Puisi Perdamaian dari Sang Nyai: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 26: Baris 26:
Sastra Indonesia makin meriah oleh pengarang perempuan, ini terlihat makin banyaknya perempuan makin banyak pengarang perempuan yang dikenal. Pada priode 1950 diwakili dengan Agnes Sri Hartini Arswendo, Aryanti, Asnelly Luthan, Boen S. Oemaryati, Diah Hadaning, Farida Soemargono dan masih banyak lainnya.   
Sastra Indonesia makin meriah oleh pengarang perempuan, ini terlihat makin banyaknya perempuan makin banyak pengarang perempuan yang dikenal. Pada priode 1950 diwakili dengan Agnes Sri Hartini Arswendo, Aryanti, Asnelly Luthan, Boen S. Oemaryati, Diah Hadaning, Farida Soemargono dan masih banyak lainnya.   


Setelah dekade 1970-an, perjalanan pengarang perempuan Indonesia dalam sejarah kesusastraan dilanjutkan oleh munculnya pengarang wanita baru seperti Ayu Utami lewat Saman (1998), dan Larung (2001). Diikuti oleh gebrakan Dewi Lestari dengan Supernova (2001), Akar (2002), dan Fira Basuki dengan Jendela-jendela (2001) yang merupakan bagian pertama dari trilogi Pintu (2002) dan Atap (2002).
Setelah dekade 1970-an, perjalanan pengarang perempuan Indonesia dalam sejarah kesusastraan dilanjutkan oleh munculnya pengarang wanita baru seperti Ayu Utami lewat Saman (1998), dan Larung (2001). Diikuti oleh gebrakan Dewi Lestari dengan Supernova (2001), Akar (2002), dan Fira Basuki dengan Jendela-jendela (2001) yang merupakan bagian pertama dari trilogi Pintu (2002) dan Atap (2002). ......
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]

Menu navigasi