15.259
suntingan
| Baris 3: | Baris 3: | ||
Meski belum pernah mengikuti rangkaian kegiatan Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia sebelumnya, Nafsiyah giat menggerakkan kegiatan pendidikan keagamaan di kalangan perempuan yang masih aktif ia ikuti hingga sekarang. Kiprah keulamaannya sendiri tidak terbatas di satu wilayah, namun sudah lintas provinsi di region Kalimantan. Sebagai bentuk dukungan terhadap penyelenggaraan Kongres Ulama Perempuan, ia menyampaikan bahwa ia terus mengikuti perkembangan beritanya melalui media cetak maupun online. | Meski belum pernah mengikuti rangkaian kegiatan Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia sebelumnya, Nafsiyah giat menggerakkan kegiatan pendidikan keagamaan di kalangan perempuan yang masih aktif ia ikuti hingga sekarang. Kiprah keulamaannya sendiri tidak terbatas di satu wilayah, namun sudah lintas provinsi di region Kalimantan. Sebagai bentuk dukungan terhadap penyelenggaraan Kongres Ulama Perempuan, ia menyampaikan bahwa ia terus mengikuti perkembangan beritanya melalui media cetak maupun online. | ||
== Riwayat Hidup == | |||
Nafsiyah adalah puteri kedua dari pasangan H. Ahmad Duwi dan Hj. Norsilan Lutut. | Nafsiyah adalah puteri kedua dari pasangan H. Ahmad Duwi dan Hj. Norsilan Lutut. | ||
| Baris 10: | Baris 10: | ||
Di samping menempuh sekolah formal, Nafsiyah juga turut mengaji secara personal kepada beberapa guru. Di antara ulama-ulama yang menjadi mentornya adalah Guru Haji Muhammad Rani Abdul Majid, Kyai Haji Ali Afandi, Kyai Haji Imam Jarkasi, Guru Haji Ahmad Darsani, dan Guru Abdul Wahab untuk belajar Kitab Hadits. Untuk memperdalam Kitab ''Hidayatussalikin'', ia menimba ilmu kepada Kyai Haji Ismail. Sementara dari Kyai Haji Ali Nurdin, ia mempelajari Kitab ''Asrarus shalah'' secara langsung. | Di samping menempuh sekolah formal, Nafsiyah juga turut mengaji secara personal kepada beberapa guru. Di antara ulama-ulama yang menjadi mentornya adalah Guru Haji Muhammad Rani Abdul Majid, Kyai Haji Ali Afandi, Kyai Haji Imam Jarkasi, Guru Haji Ahmad Darsani, dan Guru Abdul Wahab untuk belajar Kitab Hadits. Untuk memperdalam Kitab ''Hidayatussalikin'', ia menimba ilmu kepada Kyai Haji Ismail. Sementara dari Kyai Haji Ali Nurdin, ia mempelajari Kitab ''Asrarus shalah'' secara langsung. | ||
== Tokoh dan Keulamaan Perempuan == | |||
Nafsiyah mendakwahkan pengetahuan keislaman yang ia peroleh dari banyak guru melalui majelis-majelis ilmu. Ia pernah juga mengabdikan diri di lingkungan Departemen Agama Kabupaten Tapin dari tahun 1971 hingga tahun 1992. Selama periode tersebut, ia pernah menjabat sebagai Kasubsi [[Lembaga]] Dakwah (1975) dan Kasubsi Dokumentasi dan Statistik pada Bidang Penerangan Agama Islam (1982). Pengalaman birokratis tersebut kemudian memantapkannya untuk terjun ke dunia politik dengan menjadi anggota DPRD Tk. II Kabupaten Tapin dari tahun 1987 hingga tahun 1992. | Nafsiyah mendakwahkan pengetahuan keislaman yang ia peroleh dari banyak guru melalui majelis-majelis ilmu. Ia pernah juga mengabdikan diri di lingkungan Departemen Agama Kabupaten Tapin dari tahun 1971 hingga tahun 1992. Selama periode tersebut, ia pernah menjabat sebagai Kasubsi [[Lembaga]] Dakwah (1975) dan Kasubsi Dokumentasi dan Statistik pada Bidang Penerangan Agama Islam (1982). Pengalaman birokratis tersebut kemudian memantapkannya untuk terjun ke dunia politik dengan menjadi anggota DPRD Tk. II Kabupaten Tapin dari tahun 1987 hingga tahun 1992. | ||
| Baris 31: | Baris 31: | ||
Nafsiyah menambahkan, ritual tahunan seperti haul dan perayaan kalenderikal Hijriyah seperti Nisfu Sya’ban yang menekankan adanya kerja sama dan akumulasi modal juga telah memberi dorongan kepada masyarakat untuk bekerja maksimal agar dapat terus dapat mengambil bagian dalam lingkaran tersebut. Hal ini tentu secara tidak langsung mendorong orientasi masyarakat agar tidak bersikap individualistis. Sebab, Semua ritual yang dilaksanakan di dalam pengajian, seperti pengajaran agama, zikir, pembacaan manakib, haul, dan acara Nisfu Sya’ban telah melahirkan perjumpaan budaya antara santri dengan masyarakat luar yang ‘abangan’, atau antara ''orang alim'' dan ''urang jaba'', yang pada akhirnya meningkatkan solidaritas sosial cukup tinggi. | Nafsiyah menambahkan, ritual tahunan seperti haul dan perayaan kalenderikal Hijriyah seperti Nisfu Sya’ban yang menekankan adanya kerja sama dan akumulasi modal juga telah memberi dorongan kepada masyarakat untuk bekerja maksimal agar dapat terus dapat mengambil bagian dalam lingkaran tersebut. Hal ini tentu secara tidak langsung mendorong orientasi masyarakat agar tidak bersikap individualistis. Sebab, Semua ritual yang dilaksanakan di dalam pengajian, seperti pengajaran agama, zikir, pembacaan manakib, haul, dan acara Nisfu Sya’ban telah melahirkan perjumpaan budaya antara santri dengan masyarakat luar yang ‘abangan’, atau antara ''orang alim'' dan ''urang jaba'', yang pada akhirnya meningkatkan solidaritas sosial cukup tinggi. | ||
== Penghargaan atau Prestasi == | |||
Selama berkiprah sebagai ''muballighah'', Nafsiyah menerima beberapa penghargaan, salah satunya sebagai peringkat 1 dalam pelatihan pembimbing Ibadah haji yang diikuti oleh 3 provinsi, yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah. Selain itu, dalam kaitannya dengan kajian keislaman, ia dipercaya dan diminta masyarakat untuk memberikan pengajaran Kitab ''Hidayatus Shalikin'' karya Syaikh Abdus Somad Palimbani, Kitab ''Asrarus Sholah min ‘Iddati Kutubil Mu’tamidah'' karya Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad ‘Afif Banjary, Kitab Sifat 20 disusun oleh ‘Usman bin Abdullah bin ‘aqil bin Yahyadi majelis pengajian perempuan. | Selama berkiprah sebagai ''muballighah'', Nafsiyah menerima beberapa penghargaan, salah satunya sebagai peringkat 1 dalam pelatihan pembimbing Ibadah haji yang diikuti oleh 3 provinsi, yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah. Selain itu, dalam kaitannya dengan kajian keislaman, ia dipercaya dan diminta masyarakat untuk memberikan pengajaran Kitab ''Hidayatus Shalikin'' karya Syaikh Abdus Somad Palimbani, Kitab ''Asrarus Sholah min ‘Iddati Kutubil Mu’tamidah'' karya Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad ‘Afif Banjary, Kitab Sifat 20 disusun oleh ‘Usman bin Abdullah bin ‘aqil bin Yahyadi majelis pengajian perempuan. | ||
== Karya-karya == | |||
Karya-karya yang sudah dihasilkan Nafsiyah adalah karya-karya pengabdian kepada masyarakat. Kiprahnya sendiri justru menjadi inspirasi beberapa riset di antaranya kajian ilmiah yang berjudul “Perempuan Banjar, Pengajian, dan Transformasi Sosio Kultural” (Afisyah, 2016). | Karya-karya yang sudah dihasilkan Nafsiyah adalah karya-karya pengabdian kepada masyarakat. Kiprahnya sendiri justru menjadi inspirasi beberapa riset di antaranya kajian ilmiah yang berjudul “Perempuan Banjar, Pengajian, dan Transformasi Sosio Kultural” (Afisyah, 2016). | ||