menjadi Lurah Pondok Komplek Gedung Putih. Ia adalah lurah pertama dalam keorganisasian Pondok Gedung Putih. Tidak hanya di pondok, di sekolah ia juga pernah menjabat sebagai Ketua OSIS Madrasah Aliyah Ali Maksum. Perempuan menjadi Ketua OSIS adalah pertama kali terjadi dalam sejarah pendidikan di Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Selama menjabat sebagai Ketua OSIS, tak sedikit yang menilai bahwa Nyai Liya Aliyah al-Himmah adalah perempuan yang aktif, tegas, lincah, dan konsisten dalam memimpin. Di luar Pesantren, Nyai Liya Aliyah al-Himmah juga aktif pada organisasi KSC (Keluarga Santri Cirebon). Di KSC,  ia sering mengisi semaan Al-Qur’an yang diselenggarakan di berbagai daerah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan pada saat libur sekolah dan pesantren.

Tak hanya menjadi seorang pemimpin, karena ketekunannya, Nyai Liya Aliyah al-Himmah juga dapat menghafal Al-Qur’an 30 juz bersamaan dengan kegiatan sekolah di Madrasah Aliyah dan kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia pun dipercaya menjadi guru pada MTs dan MA Ali Maksum selama tujuh tahun, mulai dari tahun 1991 sampai 1998 sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya.

Setelah pulang ke rumah, Nyai Liya Aliyah al-Himmah mulai mengajarkan Al-Qur’an kepada santri-santri puteri di Pesantren orang tuanya. Ia juga mengajar di Madrasah Aliyah Nusantara dan Madrasah Dar al-Tauhid Arjawinangun.

Meskipun ia mengajari santri-santri, dalam waktu bersamaan ia pun tak luput untuk terus belajar untuk peningkatan ilmu bagi dirinya sendiri. Selama di rumah, Nyai Liya Aliyah al-Himmah belajar ngaji pada pamannya yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun, yaitu KH. AR Ibnu Ubaidillah Syathori atau yang akrab dipanggil dengan Abah Inu. Pada Abah Inu, Nyai Liya Aliyah ngaji kitab-kitab hadits, kutub sittah, yakni Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan Ibnu Majah, dan Musnad Ahmad Ibnu Hanbal.

Tidak puas sampai di situ, oleh karena Nyai Liya Aliyah al-Himmah merupakan seorang perempuan yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, ia memutuskan untuk melanjutkan studi jenjang magister. Mulai tahun 2000, Nyai Liya Aliyah al-Himmah studi magister di Program Studi Ilmu Al-Qur’an, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia menjadi perempuan pertama dari keluarga besarnya di Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun yang menempuh pendidikan formal sampai jenjang Magister (S2).

Ketika menempuh studi magister, Nyai Liya Aliyah al-Himmah berguru pada kakak iparnya yang merupakan Ketua Program Studi Al-Qur’an pada Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang bernama Prof. Dr. KH A Chozin Nasuha, MA. Selama studi magister, Nyai Liya Aliyah al-Himmah aktif terlibat dalam diskusi-diskusi yang diselenggarakan oleh INCReS (Institute for Culture and Religion Studies).

Dalam diskusi-diskusi itulah, Nyai Liya Aliyah al-Himmah bertemu dengan KH Marzuki Wahid yang kemudian menjadi suaminya. Pada saat itu, Kang Zekky –panggilan akrab KH Marzuki Wahid-- menjabat sebagai direktur INCReS, dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan sedang menempuh studi S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Nyai Liya Aliyah al-Himmah menikah dengan KH. Marzuki Wahid pada 3 April 2001. Keluarga KH. Marzuki Wahid tidak memiliki pesantren. Ayahnya adalah seorang kyai di kampung yang mengajar Al-Qur’an dan kitab kuning, serta menjadi penghulu di sejumlah kecamatan di Kabupaten Cirebon.

Setelah selesai menempuh pendidikan magister, Nyai Liya Aliyah al-Himmah kembali ke Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun dan mengajar di sana. Ia mendapatkan Amanah untuk memimpin Pesantren Puteri. Sebagai pemimpin Pesantren Puteri, ia menemukan banyak permasalahan santri perempuan yang akhirnya mendorongnya untuk memberikan kesadaran kepada para santri tentang pentingnya kesehatan reproduksi dalam pembelajaran dan kegiatan ekstra pesantren.  Tidak hanya kesehatan reproduksi, tetapi juga kesadaran tentang seksualitas, dan trafficking yang dikaitkan dengan pandangan keislaman. Ia menggunakan cara pembelajaran yang menarik, yaitu dengan pemutaran film tentang kesehatan reproduksi dan tentang trafficking, yang kemudian didiskusikan bersama melalui kelompok-kelompok kecil, lalu dipresentasikan ke dalam diskusi pleno.

Selama tahun 2006-2010, Nyai Liya Aliyah al-Himmah menjabat Kepala Sekolah SMP Plus Dar al-Tauhid Arjawinangun, selama tahun 2009-2011 ia menjadi PNS Dosen Tafsir Hadist pada STAIN Pekalongan, dan pada tahun 2011 mutasi dosen dari STAIN Pekalongan ke IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Sampai akhir hayatnya, ia merupakan dosen di Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan sebagai Ketua Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Selain menjadi bagian dari gerakan Fahmina, Nyai Liya Aliyah al-Himmah juga aktif dalam gerakan perempuan, baik secara institusional maupun diskursus. Di antaranya adalah aktif dalam pendidikan ulama perempuan yang diselenggarakan oleh Rahima, aktif dalam program fiqh demokrasi yang diselenggarakan P3M, dan aktif dalam Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan, yakni kaderisasi ulama Syuriyah NU, yang diselenggarakan Lakpesdam PBNU pada tahun 2012.

Dengan demikian, Nyai Liya Aliyah al-Himmah adalah seorang ulama perempuan dari keluarga pesantren yang telah melakukan dobrakan-dobrakan kultural untuk keluar dari tradisi pesantren yang mengungkung dan mendomestifikasi perempuan. Pada umumnya seorang perempuan dari keluarga pesantren dijodohkan oleh keluarganya dengan laki-laki yang juga dari keluarga pesantren. Namun, Nyai Liya Aliyah al-Himmah menolak tradisi ini. Ia memutuskan untuk mencari sendiri belahan jiwanya dan menikah dengan seseorang yang menjadi pilihannya.

Karya-Karya

Karya akademik yang telah ditulis oleh Nyai Liya Aliyah al-Himmah di antaranya adalah tesis magister yang berjudul “Ayat-ayat Seksualitas dalam Al-Qur’an: Analisis Jender terhadap Tafsir al-Manar”, pada tahun 2003; buku berjudul “Tafsir Ayat-ayat Seksualitas dalam Al-Qur’an” yang diterbitkan oleh Prenada Media Group Jakarta, pada tahun 2006; buku saku berjudul “Kesaksian Perempuan: Benarkah Separoh Laki-laki?” diterbitkan oleh Rahima Jakarta, pada tahun 2008; artikel berjudul “Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dalam Pandangan Mufassir Indonesia: Studi atas Tafsir al-Azhar dan al-Misbah” dalam buku Ragam Kajian Kekerasan dalam Rumah Tangga diterbitkan oleh ISIF Cirebon, tahun 2012;  dan buku berjudul “Telaah Kitab-kitab Hadis: Sejarah, Penulis, Metode, dan Kontribusi” diterbitkan oleh Nurjati Press Cirebon, pada tahun 2013.

Nyai Liya Aliyah al-Himmah juga menulis artikel ilmiah dengan judul “Membincang Tafsir al-Manar: Sejarah dan Pemikiran”, pada Jurnal Diya’ al-Afkar Vol. 1 No. 1 Desember 2012, IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan artikel ilmiah dengan judul “Menyoal Relasi Gender dalam Al-Qur’an”, pada Jurnal Equalita Vol. 10 No. 2 Desember 2012, IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Adapun karya ilmiah populer yang telah ditulis oleh Nyai Liya Aliyah al-Himmah adalah artikel yang berjudul “Islam, Penelitian, dan Transformasi Sosial” dalam Harian Umum Kabar Cirebon, 27 Desember 2012,  dan artikel berjudul “Pernikahan Berarti Ke-saling-an” dalam buku Kembang Setaman Pernikahan, kado pernikahan Hilyatul Awliya dengan Muh. Alfurqon, diterbitkan di Cirebon, tahun 2014.

Penghargaan dan Prestasi

Nyai Liya Aliyah al-Himmah pernah memimpin Pesantren Puteri di Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun dan menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP Plus Dar al-Tauhid yang diangkat oleh KH. AR Ibnu Ubaidillah Syathori. Ia juga pernah menjabat Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dam Tafsir di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Daftar Bacaan Lanjutan

“Lia Aliyah: Merintis Krikulum Tafsir Berkeadilan, Kesetaraan, dan Keragaman”, dalam Nor Ismah (Ed.), Merintis Keulamaan untuk Kemanusiaan: Profil Kader Ulama Perempuan Rahima (Jakarta: Rahima, 2014)


Penulis : Irma Khairani
Editor : Nor Ismah
Reviewer : Faqihuddin Abdul Kodir