Helmi Ali: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
3 bita ditambahkan ,  27 Agustus 2021 12.36
tidak ada ringkasan suntingan
Baris 35: Baris 35:
Pada tahun 2003 hingga 2006 ia ikut serta membantu PUAN AMAL HAYATI mengembangkan program (Merespons kekerasan terhadap perempuan) untuk pesantren jaringan kerja PUAN AMAL HAYATI. Selain itu, ia juga banyak terlibat dalam merancang program Fahmina, sebuah organisasi yang concern terhadap isu gender di Cirebon. Hal yang sama juga terjadi pada organisasi Alimat, Helmi juga terlibat merancang program.   
Pada tahun 2003 hingga 2006 ia ikut serta membantu PUAN AMAL HAYATI mengembangkan program (Merespons kekerasan terhadap perempuan) untuk pesantren jaringan kerja PUAN AMAL HAYATI. Selain itu, ia juga banyak terlibat dalam merancang program Fahmina, sebuah organisasi yang concern terhadap isu gender di Cirebon. Hal yang sama juga terjadi pada organisasi Alimat, Helmi juga terlibat merancang program.   


Ulama perempuan menurut Helmi sebagaimana ia sandarkan pada hasil kongres KUPI adalah bukan terkait jenis kelamin melainkan lebih pada ideologi. Jadi ulama perempuan adalah ulama yang melihat persoalan menggunakan kacamata atau perspektif perempuan. Oleh karena itu, mereka harus memiliki kepekaan terhadap persoalan-persoalan perempuan, dan mereka bisa laki-laki atau perempuan. Dari definisi ini, jika ada perempuan yang memenuhi syarat disebut ulama hanya saja ia tak memiliki perspektif perempuan maka ia tak bisa disebut ulama perempuan.  
Ulama perempuan menurut Helmi sebagaimana ia sandarkan pada [[Hasil Kongres|hasil kongres]] KUPI adalah bukan terkait jenis kelamin melainkan lebih pada ideologi. Jadi ulama perempuan adalah ulama yang melihat persoalan menggunakan kacamata atau perspektif perempuan. Oleh karena itu, mereka harus memiliki kepekaan terhadap persoalan-persoalan perempuan, dan mereka bisa laki-laki atau perempuan. Dari definisi ini, jika ada perempuan yang memenuhi syarat disebut ulama hanya saja ia tak memiliki perspektif perempuan maka ia tak bisa disebut ulama perempuan.  


Terkait keulamaan perempuan, Helmi menyebut bahwa sebenarnya ulama perempuan di Indonesia sangat banyak, baik zaman dulu atau sekarang, di antaranya seperti Rahma el-Yunusiah dan Nyai Khairiyah Hasyim. “Akan tetapi, problemnya memang mereka tidak menonjol, tidak tampil di permukaan. Kenapa demikian? Sebab panggungnya dikuasai ulama laki-laki,” tutunya.  
Terkait keulamaan perempuan, Helmi menyebut bahwa sebenarnya ulama perempuan di Indonesia sangat banyak, baik zaman dulu atau sekarang, di antaranya seperti Rahma el-Yunusiah dan Nyai Khairiyah Hasyim. “Akan tetapi, problemnya memang mereka tidak menonjol, tidak tampil di permukaan. Kenapa demikian? Sebab panggungnya dikuasai ulama laki-laki,” tutunya.  
Baris 45: Baris 45:
Fenomena politik yang mengakibatkan peminggiran perempuan kemudian makin diperkuat dengan budaya yang pada waktu itu tidak berpihak kepada kaum perempuan (baca: patriakhi). Dan puncaknya, tafsir keagamaan yang bias semakin mengukuhkan peminggiran tersebut. “Jadi penyebab secara lengkap kenapa peran perempuan dalam ruang publik makin tidak tampak adalah politik, kemudian dikuatkan oleh budaya dan puncaknya adalah penafsiran keagamaan yang tidak proporsional,” simpulnya.
Fenomena politik yang mengakibatkan peminggiran perempuan kemudian makin diperkuat dengan budaya yang pada waktu itu tidak berpihak kepada kaum perempuan (baca: patriakhi). Dan puncaknya, tafsir keagamaan yang bias semakin mengukuhkan peminggiran tersebut. “Jadi penyebab secara lengkap kenapa peran perempuan dalam ruang publik makin tidak tampak adalah politik, kemudian dikuatkan oleh budaya dan puncaknya adalah penafsiran keagamaan yang tidak proporsional,” simpulnya.


KUPI menjadi tonggak sejarah bagi keulamaan perempuan. Secara tidak langsung acara ini juga memproklamirkan bahwa ulama perempuan itu eksis dan ada. Proklamasi posisi ini makin menemukan momentumnya karena dalam acara ini ada fatwa dan rekomendasi untuk merespon beberapa masalah krusial yang berkaitan dengan isu perempuan dan anak. Helmi Ali menambahkan bahwa KUPI bukanlah satu organisasi, melaikan semacam forum yang didukung oleh beberapa organisasi. Dalam KUPI ada yang disebut dengan Majelis Musyawarah KUPI yang diisi oleh para penggagas awal. Tujuan Majelis ini untuk mengawal rekomendasi yang telah dirumuskan dalam KUPI.  
KUPI menjadi tonggak sejarah bagi keulamaan perempuan. Secara tidak langsung acara ini juga memproklamirkan bahwa ulama perempuan itu eksis dan ada. Proklamasi posisi ini makin menemukan momentumnya karena dalam acara ini ada fatwa dan rekomendasi untuk merespon beberapa masalah krusial yang berkaitan dengan isu perempuan dan anak. Helmi Ali menambahkan bahwa KUPI bukanlah satu organisasi, melaikan semacam forum yang didukung oleh beberapa organisasi. Dalam KUPI ada yang disebut dengan Majelis Musyawarah KUPI yang diisi oleh para penggagas awal. Tujuan Majelis ini untuk mengawal rekomendasi yang telah dirumuskan dalam KUPI.  


        Tantangan utama gerakan perjuangan kesetaraan untuk perempuan, menurut Helmi, adalah isu politik yang ingin meminggirkan perempuan. Persoalan ini didukung oleh budaya dan tafsir keagamaan yang bias. Oleh karena itu, gerakan ulama perempuan ini harus masuk dalam dunia politik. Meskipun maknanya tidak harus menjadi anggota parpol. Poinnya adalah bagaimana menyuarakan kepentingan-kepentingan perempuan kepada pengambil kebijakan agar kebijakan yang dilahirkan berpihak kepada kaum perempuan.  
Tantangan utama gerakan perjuangan kesetaraan untuk perempuan, menurut Helmi, adalah isu politik yang ingin meminggirkan perempuan. Persoalan ini didukung oleh budaya dan tafsir keagamaan yang bias. Oleh karena itu, gerakan ulama perempuan ini harus masuk dalam dunia politik. Meskipun maknanya tidak harus menjadi anggota parpol. Poinnya adalah bagaimana menyuarakan kepentingan-kepentingan perempuan kepada pengambil kebijakan agar kebijakan yang dilahirkan berpihak kepada kaum perempuan.


Secara keseluruhan, Helmi menuturkan, progres perjuangan untuk perempuan makin bagus. Kehadiran ulama perempuan sekarang sangat diperhitungkan. Misalnya, Majelis Ulama Indonesia merekrut beberapa pengurus yang merupakan tokoh yang bisa disebut memiliki perspektif perempuan, seperti Nyai. Hj. Badriyah Fayumi dan Dr. K. H. Abdul Moqsith Ghazali.
Secara keseluruhan, Helmi menuturkan, progres perjuangan untuk perempuan makin bagus. Kehadiran ulama perempuan sekarang sangat diperhitungkan. Misalnya, Majelis Ulama Indonesia merekrut beberapa pengurus yang merupakan tokoh yang bisa disebut memiliki perspektif perempuan, seperti Nyai. Hj. Badriyah Fayumi dan Dr. K. H. Abdul Moqsith Ghazali.

Menu navigasi