15.259
suntingan
(←Membuat halaman berisi 'Indonesia kembali mengukir sejarah ketika untuk pertama kalinya Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) diselenggarakan. Ini adalah yang pertama di dunia, menunjukkan...') |
|||
| Baris 9: | Baris 9: | ||
Ada tiga bahasan utama yang ditetapkan di kongres, yaitu tentang kekerasan seksual, pernikahan anak, dan perusakan lingkungan. “Kami sengaja memilih topik yang memang sedang aktual, misalnya karena sedang diproses RUU-nya atau ada kasus yang belum lama terjadi seperti semen Kendeng,” ujar Kyai Husein Muhammad pendiri Yayasan [[Fahmina]], salah satu penyelenggara perhelatan ini. Namun di forum berbagai isu dan perdebatan menarik lainnya pun muncul seperti isu poligami, radikalisme, jilbab, dan masih banyak lagi. | Ada tiga bahasan utama yang ditetapkan di kongres, yaitu tentang kekerasan seksual, pernikahan anak, dan perusakan lingkungan. “Kami sengaja memilih topik yang memang sedang aktual, misalnya karena sedang diproses RUU-nya atau ada kasus yang belum lama terjadi seperti semen Kendeng,” ujar Kyai Husein Muhammad pendiri Yayasan [[Fahmina]], salah satu penyelenggara perhelatan ini. Namun di forum berbagai isu dan perdebatan menarik lainnya pun muncul seperti isu poligami, radikalisme, jilbab, dan masih banyak lagi. | ||
Banyak memang isu menarik yang dibicarakan di KUPI dan berbagai beritanya juga sudah tersebar di media. Semoga catatan saya bisa melengkapi berita yang ada. Dalam catatan sekadarnya ini, saya ingin menyoroti tiga hal yang semoga bisa menjadi masukan bagi kalangan Islam moderat atau semua orang yang peduli akan Indonesia yang beragam dan lebih adil. | Banyak memang isu menarik yang dibicarakan di KUPI dan berbagai beritanya juga sudah tersebar di media. Semoga catatan saya bisa melengkapi berita yang ada. Dalam catatan sekadarnya ini, saya ingin menyoroti tiga hal yang semoga bisa menjadi masukan bagi kalangan Islam moderat atau semua orang yang peduli akan Indonesia yang beragam dan lebih adil. | ||
# Pentingnya masuk ke [[komunitas]]-komunitas Masjid. | |||
# Perbanyak konten Islam di media online, yang mendasar, mudah diakses dan mempromosikan Islam yang moderat. | |||
# Bagi media, lebih sering memilih narasumber dari kalangan ulama perempuan atau pemikir Islam yang progresif.<br /> | |||
Ok, mulai dari poin pertama. Perwakilan dari Kemenag ketika berpidato di Seminar Internasional IAIN Syekh Nurjati menyitir suatu hasil penelitian yang dilakukan Kemenag yaitu pengajian, majelis taklim dan ceramah agama di Masjid-Masjid itu adalah sumber pengetahuan yang penting dan dipercaya umat. Ini sangat masuk akal karena sifat pengajian yang guyub. Kalau melihat yang terjadi menjelang pilkada DKI lalu, terlihat bahwa anjuran memilih pemimpin Muslim di khutbah Jumat dan pengajian-pengajian ternyata sangat efektif. Saya mengamati Ibu saya yang sudah 30 tahun ikut pengajian di masjid dekat rumah kami. Bagaimana setiap minggu Ibu saya bertugas menghubungi guru mengaji mereka, yang rata-rata adalah figur yang memang sudah tinggal bertahun bahkan puluhan tahun dan dihormati di lingkungan kami. Mereka ini unggul di konsistensi. Kelompok pengajian Ibu-Ibu ini terdiri dari 20-30 orang, kadang bisa lebih banyak. Selalu ada ibu-ibu muda yang baru bergabung. Dan mereka tentu memiliki keluarga dan teman lain dimana mereka memiliki lingkaran pengaruh. | Ok, mulai dari poin pertama. Perwakilan dari Kemenag ketika berpidato di Seminar Internasional IAIN Syekh Nurjati menyitir suatu hasil penelitian yang dilakukan Kemenag yaitu pengajian, majelis taklim dan ceramah agama di Masjid-Masjid itu adalah sumber pengetahuan yang penting dan dipercaya umat. Ini sangat masuk akal karena sifat pengajian yang guyub. Kalau melihat yang terjadi menjelang pilkada DKI lalu, terlihat bahwa anjuran memilih pemimpin Muslim di khutbah Jumat dan pengajian-pengajian ternyata sangat efektif. Saya mengamati Ibu saya yang sudah 30 tahun ikut pengajian di masjid dekat rumah kami. Bagaimana setiap minggu Ibu saya bertugas menghubungi guru mengaji mereka, yang rata-rata adalah figur yang memang sudah tinggal bertahun bahkan puluhan tahun dan dihormati di lingkungan kami. Mereka ini unggul di konsistensi. Kelompok pengajian Ibu-Ibu ini terdiri dari 20-30 orang, kadang bisa lebih banyak. Selalu ada ibu-ibu muda yang baru bergabung. Dan mereka tentu memiliki keluarga dan teman lain dimana mereka memiliki lingkaran pengaruh. | ||