Bu Nyai Sebagai Garda Terdepan Menjaga Kemandirian dan Lingkungan Pesantren

Info Artikel

Sumber Original : rahma.id
Penulis : Pepy Marwinata
Tanggal Publikasi : Mei 25, 2023
Artikel Lengkap : Bu Nyai Sebagai Garda Terdepan Menjaga Kemandirian dan Lingkungan Pesantren

Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia. KH Abdurrahman Wahid dalam tulisan yang berjudul ‘Pondok Pesantren Masa Depan,’ menyebutkan bahwa pesantren memiliki tiga elemen utama yang menjadikannya sebagai sebuah subkultur. Pertama, pola kepemimpinan pesantren yang mandiri. Kedua, penggunaan kitab-kitab rujukan (kitab kuning) untuk mendalami ajaran Islam. Ketiga, sistem nilai (value system) yang dianut pesantren.

Tiga elemen tersebut yang menjadikan pesantren berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Seiring berjalannya waktu, kini pesantren berkembang tidak hanya untuk menimba ilmu agama saja. Tetapi menjadi lembaga multiperan yang juga harus memperhatikan terkait kebudayaan, kesenian, kewirausahaan, sosial, pemberdayaan masyarakat secara luas, dan juga menjaga ekosistem lingkungan hidup di pesantren. Pelaksanaan prinsip dasar tersebut semata untuk mencapai tujuan kemaslahatan yang lebih luas. Dalam hal ini bersifat inklusif atau terbuka tidak eksklusif atau tertutup hanya pada bidang-bidang tertentu saja.

Tentu peranan pesantren yang banyak tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak yang tinggal di pesantren. Salah satunya adalah Bu Nyai yang memiliki banyak peran strategis. Dengan kepiawaiannya, banyak sekali para Bu Nyai yang menjadi garda terdepan di pesantren dalam menjaga kemandirian dan kebersihan lingkungannya.

Para Nyai Pemimpin Pesantren

Peranan Bu Nyai ini acapkali masih dianggap sebatas sebagai istri Kiai. Anggapan ini juga berujung menafikan kemampuan manajerial para Bu Nyai dalam mengelola pesantren. Padahal banyak sekali Bu Nyai yang juga memimpin pesantren seorang diri sepeninggal suaminya. Berdasar situasi aktual, peran Bu Nyai merupakan bentuk nyata bagaimana konsep kepemimpinan khususnya di lembaga pendidikan pesantren telah membuka jalan sekaligus peningkatan peran untuk mendukung tercapainya kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan.

Bahkan tidak hanya mampu, para Bu Nyai ini juga berhasil mengembangkan pesantren jauh lebih maju dari sebelumnya. Beberapa pesantren tersebut antara lain Pesantren Kebon Jambu Cirebon yang dipimpin Nyai Masriyah Amva; Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) Magetan yang dipimpin Hj. Siti Fauziyah; Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor yang dipimpin Umi Waheeda; dan Pesanten Al-Hidayah Putri Karang Suci Purwokerto Utara yang dipimpin Nyai Hj. Nadhiroh.

Selanjutnya, Umi Waheeda pengasuh Pesantren Al Ashariyyah Nurul Iman Parung Bogor tidak hanya mampu memimpin pesantren. Ia juga berhasil memajukan perekonomian dan kemandirian pesantren melalui strategi Socio Preneurship sebagai lembaga sosial mandiri yang menghidupi para santrinya. Umi Waheeda mendorong para santri untuk berperan aktif memajukan ekonomi demi tercapainya kemandirian pesantren yang berdikari. . . . . .