Helmi Ali: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
12 bita ditambahkan ,  19 November 2021 23.07
tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox person|name=Helmi Ali|birth_date=Pinrang, 10 April 1954|image=Berkas:Helmi Ali.jpg|imagesize=220px|known for=*Jejak Perjuangan Ulama Perempuan Indonesia|occupation=*Anggota Dewan Ethich Komnas Perempuan}}'''Helmi Ali''' atau di kalangan aktivis lebih dikenal dengan panggilan Bang Helmi lahir di Pinrang, Sulawesi Selatan pada tanggal 10 April 1954. Ia adalah aktivis dan penggerak gerakan kultural.
{{Infobox person|name=Helmi Ali|birth_date=Pinrang, 10 April 1954|image=Berkas:Helmi Ali.jpg|imagesize=220px|known for=*Jejak Perjuangan Ulama Perempuan Indonesia|occupation=*Anggota Dewan Ethich Komnas Perempuan}}'''Helmi Ali''' atau di kalangan aktivis lebih dikenal dengan panggilan Bang Helmi lahir di Pinrang, Sulawesi Selatan pada tanggal 10 April 1954. Ia adalah aktivis dan penggerak gerakan kultural.


Melihat rekam jejak Helmi yang sangat aktif dalam gerakan-gerakan sosial, utamanya isu gender, ia memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia baik menjelang, ketika proses, dan paska acara. Dalam kepanitiaan [[KUPI]], ia mendapatkan amanat untuk menjadi Anggota Panitia Pengarah bersama nama-nama lain, seperti Nyai Hj. Badriyah Fayumi dan Marzuki Wahid.
Melihat rekam jejak Helmi yang sangat aktif dalam gerakan-gerakan sosial, utamanya isu gender, ia memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia baik menjelang, ketika proses, dan paska acara. Dalam kepanitiaan [[KUPI]], ia mendapatkan amanat untuk menjadi Anggota Panitia Pengarah bersama nama-nama lain, seperti Nyai Hj. [[Badriyah Fayumi]] dan [[Marzuki Wahid]].


Dalam penuturan Helmi, KUPI erat kaitannya dengan program pendidikan kader ulama perempuan yang dilakukan oleh [[Rahima]] atau dikenal dengan Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP). Pesertanya rata-rata adalah alumni pesantren dan sudah berlangsung bertahun-tahun sehingga jumlah alumninya sudah banyak. Berdasarkan alasan itulah, muncul gagasan untuk mengadakan forum besar yang tujuannya untuk semacam “proklamasi keulamaan perempuan Rahima”. Akan tetapi, problemnya kemudian adalah jika hanya Rahima yang mengadakan bagaimana dengan organisasi yang lain?  
Dalam penuturan Helmi, KUPI erat kaitannya dengan program pendidikan kader ulama perempuan yang dilakukan oleh [[Rahima]] atau dikenal dengan Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP). Pesertanya rata-rata adalah alumni pesantren dan sudah berlangsung bertahun-tahun sehingga jumlah alumninya sudah banyak. Berdasarkan alasan itulah, muncul gagasan untuk mengadakan forum besar yang tujuannya untuk semacam “proklamasi keulamaan perempuan Rahima”. Akan tetapi, problemnya kemudian adalah jika hanya Rahima yang mengadakan bagaimana dengan organisasi yang lain?  


Merespon pertanyaan tersebut, ada ide untuk melibatkan organisasi yang serumpun, seperti [[Fahmina]] dan [[Alimat]] yang kemudian menghasilkan kesepakatan tentang pelibatan dua organisasi itu dan agar spektrum kegiatannya diperluas. Dari yang awalnya hanya pertemuan alumni Pendidikan Ulama Perempuan Rahima menjadi Kongres [[Ulama Perempuan Indonesia]] (KUPI).
Merespon pertanyaan tersebut, ada ide untuk melibatkan organisasi yang serumpun, seperti [[Fahmina]] dan [[Alimat]] yang kemudian menghasilkan kesepakatan tentang pelibatan dua organisasi itu dan agar spektrum kegiatannya diperluas. Dari yang awalnya hanya pertemuan alumni Pendidikan Ulama Perempuan Rahima menjadi Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).


Gagasan tentang KUPI ini kemudian mendapat sambutan yang luar biasa dari berbagai pihak, seperti dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (KOMNAS PEREMPUAN), AMAN (The Asian Muslim Action Network) Indonesia, Yayasan PEKKA (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga) dan lain-lain. Dengan kolaborasi berbagai [[lembaga]] tersebut, pelaksanaan KUPI pada tahun 2017 menjadi spektakuler.  
Gagasan tentang KUPI ini kemudian mendapat sambutan yang luar biasa dari berbagai pihak, seperti dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (KOMNAS PEREMPUAN), AMAN (The Asian Muslim Action Network) Indonesia, Yayasan PEKKA (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga) dan lain-lain. Dengan kolaborasi berbagai [[lembaga]] tersebut, pelaksanaan KUPI pada tahun 2017 menjadi spektakuler.  
Baris 14: Baris 14:
Helmi menempuh pendidikan di Sekolah Arab DDI (Darud Da’wah wa al-Irsyad) di Jampue, Pindang, kemudian melanjutkan pendidikan menengah dan tingkat atas di Makkasar. Pada tahun 1970-an ia mengikuti ayahandanya ke Jakarta dan menetap di ibukota itu. Pendidikan sarjananya ia tempuh di jurusan Perbandingan Agama & Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan selesai pada tahun 1980-an. Sementara pendidikan masternya ia tempuh di Universitas Indonesia.
Helmi menempuh pendidikan di Sekolah Arab DDI (Darud Da’wah wa al-Irsyad) di Jampue, Pindang, kemudian melanjutkan pendidikan menengah dan tingkat atas di Makkasar. Pada tahun 1970-an ia mengikuti ayahandanya ke Jakarta dan menetap di ibukota itu. Pendidikan sarjananya ia tempuh di jurusan Perbandingan Agama & Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan selesai pada tahun 1980-an. Sementara pendidikan masternya ia tempuh di Universitas Indonesia.


Nur Khalik Ridlwan menyebut Helmi sebagai orang yang aktif di sayap kultural. Ia juga banyak terlibat dalam gerakan-gerakan untuk menjaga dan mengembangkan Khittah 1926 Nahdlatul Ulama. Di samping itu, ia juga aktif dalam dalam pengorganisasian di berbagai [[komunitas]] di Indonesia. Mulai dari kelompok pengusaha kecil, mengenah, aktivis NGO hingga kelompok basis jaringan beberapa pondok pesantren di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Madura.
Nur Khalik Ridlwan menyebut Helmi sebagai orang yang aktif di sayap kultural. Ia juga banyak terlibat dalam gerakan-gerakan untuk menjaga dan mengembangkan Khittah 1926 Nahdlatul Ulama. Di samping itu, ia juga aktif dalam dalam pengorganisasian di berbagai [[komunitas]] di Indonesia. Mulai dari kelompok pengusaha kecil, mengenah, aktivis NGO hingga kelompok basis [[jaringan]] beberapa pondok pesantren di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Madura.


Helmi juga tercatat pernah aktif dalam berbagai organisasi, misalnya LP3ES, P3M, Lakpesdam PBNU, dan Badan Pengawas Perhimpunan Rahima. Di LP3ES ia pernah menjabat sebagai tenaga motivator lapangan program KIP (Kampung Improvement Progress), kerja sama LP3ES dengan UNICEF pada tahun 1980-an. Sementara di P3M ia pernah aktif sebagai Kepada Bidang untuk Penelitian dan Pengembangan terhitung sejak tahun 1987 hingga 1990. Karier Helmi di Lakpesdam PBNU sudah dimulai sejak masa pertama, bahkan bisa disebut ia termasuk bagian tim pendiri. Ketika menceritakan kariernya di Lakpesdam PBNU ia menyebut bahwa pada tahun 1984 ia oleh sahabatnya, Manshour Fakih diajak untuk mengikuti pertemuan di Kantor PBNU dalam rangka pembentukan Lakpesdam.  
Helmi juga tercatat pernah aktif dalam berbagai organisasi, misalnya LP3ES, P3M, Lakpesdam PBNU, dan Badan Pengawas Perhimpunan Rahima. Di LP3ES ia pernah menjabat sebagai tenaga motivator lapangan program KIP (Kampung Improvement Progress), kerja sama LP3ES dengan UNICEF pada tahun 1980-an. Sementara di P3M ia pernah aktif sebagai Kepada Bidang untuk Penelitian dan Pengembangan terhitung sejak tahun 1987 hingga 1990. Karier Helmi di Lakpesdam PBNU sudah dimulai sejak masa pertama, bahkan bisa disebut ia termasuk bagian tim pendiri. Ketika menceritakan kariernya di Lakpesdam PBNU ia menyebut bahwa pada tahun 1984 ia oleh sahabatnya, Manshour Fakih diajak untuk mengikuti pertemuan di Kantor PBNU dalam rangka pembentukan Lakpesdam.  
Baris 29: Baris 29:
Di lingkungan keluarga Helmi, sang ayah, Kiai Alie Yafie, sejak awal begitu menghormati istrinya. Sikap itu kemudian yang ditiru oleh anak-anaknya yang semuanya adalah laki-laki. Dalam pengambilan keputusan, ibundanya mendapatkan posisi yang setara. Ketika misalnya terjadi perselisihan terkait benda yang hendak dibeli lalu tak menemukan kata sepakat, maka keputusan akhir diambil oleh sang ibu. Ketika libur sekolah, maka tugas-tugas domestik seperti menyapu dan mencuci baju diambil alih oleh Helmi dan saudara-saudaranya. Pengalaman-pengalaman itu kemudian mengilhami Helmi untuk menekuni isu-isu perempuan.  
Di lingkungan keluarga Helmi, sang ayah, Kiai Alie Yafie, sejak awal begitu menghormati istrinya. Sikap itu kemudian yang ditiru oleh anak-anaknya yang semuanya adalah laki-laki. Dalam pengambilan keputusan, ibundanya mendapatkan posisi yang setara. Ketika misalnya terjadi perselisihan terkait benda yang hendak dibeli lalu tak menemukan kata sepakat, maka keputusan akhir diambil oleh sang ibu. Ketika libur sekolah, maka tugas-tugas domestik seperti menyapu dan mencuci baju diambil alih oleh Helmi dan saudara-saudaranya. Pengalaman-pengalaman itu kemudian mengilhami Helmi untuk menekuni isu-isu perempuan.  


Setelah itu, jalan perjuangan Helmi terhadap isu perempuan berlanjut di P3M sejak awal tahun 1990-an. Di organisasi yang dipimpin oleh Kiai Masdar Farid Mas’udi itu ada program bernama ''Fiqh al-Nisa’'' yang secara khusus membedah isu-isu perempuan. Melalui organisasi ini, Helmi terus mematangkan dan memperjuangkan isu-isu perempuan yang digelutinya. Kajian ''Fiqh al-Nisa'' itu kemudian mengilhami berdirinya Rahima. Helmi Ali tercatat sebagai salah satu tim pendiri, tepatnya pada tahun 2000.  
Setelah itu, jalan perjuangan Helmi terhadap isu perempuan berlanjut di P3M sejak awal tahun 1990-an. Di organisasi yang dipimpin oleh Kiai Masdar Farid Mas’udi itu ada program bernama ''[[Fiqh]] al-Nisa’'' yang secara khusus membedah isu-isu perempuan. Melalui organisasi ini, Helmi terus mematangkan dan memperjuangkan isu-isu perempuan yang digelutinya. Kajian ''Fiqh al-Nisa'' itu kemudian mengilhami berdirinya Rahima. Helmi Ali tercatat sebagai salah satu tim pendiri, tepatnya pada tahun 2000.  


Rahima dalam pandangan Helmi Ali adalah lembaga yang ''concern'' pada pendidikan kader ulama perempuan. Selama di Rahima ia beberapa kali membantu mengembangkan berbagai program utamanya dalam bidang pendidikan. Pada tahun 2004-2010, ia ikut merancang program dan menjadi fasilitator PUP dan program pendidikan untuk tokoh agama yang melibatkan aktivis pesantren, ormas, dan perguruan tinggi yang menjadi jaringan kerja Rahima. Pada tahun-tahun itu, ia juga aktif dalam program Madrasah Rahima untuk guru-guru agama menengah di daerah Tapal Kuda (Banyuwangi, Situbondo, Jember dan Bondowoso). Pada tahun-tahun berikutnya, program yang sama juga dikembangkan di Jakarta.  
Rahima dalam pandangan Helmi Ali adalah lembaga yang ''concern'' pada pendidikan kader ulama perempuan. Selama di Rahima ia beberapa kali membantu mengembangkan berbagai program utamanya dalam bidang pendidikan. Pada tahun 2004-2010, ia ikut merancang program dan menjadi fasilitator PUP dan program pendidikan untuk tokoh agama yang melibatkan aktivis pesantren, ormas, dan perguruan tinggi yang menjadi jaringan kerja Rahima. Pada tahun-tahun itu, ia juga aktif dalam program Madrasah Rahima untuk guru-guru agama menengah di daerah Tapal Kuda (Banyuwangi, Situbondo, Jember dan Bondowoso). Pada tahun-tahun berikutnya, program yang sama juga dikembangkan di Jakarta.  

Menu navigasi