15.259
suntingan
| Baris 1: | Baris 1: | ||
{{Infobox person|name=Mariatul Asiah|birth_date=Barabai, 31 Mei 1976|image=Berkas:Mariatul Asiah.jpeg|imagesize=220px|known for=*Salah satu pendiri Komunitas Pelangi Kalimantan Selatan (2015)|occupation=*Koordinator Komunitas Pelangi Kalimantan Selatan (Jaringan Perempuan Interfaith untuk Kesetaraan, Keadilan, dan Perdamaian) tahun 2015-sekarang.}}'''Mariatul Asiah''' lahir di Barabai, Kalimantan Selatan pada 31 Mei 1976. Barabai merupakan sebuah kabupaten di Hulu Sungai Tengah, dari Kota Banjarmasin jaraknya adalah 142,8 km atau 4 jam. Saat ini ia bekerja sebagai dosen di UIN Antasari Banjarmasin, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Jurusan Studi Agama-Agama. Ia juga aktif sebagai pegiat isu perempuan dan ''interfaith''. | {{Infobox person|name=Mariatul Asiah|birth_date=Barabai, 31 Mei 1976|image=Berkas:Mariatul Asiah.jpeg|imagesize=220px|known for=*Salah satu pendiri Komunitas Pelangi Kalimantan Selatan (2015)|occupation=*Koordinator Komunitas Pelangi Kalimantan Selatan (Jaringan Perempuan Interfaith untuk Kesetaraan, Keadilan, dan Perdamaian) tahun 2015-sekarang.}}'''Mariatul Asiah''' lahir di Barabai, Kalimantan Selatan pada 31 Mei 1976. Barabai merupakan sebuah kabupaten di Hulu Sungai Tengah, dari Kota Banjarmasin jaraknya adalah 142,8 km atau 4 jam. Saat ini ia bekerja sebagai dosen di UIN Antasari Banjarmasin, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Jurusan Studi Agama-Agama. Ia juga aktif sebagai pegiat isu perempuan dan ''interfaith''. | ||
Maria terlibat dalam agenda kegiatan [[KUPI]] sebagai perwakilan dari Kalimantan Selatan. Ia menghadiri pertemuan di Makassar, menyimak penjelasan seputar rencana penyelenggaraan KUPI. Pada kongres yang diselenggarakan tahun 2017, ia hadir sebagai peserta kongres. Menurutnya, sebagai upaya penguatan jaringan, KUPI sangatlah penting sebagai wadah untuk menyamakan persepsi dan menyatukan gerakan dalam menyikapi isu-isu mengenai perempuan dan ketidakadilan gender. | Maria terlibat dalam agenda kegiatan [[KUPI]] sebagai perwakilan dari Kalimantan Selatan. Ia menghadiri pertemuan di Makassar, menyimak penjelasan seputar rencana penyelenggaraan KUPI. Pada kongres yang diselenggarakan tahun 2017, ia hadir sebagai peserta kongres. Menurutnya, sebagai upaya penguatan [[jaringan]], KUPI sangatlah penting sebagai wadah untuk menyamakan persepsi dan menyatukan gerakan dalam menyikapi isu-isu mengenai perempuan dan ketidakadilan gender. | ||
== Riwayat Hidup == | == Riwayat Hidup == | ||
Mariatul Asiah tinggal di Ratu Zaleha Komplek Ar-Raudah I, Banjarmasin Timur, Kalimantan Selatan. Ia merupakan anak terakhir dari enam bersaudara. Kedua orang tuanya Muslim dan hidup di lingkungan yang agamis. Ibunya, Hj. Siti Aisyah merupakan seorang guru dan Ayahnya H. Marzuki merupakan seorang pedagang. Neneknya, orang tua dari bapaknya dan ibunya kerap mengajak Maria kecil yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar untuk “belajaran” ke rumah seorang kiai. Di sana Maria belajar tauhid, fikih shalat, dan mengaji Al-Qur’an. | Mariatul Asiah tinggal di Ratu Zaleha Komplek Ar-Raudah I, Banjarmasin Timur, Kalimantan Selatan. Ia merupakan anak terakhir dari enam bersaudara. Kedua orang tuanya Muslim dan hidup di lingkungan yang agamis. Ibunya, Hj. Siti Aisyah merupakan seorang guru dan Ayahnya H. Marzuki merupakan seorang pedagang. Neneknya, orang tua dari bapaknya dan ibunya kerap mengajak Maria kecil yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar untuk “belajaran” ke rumah seorang kiai. Di sana Maria belajar tauhid, fikih shalat, dan mengaji Al-Qur’an. | ||
| Baris 16: | Baris 14: | ||
Mariatul Asiah bertanggung jawab menjalankan berbagai program, di antara untuk Komunitas Pelangi, yaitu penguatan wacana melalui kegiatan Belajar Bersama Perempuan ''Interfaith'' untuk isu-isu perempuan dan keadilan gender sejak tahun 2015-sekarang; Peningkatan kapasitas perempuan ''interfaith'' melalui Sekolah Perempuan ''Interfaith'' dengan tema “Perempuan, Agama dan Perdamaian” tahun 2015-sekarang; Penguatan Ekonomi Perempuan Kepala Keluarga Berbasis Antar Iman tahun 2015-sekarang. Kemudian, program lain yang dijalankan yaitu Penguatan Kelompok Perempuan Pasca Bencana pada Februari 2020-sekarang, dan Layanan Pengaduan Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, 2018-sekarang. | Mariatul Asiah bertanggung jawab menjalankan berbagai program, di antara untuk Komunitas Pelangi, yaitu penguatan wacana melalui kegiatan Belajar Bersama Perempuan ''Interfaith'' untuk isu-isu perempuan dan keadilan gender sejak tahun 2015-sekarang; Peningkatan kapasitas perempuan ''interfaith'' melalui Sekolah Perempuan ''Interfaith'' dengan tema “Perempuan, Agama dan Perdamaian” tahun 2015-sekarang; Penguatan Ekonomi Perempuan Kepala Keluarga Berbasis Antar Iman tahun 2015-sekarang. Kemudian, program lain yang dijalankan yaitu Penguatan Kelompok Perempuan Pasca Bencana pada Februari 2020-sekarang, dan Layanan Pengaduan Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, 2018-sekarang. | ||
== Tokoh dan Keulamaan Perempuan == | == Tokoh dan Keulamaan Perempuan == | ||
Bersama dengan teman-temannya, Maria membangun dialog antar lintas agama untuk merespon munculnya sekat-sekat yang dirasa membatasi masyarakat, seperti latar belakang agama. Menurutnya, isu lintas agama atau ''interfaith'' adalah hal yang harus diperjuangkan, sebelum muncul konflik di waktu yang mendatang. Maria merupakan koordinator program dari LK3 mengenai isu keadilan gender. Organisasi yang didirikan di kampus IAIN Antasari merupakan sebuah forum diskusi untuk merespons kegelisahan para dosen-dosen muda yang baru pulang dari luar daerah seperti Sumatera dan Jawa. Mereka membawa wawasan dan idealisme baru yang akhirnya membuat mereka membutuhkan sebuah wadah untuk menyampaikan gagasan-gagasan dan keprihatinan mereka. | Bersama dengan teman-temannya, Maria membangun dialog antar lintas agama untuk merespon munculnya sekat-sekat yang dirasa membatasi masyarakat, seperti latar belakang agama. Menurutnya, isu lintas agama atau ''interfaith'' adalah hal yang harus diperjuangkan, sebelum muncul konflik di waktu yang mendatang. Maria merupakan koordinator program dari LK3 mengenai isu keadilan gender. Organisasi yang didirikan di kampus IAIN Antasari merupakan sebuah forum diskusi untuk merespons kegelisahan para dosen-dosen muda yang baru pulang dari luar daerah seperti Sumatera dan Jawa. Mereka membawa wawasan dan idealisme baru yang akhirnya membuat mereka membutuhkan sebuah wadah untuk menyampaikan gagasan-gagasan dan keprihatinan mereka. | ||
| Baris 36: | Baris 32: | ||
Mariatul Asiah sangat mengapresiasi KUPI. Menurutnya, kampanye KUPI yang gencar dilakukan melalui media sosial dapat memberikan pengaruh, apalagi dengan kegiatan-kegiatan yang menampilkan ulama-ulama perempuan yang berasal dari berbagai daerah dan memiliki kapasitas untuk membahas isu-isu keadilan gender. Dulu kajian mengenai isu-isu gender bisa jadi masih tabu dan sulit untuk dibicarakan di ruang publik. Namun hari ini, KUPI telah memenuhi ruang publik Indonesia dengan wacana-wacana dan diskusi mengenai isu-isu tersebut. | Mariatul Asiah sangat mengapresiasi KUPI. Menurutnya, kampanye KUPI yang gencar dilakukan melalui media sosial dapat memberikan pengaruh, apalagi dengan kegiatan-kegiatan yang menampilkan ulama-ulama perempuan yang berasal dari berbagai daerah dan memiliki kapasitas untuk membahas isu-isu keadilan gender. Dulu kajian mengenai isu-isu gender bisa jadi masih tabu dan sulit untuk dibicarakan di ruang publik. Namun hari ini, KUPI telah memenuhi ruang publik Indonesia dengan wacana-wacana dan diskusi mengenai isu-isu tersebut. | ||
== Penghargaan dan Prestasi == | == Penghargaan dan Prestasi == | ||
Mariatul Asiah pernah menjabat sebagai Sekretaris Redaksi pada Jurnal Mu’adalah PSGA UIN Antasari Banjarmasin pada tahun 2014-2016, dan sebagai Executive Editor di Rumah Jurnal Khazanah UIN Antasari pada tahun 2017-2019. | Mariatul Asiah pernah menjabat sebagai Sekretaris Redaksi pada Jurnal Mu’adalah PSGA UIN Antasari Banjarmasin pada tahun 2014-2016, dan sebagai Executive Editor di Rumah Jurnal Khazanah UIN Antasari pada tahun 2017-2019. | ||
== Karya-Karya == | == Karya-Karya == | ||
Mariatul Asiah aktif melahirkan karya-karya akademik. Ia menjadi penulis sekaligus editor buku yang berjudul ''Berebut Kontrol Atas Kesejahteraan'', tahun 2015; salah satu kontributor “Modul Pendidikan Interreligius Non-formal” tahun 2016; salah satu editor buku ''50 Pemuda Menulis tentang Agama dan Beragama untuk Perdamaian'', tahun 2021. | Mariatul Asiah aktif melahirkan karya-karya akademik. Ia menjadi penulis sekaligus editor buku yang berjudul ''Berebut Kontrol Atas Kesejahteraan'', tahun 2015; salah satu kontributor “Modul Pendidikan Interreligius Non-formal” tahun 2016; salah satu editor buku ''50 Pemuda Menulis tentang Agama dan Beragama untuk Perdamaian'', tahun 2021. | ||