Bu Nyai Sebagai Garda Terdepan Menjaga Kemandirian dan Lingkungan Pesantren: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
tidak ada ringkasan suntingan
(←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia] |- |Penulis |: |Editor :...')
 
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia]
|[https://rahma.id/bu-nyai-menjaga-kemandirian-dan-lingkungan-pesantren/ rahma.id]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Editor : Triwinarno
|Pepy Marwinata
|-
|-
|Tanggal Publikasi
|Tanggal Publikasi
|:
|:
|23/10/2020 05:15
|Mei 25, 2023
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Belajar dari sang Nyai Masriyah Amva]
|[https://rahma.id/bu-nyai-menjaga-kemandirian-dan-lingkungan-pesantren/ Bu Nyai Sebagai Garda Terdepan Menjaga Kemandirian dan Lingkungan Pesantren]
|}PESANTREN menjadi salah satu [[lembaga]] pendidikan, khusus agama Islam. Tidak heran jika satu pesantren terkadang memiliki ratusan hingga ribuan santri yang rela mondok untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.  
|}Pesantren sebagai salah satu [[lembaga]] pendidikan tertua di Indonesia. KH Abdurrahman Wahid dalam tulisan yang berjudul ‘Pondok Pesantren Masa Depan,’ menyebutkan bahwa pesantren memiliki tiga elemen utama yang menjadikannya sebagai sebuah subkultur. ''Pertama,'' pola kepemimpinan pesantren yang mandiri. ''Kedua,'' penggunaan kitab-kitab rujukan (kitab kuning) untuk mendalami ajaran Islam. ''Ketiga,'' sistem nilai ''(value system)'' yang dianut pesantren.  


Jika pada umumnya pesantren identik dengan penokohan seorang kiai, beda halnya dengan Pesantren Kebon Jambu yang berada di kawasan kampung santri Desa Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat.
Tiga elemen tersebut yang menjadikan pesantren berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Seiring berjalannya waktu, kini pesantren berkembang tidak hanya untuk menimba ilmu agama saja. Tetapi menjadi lembaga multiperan yang juga harus memperhatikan terkait kebudayaan, kesenian, kewirausahaan, sosial, pemberdayaan masyarakat secara luas, dan juga menjaga ekosistem lingkungan hidup di pesantren. Pelaksanaan prinsip dasar tersebut semata untuk mencapai tujuan kemaslahatan yang lebih luas. Dalam hal ini bersifat inklusif atau terbuka tidak eksklusif atau tertutup hanya pada bidang-bidang tertentu saja.


Di pesantren ini justru seorang nyailah yang menjadi pemimpin utama.
Tentu peranan pesantren yang banyak tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak yang tinggal di pesantren. Salah satunya adalah Bu Nyai yang memiliki banyak peran strategis. Dengan kepiawaiannya, banyak sekali para Bu Nyai yang menjadi garda terdepan di pesantren dalam menjaga kemandirian dan kebersihan lingkungannya.


"Dulunya pesantren ini dipimpin oleh suami saya, tetapi beliau wafat. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kepemimpinan pesantren ini," ungkap Nyai [[Masriyah Amva]] pemimpin Pesantren Kebon Jambu.
=== Para Nyai Pemimpin Pesantren ===
Peranan Bu Nyai ini acapkali masih dianggap sebatas sebagai istri Kiai. Anggapan ini juga berujung menafikan kemampuan manajerial para Bu Nyai dalam mengelola pesantren. Padahal banyak sekali Bu Nyai yang juga memimpin pesantren seorang diri sepeninggal suaminya. Berdasar situasi aktual, peran Bu Nyai merupakan bentuk nyata bagaimana konsep kepemimpinan khususnya di lembaga pendidikan pesantren telah membuka jalan sekaligus peningkatan peran untuk mendukung tercapainya kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan.


Keputusan Sang Nyai untuk menjadi pimpinan pesantren bukanlah tanpa alasan. Masih belum siapnya penerus suami untuk memimpin pesantren menjadi dasar utama diambilnya keputusan tersebut.
Bahkan tidak hanya mampu, para Bu Nyai ini juga berhasil mengembangkan pesantren jauh lebih maju dari sebelumnya. Beberapa pesantren tersebut antara lain Pesantren Kebon Jambu Cirebon yang dipimpin Nyai [[Masriyah Amva]]; Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) Magetan yang dipimpin Hj. Siti Fauziyah; Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor yang dipimpin Umi Waheeda; dan Pesanten Al-Hidayah Putri Karang Suci Purwokerto Utara yang dipimpin Nyai Hj. Nadhiroh.


"Saya ingat waktu awal-awal suami meninggal satu per satu santri pergi meninggalkan pesantren ini. Orangtua mereka datang dan izin untuk memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain," ujarnya kembali.
Selanjutnya, Umi Waheeda pengasuh Pesantren Al Ashariyyah Nurul Iman Parung Bogor tidak hanya mampu memimpin pesantren. Ia juga berhasil memajukan perekonomian dan kemandirian pesantren melalui strategi ''Socio Preneurship'' sebagai lembaga sosial mandiri yang menghidupi para santrinya. Umi Waheeda mendorong para santri untuk berperan aktif memajukan ekonomi demi tercapainya kemandirian pesantren yang berdikari. . . . . .
 
Masa-masa itu menjadi masa yang kelam baginya. Hidup dalam keterpurukan yang akhirnya membuat ia sadar bahwa hanya Sang Mahakuasalah yang dapat menolongnya. Perlahan, tapi pasti Masriyah Amva mampu membawa pesantrennya bangkit dalam keterpurukan. Bahkan kini Pondok Kebon Jambu menjadi salah satu tempat pembelajaran agama favorit.
 
Apa sebenarnya yang menjadi kekuatan Nyai Masriyah Amva memimpin Pesantren Kebon Jambu yang mayoritas santrinya didominasi oleh pria? Lalu bagaimana respons dirinya terhadap anggapan jika seorang wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin?
 
Cerita sang Nyai dirangkum dalam film dokumenter berjudul Pesan dari sang Nyai yang tayang dalam program Melihat Indonesia di Metro TV pada Minggu, 25 Oktober 2020 pukul 10.30 WIB. (RO/H-1)
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]

Menu navigasi