15.259
suntingan
(←Membuat halaman berisi '{{Infobox person|name=Arikhah|birth_date=Kudus, 29 November 1969|image=Berkas:Arikha.jpg|imagesize=220px|known for=*Pemikiran Tasawuf Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Diserta...') |
|||
| Baris 7: | Baris 7: | ||
== Tokoh dan Keulmaan Perempuan == | == Tokoh dan Keulmaan Perempuan == | ||
Sebelum bergabung di KUPI, Arikhah sudah aktif berinteraksi dengan para bu nyai dan pak kiai di jaringan ulama perempuan. Tali yang menyambungkan antara dirinya dengan KUPI berawal ketika seorang santri menulis artikel tentang bu nyai, yaitu tentang Arikhah, dan menjadi pemenang. Cerita tersebut kemudian masuk ke dalam daftar buku yang diluncurkan oleh KUPI. Berawal dari itu, Arikhah mendapat undangan acara Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia, yang kebetulan dua hari sebelumnya beriringan dengan acara PSGA se-Indonesia dari PTKIN yang diikutinya. | Sebelum bergabung di KUPI, Arikhah sudah aktif berinteraksi dengan para bu nyai dan pak kiai di [[jaringan]] ulama perempuan. Tali yang menyambungkan antara dirinya dengan KUPI berawal ketika seorang santri menulis artikel tentang bu nyai, yaitu tentang Arikhah, dan menjadi pemenang. Cerita tersebut kemudian masuk ke dalam daftar buku yang diluncurkan oleh KUPI. Berawal dari itu, Arikhah mendapat undangan acara Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia, yang kebetulan dua hari sebelumnya beriringan dengan acara PSGA se-Indonesia dari PTKIN yang diikutinya. | ||
Adanya KUPI cukup memberi tekanan pada tafsir sosial soal eksistensi ulama yang selama ini selalu merujuk kepada laki-laki. Arikhah menegaskan bahwa secara keilmuan dan pemikiran banyak perempuan yang mumpuni. Oleh karena itu, KUPI tidak mendasarkan pada jenis kelaminnya saja, tetapi juga fokus pada kajian dan ''passion.'' Arikhah merasa mendapat energi, ''support'', dan menyambut dengan gembira atas terselenggaranya KUPI. Ia merasa mendapat banyak teman yang bersama-sama berjuang memberdayakan perempuan, tidak hanya pada tataran wacana tapi juga turut memberi ruang dalam aktivitas nyata. Ruang-ruang itu yang nantinya digunakan oleh perempuan untuk menuntaskan tugas kekhalifahan di bumi bersama laki-laki. | Adanya KUPI cukup memberi tekanan pada tafsir sosial soal eksistensi ulama yang selama ini selalu merujuk kepada laki-laki. Arikhah menegaskan bahwa secara keilmuan dan pemikiran banyak perempuan yang mumpuni. Oleh karena itu, KUPI tidak mendasarkan pada jenis kelaminnya saja, tetapi juga fokus pada kajian dan ''passion.'' Arikhah merasa mendapat energi, ''support'', dan menyambut dengan gembira atas terselenggaranya KUPI. Ia merasa mendapat banyak teman yang bersama-sama berjuang memberdayakan perempuan, tidak hanya pada tataran wacana tapi juga turut memberi ruang dalam aktivitas nyata. Ruang-ruang itu yang nantinya digunakan oleh perempuan untuk menuntaskan tugas kekhalifahan di bumi bersama laki-laki. | ||
| Baris 23: | Baris 23: | ||
Pada tahun 2017, setelah digelarnya KUPI pertama, Arikhah melihat saat ini perempuan ulama cukup dipandang. Bukan hanya secara jumlah, kualitas mereka juga diperhitungkan. Lalu bermunculan para ahli hadits, penulis, dan penafsir yang sebelumnya keilmuannya tidak kelihatan. Bahkan, tambah Arikhah, yang saat ini dilihat masyarakat sebagai bahan olok-olokan seperti penyandang disabilitas, kini sudah mulai diperhitungkan. Arikhah memiliki teman penyandang disabilitas perempuan, ia memiliki kapasitas, dan diberi amanah menjadi Dekan di salah satu perguruan tinggi. Menurutnya, semangat perlawanan perempuan dan kelompok minoritas lain harus terus dipupuk dan dirawat bahwa mereka berani berbicara, mengambil peran di ruang publik, dan berani mempublikasikan pemikiran-pemikiran mereka. Dan semua itu adalah hasil perjuangan yang cukup panjang, tidak datang tiba-tiba. Dari sana terlihat bahwa kualitas ketakwaan menjadi nilai utamanya, dan martabat kemanusiaanlah yang dinilai Allah. | Pada tahun 2017, setelah digelarnya KUPI pertama, Arikhah melihat saat ini perempuan ulama cukup dipandang. Bukan hanya secara jumlah, kualitas mereka juga diperhitungkan. Lalu bermunculan para ahli hadits, penulis, dan penafsir yang sebelumnya keilmuannya tidak kelihatan. Bahkan, tambah Arikhah, yang saat ini dilihat masyarakat sebagai bahan olok-olokan seperti penyandang disabilitas, kini sudah mulai diperhitungkan. Arikhah memiliki teman penyandang disabilitas perempuan, ia memiliki kapasitas, dan diberi amanah menjadi Dekan di salah satu perguruan tinggi. Menurutnya, semangat perlawanan perempuan dan kelompok minoritas lain harus terus dipupuk dan dirawat bahwa mereka berani berbicara, mengambil peran di ruang publik, dan berani mempublikasikan pemikiran-pemikiran mereka. Dan semua itu adalah hasil perjuangan yang cukup panjang, tidak datang tiba-tiba. Dari sana terlihat bahwa kualitas ketakwaan menjadi nilai utamanya, dan martabat kemanusiaanlah yang dinilai Allah. | ||
Arikhah sendiri sampai saat ini aktif menulis di rubrik fiqh nisa di Harian Suara Merdeka setiap tiga Jumat sekali. Tulisan-tulisan itu berkaitan dengan persoalan-persoalan fiqh secara ''hablu min an-nas, hablu min allah,'' dan ''hablu min al-alam.'' Tema lain yang berkaitan dengan fiqh misalnya tentang keluarga, pemberdayaan perempuan, dan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Ia terus memperjuangkan isu yang telah diangkat oleh KUPI. Menurutnya isu-isu tersebut relevan dan strategis. | Arikhah sendiri sampai saat ini aktif menulis di rubrik [[fiqh]] nisa di Harian Suara Merdeka setiap tiga Jumat sekali. Tulisan-tulisan itu berkaitan dengan persoalan-persoalan fiqh secara ''hablu min an-nas, hablu min allah,'' dan ''hablu min al-alam.'' Tema lain yang berkaitan dengan fiqh misalnya tentang keluarga, pemberdayaan perempuan, dan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Ia terus memperjuangkan isu yang telah diangkat oleh KUPI. Menurutnya isu-isu tersebut relevan dan strategis. | ||
Bersama Pondok Pesantren Darul Falah, Arikhah mengembangkan ide-ide terkait kesetaraan manusia. Misalnya, yang berkaitan dengan keterampilan, ia memasukkan segala keterampilan hidup sehari-hari ke dalam kurikulum pondok pesanatren: memasak masakan harian, masakan tradisional, kue kering, dan makanan pesta; membuat souvenir seperti manik-manik dan bros; membuat baki lamaran; menjahit; sablon; flanel; dan memproduksi produk kimia rumah tangga: sabun, sampo, pembersih grabah, dan minyak angin. | Bersama Pondok Pesantren Darul Falah, Arikhah mengembangkan ide-ide terkait kesetaraan manusia. Misalnya, yang berkaitan dengan keterampilan, ia memasukkan segala keterampilan hidup sehari-hari ke dalam kurikulum pondok pesanatren: memasak masakan harian, masakan tradisional, kue kering, dan makanan pesta; membuat souvenir seperti manik-manik dan bros; membuat baki lamaran; menjahit; sablon; flanel; dan memproduksi produk kimia rumah tangga: sabun, sampo, pembersih grabah, dan minyak angin. | ||
Berkaitan dengan konservasi alam, Arikhah melakukan penanaman pohon di sekitar pesantren setiap enam bulan sekali dengan pemeliharaan setiap bulan; pembibitan tanaman setiap tahun, yang bisa dibagikan ke berbagai pesantren dan bagi yang membutuhkan; memberi amanat kepada santri wisudawan (yang sudah purna dari pesantren) berupa pohon untuk ditanam di kampung halaman/rumah. Santri juga diajarkan bercocok tanam, seperti menanam tomat, terong, dan cabai; sedangkan media tanam menggunakan tanah, abu sekam, dan pupuk organik. Salah satu kegiatan di Pondok Pesantren Darul Falah tersebut bertujuan untuk mereduksi pandangan masyarakat tentang buruknya nasib menjadi petani. Meskipun kegiatan tersebut sudah berlangsung sejak lama, namun tetap bisa dikatakan sebagai bagian dari dukungan atas isu kerusakan alam yang diangkat KUPI. | Berkaitan dengan konservasi alam, Arikhah melakukan penanaman pohon di sekitar pesantren setiap enam bulan sekali dengan pemeliharaan setiap bulan; pembibitan tanaman setiap tahun, yang bisa dibagikan ke berbagai pesantren dan bagi yang membutuhkan; memberi amanat kepada santri wisudawan (yang sudah purna dari pesantren) berupa pohon untuk ditanam di kampung halaman/rumah. Santri juga diajarkan bercocok tanam, seperti menanam tomat, terong, dan cabai; sedangkan media tanam menggunakan tanah, abu sekam, dan pupuk organik. Salah satu kegiatan di Pondok Pesantren Darul Falah tersebut bertujuan untuk mereduksi pandangan masyarakat tentang buruknya nasib menjadi petani. Meskipun kegiatan tersebut sudah berlangsung sejak lama, namun tetap bisa dikatakan sebagai bagian dari dukungan atas isu kerusakan alam yang diangkat KUPI. | ||
== Karya-Karya == | == Karya-Karya == | ||