Khaira Ummah
Islam adalah agama ramah, tidak ekslusif pada bangsa tertentu melainkan terbuka pada semua jenis manusia dari kalangan apapun. Karakter yang ditekankan oleh Nabi Muhammad sejak awal mula diturunkannya risalah kenabian adalah kamanusiaan yang menyukai kasih sayang tanpa memandang bulu dan mencegah keburukan tanpa melihat suku, itulah sebabnya pengikut Nabi Muhammad adalah umat yang terbaik[1].
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik”
Setiap individu umat Islam memiliki mandat untuk menjadi sebaik-baiknya umat, mengembangkan kemampuan positif masing-masing, menyuruh pada kebaikan, mencegah kemungkaran dalam segala lini kehidupan, ekonomi, sosial, pendidikan, spiritual dan psikis.
Untuk mencapai sebaik-baiknya umat Al-Quran menyebutkan 3 sifat yang bersamaan dengan istilah khaira ummah;
1. Menyuruh pada kebaikan.
Menurut Ibn Kasīr yang dimaksud khaira ummah adalah umat yang paling banyak memberikan manfaat pada umat lainnya[2]. Semakin banyak seseorang memberi manfaat maka semakin baik di mata agama Islam. Memberi kebaikan bisa bermakna sangat luas dan semuanya dimulai dari keluarga, setiap individu berusaha memberikan manfaat dan kebaikan pada yang lainnya, laki-laki memberikan kebaikan pada perempuan, begitupun sebaliknya, perempuan memberikan kebaikan pada laki-laki. Tidak ada yang lebih berhak melakukan kebaikan dari pada yang lain karena semua manusia adalah subjek aktif melakukan kebaikan sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Imam Ahmad meriwayatkan tentang lelaki yang bertanya saat Nabi di atas mimbar perihal khaira ummah, Nabi Muhammad menjawab; “Sebaik-baik mereka adalah yang paling bisa membaca, paling takwa, paling bisa menyuruh kebaikan, palling bisa mencegah keburukan dan yang paling bisa menjalin hubungan sosial”
2. Mencegah keburukan.
Kebaikan merupakan semua hal yang dinilai baik oleh sosial dan syariat, keburukan juga seperti itu, segala hal yang dinilai buruk oleh sosial dan syariat. Penilaian baik harus terpenuhi semuanya secara vertikal/syariat dan horizontal/sosial, karena bisa jadi seseorang bisa baik menurut syariat namun tidak baik menurut sosial dan sebaliknya.
Perlu diketahui bahwa amar makruf nahi mungkar bukan sekedar bermakna menyuruh-nyuruh pada kebaikan dengan dakwah, ceramah, nasehat dan semacamnya melainkan lebih luas dari itu. Menciptakan kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang lain adalah bentuk dari amr makruf, tidak membuat orang lain celaka dalam bahaya dan sedih dalam kelaliman adalah bagian dari nahi mungkar. Menciptakan ruang aman dan bebas bagi laki-laki dan perempuan dalam keluarga dan publik adalah bagian amar makruf nahi mungkar. Berbagi tugas rumah tangga sesuai passion kemampuan masing-masing individu adalah bagian dari amar makruf nahi mungkar.
Semua hal yang mendatangkan kebaikan dan menghidar dari keburukan adalah bagian dari amar makruf nahi mungkar. Makna ini harus disadari agar singkron dengan label “Khaira Ummah” yang menjadi misi agama Islam pada setiap pemeluknya.
Dua kualifikasi ini lebih didahulukan dari pada beriman kepada Allah hanya untuk menunjukkan keutamaan amr makruf nahi mungkar[3]. Bukan untuk mengabaikan keimanan, alih-alih mengenyampingkannya, komponen ini adalah bagian yang tak kalah penting.
3. Beriman kepada Allah.
Beriman kepada Allah, percaya bahwa kekuasaan dan wewenang penuh atas seluruh makhluk-Nya hanya ada di “Tangan-Nya” dan percaya bahwa Nabi Muhammad adalah manusia paling sempurna yang terpilih untuk membawa risalah agama Islam. Keyakinan ini harus utuh tertanam dalam hati, senada dengan pandangan Nur Rofiah tentang Tauhid, konsep mengesakan Allah yang meniadakan kekuasaan, superioritas selain-Nya.
Unsur ini disebutkan di akhir sifat khaira ummah –sebagaimana dikatakan Ibn ‘Asyūr- untuk menyelaraskan ayat ini dengan ayat lain yang senada
{وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ } [آل عمران: 104]
“Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”
Dengan kata lain, visi agama Islam adalah menjadikan umatnya sebagai khaira ummah sedangkan misinya yaitu mengajak pada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran dengan berdasarkan iman kepada Allah dan rasul-Nya.
Penulis : Nur Kholilah Mannan
Editor : Nur Kholilah Mannan
Daftar Pustaka
- Wahbah az-Zuhailī, at-Tafsir al-Wasīt, (Damaskus, Dar al-Fikr: 1422) 1/226.
- Muhammad Ali as-Sābūnī, Mukhtasar Ibn Katsīr, 1981, 1/308.
- Muhammad Thahir bin ‘Asyur, at-Tahrī wa- at-Tanwīr, (Tunis, ad-Dar at-Tunisiyah: 1984), 4/50