Syarifah Rahmatillah: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tidak ada perubahan ukuran ,  19 November 2021 23.37
tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 6: Baris 6:


Ipah, demikian ia biasa dipanggil, berpandangan bahwa tujuan dan kerja-kerja KUPI sesuai dengan kerja-kerjanya selama ini yang berfokus pada perempuan dan ulama. Oleh karena itu, pasca kongres ia membangun komunikasi dengan ulama-ulama KUPI seperti Kiai Faqihuddin Abdul Qodir, [[Lies Marcoes]], dan Sandra. Dengan bergabung ke dalam gerakan KUPI, IPah dan tokoh-tokoh perempuan dan ulama di Aceh tidak merasa sendirian berjuang, dan mereka memiliki wadah serta partner yang memiliki latar belakang yang sama. Perspektif keadilan dan kesetaraan yang selama ini ia aplikasikan di dalam pekerjaan dan aktivitasnya sejalan dengan nilai-nilai KUPI.
Ipah, demikian ia biasa dipanggil, berpandangan bahwa tujuan dan kerja-kerja KUPI sesuai dengan kerja-kerjanya selama ini yang berfokus pada perempuan dan ulama. Oleh karena itu, pasca kongres ia membangun komunikasi dengan ulama-ulama KUPI seperti Kiai Faqihuddin Abdul Qodir, [[Lies Marcoes]], dan Sandra. Dengan bergabung ke dalam gerakan KUPI, IPah dan tokoh-tokoh perempuan dan ulama di Aceh tidak merasa sendirian berjuang, dan mereka memiliki wadah serta partner yang memiliki latar belakang yang sama. Perspektif keadilan dan kesetaraan yang selama ini ia aplikasikan di dalam pekerjaan dan aktivitasnya sejalan dengan nilai-nilai KUPI.
== Riwayat Hidup ==
== Riwayat Hidup ==
Ipah lahir dan tinggal di Aceh sampai sekarang. Hukum adalah bidang ilmu yang didalaminya sejak kuliah. Dia menyelesaikan S1 di fakultas Hukum Unsiyah pada 1996 dan melanjutkan pendidikan S2 di Fakultas Hukum Unsiyah pada 2013. Ipah aktif berorganisasi sejak SMP, SMA, kuliah, hingga sekarang.
Ipah lahir dan tinggal di Aceh sampai sekarang. Hukum adalah bidang ilmu yang didalaminya sejak kuliah. Dia menyelesaikan S1 di fakultas Hukum Unsiyah pada 1996 dan melanjutkan pendidikan S2 di Fakultas Hukum Unsiyah pada 2013. Ipah aktif berorganisasi sejak SMP, SMA, kuliah, hingga sekarang.
Baris 17: Baris 15:
Sementara untuk [[lembaga]] non pemerintah, ia sudah memulai kerja-kerjanya sejak tahun 1997 hingga 2007. Ipah menjabat sebagai bendahara Orbit Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil tahun 1997 dan menjadi anggota Tim Monitoring Tim Dialog RI – GAM bersama Jeda Kemanusiaan Aceh (2001). Dialog damai RI – GAM saat itu tidak banyak melibatkan perempuan, namun Ipah bersama dua tokoh perempuan lain juga turut berkontribusi dalam perdamaian ini. Pada 2000 hingga 2003, dia menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif di Balai Syura Ureung Inong Aceh. Balai ini berupa konferensi yang dihadiri 450 tokoh perempuan Aceh untuk melaksanakan musyawarah yang disebut Duek Pakat Inong Aceh, yang memastikan adanya keterwakilan perempuan dalam proses pengambilan keputusan dan penyelesaian konflik Aceh yang dilakukan dengan cara damai melalui dialog.
Sementara untuk [[lembaga]] non pemerintah, ia sudah memulai kerja-kerjanya sejak tahun 1997 hingga 2007. Ipah menjabat sebagai bendahara Orbit Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil tahun 1997 dan menjadi anggota Tim Monitoring Tim Dialog RI – GAM bersama Jeda Kemanusiaan Aceh (2001). Dialog damai RI – GAM saat itu tidak banyak melibatkan perempuan, namun Ipah bersama dua tokoh perempuan lain juga turut berkontribusi dalam perdamaian ini. Pada 2000 hingga 2003, dia menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif di Balai Syura Ureung Inong Aceh. Balai ini berupa konferensi yang dihadiri 450 tokoh perempuan Aceh untuk melaksanakan musyawarah yang disebut Duek Pakat Inong Aceh, yang memastikan adanya keterwakilan perempuan dalam proses pengambilan keputusan dan penyelesaian konflik Aceh yang dilakukan dengan cara damai melalui dialog.


Dalam Duek Pakat Inong Aceh (Kongres Perempuan Aceh, tahun 2000 dan 2005) I dan II, Ipah menjabat sebagai ketua Sterring Committee (SC). Lalu, sejak tahun 2005 hingga sekarang ia merupakan pendiri dan dewan penyiaran Radio [[Komunitas]] Perempuan Aceh dan pendiri sekaligus dewan pengurus dalam Jaringan Perempuan untuk Kebijakan (JPuK). Ipah tergabung sebagai anggota Tim Sosialisasi Aceh Damai pada 2006 dan bergabung dengan Tim Advokasi Undang-undang Pemerintahan Aceh (UU PA) tahun 2007.
Dalam Duek Pakat Inong Aceh (Kongres Perempuan Aceh, tahun 2000 dan 2005) I dan II, Ipah menjabat sebagai ketua Sterring Committee (SC). Lalu, sejak tahun 2005 hingga sekarang ia merupakan pendiri dan dewan penyiaran Radio [[Komunitas]] Perempuan Aceh dan pendiri sekaligus dewan pengurus dalam [[Jaringan]] Perempuan untuk Kebijakan (JPuK). Ipah tergabung sebagai anggota Tim Sosialisasi Aceh Damai pada 2006 dan bergabung dengan Tim Advokasi Undang-undang Pemerintahan Aceh (UU PA) tahun 2007.


Di tengah kesibukannya, ia juga mendirikan Kaukus Perempuan Parlemen Naggroe Aceh pada tahun 2007 dan sekaligus bergabung dalam Komisi Pembinaan Keluarga Aceh yang berlangsung sejak 2011 hingga sekarang. Jiwa aktivisnya telah mendorongnya untuk mendirikan LSM Mitra Sejati Perempuan Indonesia (MiSPI) dan menempati posisi sebagai Direktur Eksekutif sejak 1998 dan masih berjalan hingga sekarang. Dia merasa lebih bebas dan menjadi dirinya sendiri saat bekerja sebagai aktivis dan mendampingi LSM yang telah dibentuknya dan juga berkolaborasi dengan organisasi dan kelompok lainnya terutama dalam pemberdayaan perempuan.
Di tengah kesibukannya, ia juga mendirikan Kaukus Perempuan Parlemen Naggroe Aceh pada tahun 2007 dan sekaligus bergabung dalam Komisi Pembinaan Keluarga Aceh yang berlangsung sejak 2011 hingga sekarang. Jiwa aktivisnya telah mendorongnya untuk mendirikan LSM Mitra Sejati Perempuan Indonesia (MiSPI) dan menempati posisi sebagai Direktur Eksekutif sejak 1998 dan masih berjalan hingga sekarang. Dia merasa lebih bebas dan menjadi dirinya sendiri saat bekerja sebagai aktivis dan mendampingi LSM yang telah dibentuknya dan juga berkolaborasi dengan organisasi dan kelompok lainnya terutama dalam pemberdayaan perempuan.
== Tokoh dan Keulamaan Perempuan ==
== Tokoh dan Keulamaan Perempuan ==
Pasca peristiwa tsunami di Aceh, Ipah bersama tokoh-tokoh perempuan lainnya melakukan program yang disebut Wirid Yasin dengan dukungan pendanaan dari The Asia Foundation. Kegiatan ini dilakukan di setiap kecamatan di seluruh Aceh secara rutin setiap minggu. Tim awal Wirid Yasin terdiri dari [[Umi Hanisah]], Teungku [[Rahimun]], dan Ibu Nur Jannah dengan menggunakan pendekatan program kerja dengan ulama laki-laki dan perempuan. Selain itu, ia juga berafiliasi dengan Yayasan [[Fahmina]] di Aceh yang berhubungan langsung dengan Pak [[Marzuki Wahid]] dan Pak [[Faqihuddin Abdul Kodir]]. Bersama Fahmina, ia juga berfokus pada isu-isu perempuan, salah satunya isu ''trafficking''.
Pasca peristiwa tsunami di Aceh, Ipah bersama tokoh-tokoh perempuan lainnya melakukan program yang disebut Wirid Yasin dengan dukungan pendanaan dari The Asia Foundation. Kegiatan ini dilakukan di setiap kecamatan di seluruh Aceh secara rutin setiap minggu. Tim awal Wirid Yasin terdiri dari [[Umi Hanisah]], Teungku [[Rahimun]], dan Ibu Nur Jannah dengan menggunakan pendekatan program kerja dengan ulama laki-laki dan perempuan. Selain itu, ia juga berafiliasi dengan Yayasan [[Fahmina]] di Aceh yang berhubungan langsung dengan Pak [[Marzuki Wahid]] dan Pak [[Faqihuddin Abdul Kodir]]. Bersama Fahmina, ia juga berfokus pada isu-isu perempuan, salah satunya isu ''trafficking''.

Menu navigasi