Kebangkitan Perempuan di Ruang Publik: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[http://redaksiislam.com/780-ulama-perempuan-kongres-di-cirebon-hari-ini/ redaksiislam.com]
|Harian Media Indonesia
|-
|-
|Tanggal Publikasi
|Tanggal Publikasi
|:
|:
|25 April 2017
|28 April 2017
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
| Redaksi
|
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[http://redaksiislam.com/780-ulama-perempuan-kongres-di-cirebon-hari-ini/ 780 Ulama Perempuan Kongres Di Cirebon Hari Ini]
|Kebangkitan Perempuan di Ruang Publik
|}
|}


 
Kongres [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) telah berakhir kemarin. Acara yang dihelat di pesantren Kebon Jambu, Ciwaringin, Cirebon, itu menjadi penanda baru kebangkitan kaum hawa. Ribuan [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]], aktivis, dan akademisi dari lintas agama turut hadir. Tiga agenda besar diusung, antara lain meneguhkan peran [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] di kancah syi’ar Islam, membuka ruang [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] untuk kerja pemberdayaan dan keadilan sosial, serta membangun basis pengetahuan mengenai ulama perempuan dan kontribusinya untuk keadaban.
Kongres [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) telah berakhir kemarin. Acara yang dihelat di pesantren Kebon Jambu, Ciwaringin, Cirebon, itu menjadi penanda baru kebangkitan kaum hawa. Ribuan [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]], aktivis, dan akademisi dari lintas agama turut hadir. Tiga agenda besar diusung, antara lain meneguhkan peran [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] di kancah syi’ar Islam, membuka ruang ulama perempuan untuk kerja pemberdayaan dan keadilan sosial, serta membangun basis pengetahuan mengenai ulama perempuan dan kontribusinya untuk keadaban.


Kehadiran ulama perempuan di ruang kekinian memiliki peran penting dalam membangun kesetaraan sekaligus meneguhkan eksistensi. Perempuan tidak lagi dianggap sebagai makhluk tak berdaya yang harus tunduk pada kultur patriarkhi. Sejarah membuktikan betapa ketidakhadiran suara perempuan dalam perumusan fikih justru semakin memperkuat suporioritas laki-laki atas perempuan.
Kehadiran ulama perempuan di ruang kekinian memiliki peran penting dalam membangun kesetaraan sekaligus meneguhkan eksistensi. Perempuan tidak lagi dianggap sebagai makhluk tak berdaya yang harus tunduk pada kultur patriarkhi. Sejarah membuktikan betapa ketidakhadiran suara perempuan dalam perumusan fikih justru semakin memperkuat suporioritas laki-laki atas perempuan.
Baris 52: Baris 51:


Akhirulkalam, saya sependapat dengan Rosmary Mahoney, penulis nonfiksi Amerika Serikat, dalam sebuah kolomnya, ''Serahkan Kekuasaan Kepada Wanita, niscaya mengubah dunia.''
Akhirulkalam, saya sependapat dengan Rosmary Mahoney, penulis nonfiksi Amerika Serikat, dalam sebuah kolomnya, ''Serahkan Kekuasaan Kepada Wanita, niscaya mengubah dunia.''
''Media Indonesia,'' 28 April 2017
''Sumber: Harian Media Indonesia, 28 April 2017''
[[Kategori:Berita]]
[[Kategori:Berita]]
[[Kategori:Berita Kongres 1]]
[[Kategori:Berita Kongres 1]]

Menu navigasi