Fatimah Kilwo

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Fatimah Kilwo
Fatimah Kilwo.jpeg
Tempat, Tgl. LahirTual, 03 April 1969
Aktivitas Utama
  • Anggota Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Ambon (2012-2015)
  • Anggota aktif di Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Lembaga Seni Qasidah Islam (LASQI), Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ), Muslimat dan Fatayat Nahdlatul Ulama
  • Penyuluh Agama di Kementrian Agama Kota Ambon
  • Pembina Tetap di Majelis Taklim Ar-Ruhul Jadid dan Majelis Taklim Silaturrahum Kota Ambon
Karya Utama
  • Aktif menulis sejak tahun 2008 dan tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media cetak lokal, seperti Ambon Ekspres, Suara Maluku, Koran Siwalima, dan Radar Maluku

Fatimah Kilwo atau yang lebih akrab dipanggil Ibu Fat merupakan perempuan berdarah Maluku yang lahir di Tual pada 3 April 1969. Saat ini ia bekerja sebagai Penyuluh Agama di Kementrian Agama Kota Ambon. Anak ketiga dari lima bersaudara ini menyelesaikan pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tual, kemudian melanjutkan ke MTs Negeri Tual dan MAN Tual. Ketika usia menginjak 20 tahun, Fatimah Kilwo memutuskan pindah ke Ambon untuk melanjutkan pendidikan ke IAIN Alauddin Makassar Cabang Ambon (sekarang bernama IAIN Ambon). Ia juga sempat melanjutkan kuliah S2 di Maluku, kerjasama antara Universitas Pattimura dengan Samratulangi pada tahun 2003-2004, hanya saja karena beberapa faktor ia memutuskan tidak menyelesaikannya.

Fatimah Kilwo mengetahui adanya KUPI dari Ibu Hilda Rolobessy, S.E, Sekretaris Fatayat NU Maluku. Fatimah Kilwo sendiri sangat mendukung keberadaan ulama perempuan di Indonesia. Menurutnya, dalam sejarah perkembangan Islam sampai saat ini telah banyak perempuan hebat, cerdas, alim, dan salehah, seperti istri-istri Rasulullah, ahli tafsir, dan hafizhah yang memberikan pengetahuan kepada umat. Baginya, kehadiran ulama perempuan sangat penting agar yang muncul tidak hanya suara laki-laki saja, tetapi juga suara perempuan.

Riwayat Hidup

Fatimah Kilwo dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang Islami. Saat kecil, meski tinggal di wilayah dengan mayoritas muslim, Fatimah Kilwo tidak menutup pergaulan dengan Basudara atau warga non-Muslim Maluku lainnya. Ayahnya, Muhammad Saleh Kilwo, merupakan seorang guru madrasah yang purna tugas di Kementrian Agama Kota Ambon. Dikarenakan oleh pekerjaan sang ayah, Fatimah Kilwo dan keluarga hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan Ibunya, Gamar Syarifuddin Rahatan, merupakan ibu rumah tangga. Pasangan ini dikenal sabar, sederhana, dan kompak.

Dalam ingatan Fatimah Kilwo, bapaknya pernah berkata, “Jangan suru anak-anak masak, kerja yang begitu, yang kalau kerja dapur itu semua orang bisa. Tapi saya mau anak-anak saya itu jadi pembicara, jadi juru dakwah, jadi guru, jadi pengacara, jadi polisi.” Itulah yang kemudian dipegang teguh oleh Fatimah Kilwo dalam kehidupannya. Bersama sang ayah, Fatimah kecil belajar menjadi pribadi yang berani, melalui sang ibu ia belajar mengaji. Doa-doa diajarkan oleh ibunya. Mengikuti jejak ayahnya, Fatimah Kilwo dan keempat saudaranya tercatat bekerja di bawah kementrian agama, meski di bidang yang berbeda.

Fatimah Kilwo memiliki proses panjang dalam karirnya. Ia pernah menjadi satu-satunya perempuan juru kampanye tahun 1996-1997. Pada tahun 1999, ia mengajukan administrasi untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif Maluku. Akan tetapi, kerusuhan besar di tahun tersebut menjadi kendala pengiriman dokumen administrasi. Keajaiban lain datang. Dua bulan berselang pelantikan anggota DPRD Maluku, Presiden Habibi mengumumkan pembentukan Provinsi Maluku Utara sebagai pemerkaran dari Provinsi Maluku. Saat itulah Fatimah Kilwo masuk menjadi anggota DPRD Maluku selama satu periode. Setelah menyelesaikan masa baktinya di DPRD Maluku pada tahun 2004, Fatimah Kilwo mengikuti tes CPNS dan pada 1 Januari 2005 resmi menjadi PNS di lingkungan Kementrian Agama. Pulau Buru adalah tempat Fatimah Kilwo pertama kali menjalankan tugasnya sebagai abdi negara. Lepas tiga tahun bertugas di Pulau Buru, ia kembali pindah ke Kota Ambon hingga saat ini.

Aktivitas utama Fatimah Kilwo adalah sebagai penyuluh agama di Kementrian Agama Kota Ambon. Fokus utama dari kerja Fatimah adalah melakukan pembinaan di majelis taklim di Kota Ambon. Ia menjadi pembina tetap di dua majelis taklim terbesar di Kota Ambon, yaitu Majelis Taklim Ar-Ruhul Jadid yang beranggotakan lebih dari 600 orang dan Majelis Taklim Silaturrahum Kota Ambon yang beranggotakan lebih dari 500 orang. Setiap minggu Fatimah memberi tausiah di majelis-majelis taklim di Kota Ambon. Ia yang awalnya bercita-cita menjadi guru, meski tidak bisa mewujdkannya menjadi guru formal nyatanya bisa memiliki murid hampir di seluruh Kota Ambon.

Fatimah Kilwo tidak hanya membatasi kegiatan pada majelis-majelis taklim binaannya, tetapi juga di forum pengajian yang lain atas undangan masyarakat di lingkungan sekitar. Ia juga memberi tausiah di lembaga pengembangan masyarakat dan lembaga sosial masyarakat dan sering diundang untuk menjadi pemandu acara dalam beberapa kegiatan di Kota Ambon. Selain mengisi majelis-majelis taklim dengan dakwahnya, Fatimah Kilwo juga menerima konsultasi baik di dalam maupun luar majelis taklim. Permasalahan yang banyak diterima Fatimah Kilwo biasanya berupa konsultasi keluarga dan pertanyaan seputar urusan mengurus nikah dan cerai.

Tokoh dan Keulamaan Perempuan

Aktivitas keagamaan seorang Fatimah Kilwo bermula dari kehidupan pribadi. “Dari bapak.” akunya. Sang ayah mengajarkan Fatimah Kilwo kecil banyak hal tentang agama. Dalam tradisi keluarganya, Setiap malam Jumat ia dan saudara-saudara membaca syarafal anam, qosidah burdah, aqidatul awam, rotib al-hadad, rotib al-atho, dan masih banyak lainnya. Fatimah Kilwo merasa takjub ketika menyadari segala hal yang diajarkan ayahnya dulu sangat berguna ketika ia dewasa, terutama di dunia kerja.  “Untung dulu kita waktu kecil suruh hafal. Jadi waktu mau kasih tausiah, muncul dalam ingatan,” kata Fatimah Kilwo mengenang.

Aktivitas keagamaan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat bukanlah dimulai sejak ia menjadi Penyuluh Agama di Kementrian Agama Kota Ambon, melainkan sejak berada di bangku kuliah. Ia sempat bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Ambon. Setiap kali kembali ke kampung halamannya, di Tual, Fatimah Kliwo selalu menyempatkan diri untuk memberikan bimbingan kepada ibu-ibu di sana. Misalnya, thaharah, serta cara dan gerakan shalat yang benar antara laki-laki dan perempuan.

Sejak resmi berstatuskan diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil, Fatimah Kilwo bergabung di beberapa organisasi kemasyarakatan berbasis agama dan non agama di Kota Ambon. Ia tercatat aktif di dalam Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Lembaga Seni Qasidah Islam (LASQI), dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ). Selain itu, Fatimah Kilwo juga pernah bergabung dengan Muslimat dan Fatayat Nahdlatul Ulama. Pada 2011, ia mengikuti Kongres Muslimat Nahdlatul Ulama di Bandar Lampung.

Pada tahun 2012, Fatimah Kilwo bergabung dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Ambon. Lembaga ini merupakan bentukan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Kehadirannya di lembaga tersebut untuk meneruskan pesan atau informasi dari FKPT kepada masyarakat melalui majelis-majelis taklim, TPQ-TPQ, dan posyandu. Pada akhir 2015, Fatimah Kilwo memutuskan mengundurkan diri dari FKPT dikarenakan aktivitas di kantor yang semakin padat.

Dakwah Fatimah Kilwo tidak hanya disampailan secara langsung di majelis-majelis taklim. Pada tahun 15 Februari 2018, ia berdakwah pertama kali di TVRI Maluku. Sampai saat tulisan ini dibuat, Fatimah Kilwo masih mendapat kepercayaan untuk mengisi kajian di TVRI Maluku. Selain mengisi kajian, Fatimah Kilwo juga dipercaya sebagai narasumber acara Jejak Islam di TVRI Maluku sejak tahun 2019. Fatimah Kilwo sendiri mengaku tidak pernah menolak undangan menyampaikan pesan-pesan agama di mana pun dan kapan pun. Selagi senggang atau tidak bertabrakan dengan agenda lain, ia dengan senang hati menerima undangan tersebut.

Kehadiran Fatimah Kilwo di jalan dakwah diterima dengan baik oleh masyarakat. Selain karena kehadirannya sebagai perempuan pendakwah tidak pernah ditolak atau dipertanyakan, ia disambut dan ditunggu oleh jamaah. Bahkan untuk urusan memilih sekolah untuk anak, jamaah juga bertanya padanya. Fatimah Kilwo juga pernah direkomendasikan oleh Direktur Penelitian dan Pengembangan IAIN Ambon untuk menjadi narasumber bagi tim peneliti dari UIN Sunan Kalijaga yang sedang meneliti tentang cendikiawan muslimah. Baginya, Fatimah Kilwo adalah perempuan pendakwah yang memiliki perhatian ekstra dan serius, serta mengerti kondisi jamaah.

Fatimah Kilwo memiliki strategi sendiri dalam menyebarluaskan ilmu agama. Ia tidak pernah mengulang materi. Setiap kali akan mengisi kajian, ia membuat pokok-pokok pikiran dan mencatat tanggalnya, sehingga ia tidak mengulangi materi yang sama untuk kedua kalinya. Bagi Fatimah Kilwo dalam berdakwah tidak perlu memberi materi terlalu banyak agar mereka yang mau belajar selalu merasa tidak puas dan terus mencari. Dalam penyampaiannya, ia cukup berbicara selama 12 hingga 16 menit. Selebihnya diskusi dan tanya jawab. Mengajak jamaah ber-shalawat  adalah salah satu strategi untuk membangun ikatan dengan jamaah, sebab menurutnya pada momen itu ia jamaah akan merasa terlibat dalam prosesnya.

Bagi Fatimah Kilwo faktor lain yang membuat jamaah menerima kehadirannya dengan baik adalah kedisiplinan. Ia tidak ingin membuat jamaah menunggu sehingga datang lebih dulu. Ditambah lagi, ia datang untuk menyegarkan ingatan jamaah, bukan untuk menggurui. “Sesungguhnya mereka sudah tahu, tapi kita mengingatkan kembali,” tuturnya. Dalam kajian-kajiannya, Fatimah Kilwo membawakan tema-tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Di majelis-majelis taklim binaan, Fatimah Kilwo biasanya membawakan tema seputar sejarah Islam, ibadah dan tata caranya, fiqih, shalawat dan tadarus. Sedangkan di luar binaan, pesan-pesan agama disampaikan melalui kisah-kisah inspiratif atau teladan dengan tujuan agar tidak terkesan menggurui.

Semangat dakwah Fatimah Kilwo adalah membangun imunitas generasi muslim dari hal-hal yang buruk. Baginya menjaga moral dan mentalitas generasi muslim adalah keutamaan. Untuk sampai pada hal yang diperjuangkan tersebut, Fatimah Kilwo membangun ikatan dengan masyarakat. Selain dengan berbicara langsung di depan forum majelis taklim, ia juga menyampaikan dengan pendekatan dari hati ke hati, misalnya dengan mengajak berbincang di warung dengan bahasa lokal.

Berhadapan dengan masyarakat bertahun-tahun membuat Fatimah Kilwo mampu mempelajari masyarakatnya. Dalam pengamatannya, perubahan sosial dan keagamaan mulai terjadi. Jika dibandingkan dengan dulu—hanya perempuan yang bekerja atau besekolah di bidang keagamaan saja yang berjilbab—saat ini, 70% perempuan muslim Maluku sudah mengenakan jilbab. Selain itu, keterbukaan informasi memberi peran dalam perubahan masyarakat. Hal ini bagi Fatimah Kilwo bisa menjadi peluang dan tantangan di saat yang bersamaan. Keterbukaan informasi membantunya dan masyarakat untuk menemukan hal yang ingin dicari dan di saat yang bersamaan jika informasi tidak disaring dapat memberikan dampak buruk.

Penghargaan dan Prestasi

Atas dedikasinya di dunia dakwah, pada tahun 2008 ia mendapatkan penghargaan sebagai Penyuluh PNS Teladan Provinsi Maluku. Ia juga pernah mewakili Provinsi Maluku dalam MTQ Nasional KOPRI dalam bidang dakwah Al Quran pada tahun 2018. Pada tahun 2019, ia mewakili Provinsi Maluku dalam ajang Lomba Penyuluh Teladan di tingkat nasional. Di antara semua pencapaian-pencapaian itu, terdapat dua hal yang tidak bisa dilupakan. Yaitu, ketika ia melakukan presentasi di hadapan Wakil Menteri Agama (saat itu dijabat oleh Nasaruddin Umar) dalam agenda pencanangan Lembaga Pendidikan Pengamalan Ajaran Agama tahun 2007 dan mendapat hadiah umrah dari Pemerintah Provinsi Maluku. Baginya, keduanya melebihi piagam atau penghargaan.

Karya-Karya

Fatimah Kilwo dalam dakwahnya tidak hanya menyampaikan nilai-nilai keislaman di depan jamaah, tetapi juga melalui tulisan. Ia mulai menulis sejak tahun 2008. Tulisan-tulisannya telah tersiar di berbagai media cetak lokal, seperti Ambon Ekspres, Suara Maluku, Koran Siwalima, dan Radar Maluku. Selain itu, ia juga pernah menulis di majalah BNPT dan tabloid di Kanwil Agama. Tulisan-tulisan Fatimah Kilwo tidak hanya berisikan nilai-nilai keislaman secara tersurat, tetapi juga tersirat. Ia menyelipkan nilai-nilai hidup ketika menulis tentang piala dunia di Afrika, narkoba, politik, hingga wisata.

Daftar Bacaan Lanjutan

Asyathri, Helmia, Keppi Sukesi, Yayuk Yuliati. (2014). “Diplomasi Hibrida: Perempuan dalam Resolusi Konflik Maluku” Indonesia Journal of Woman’s Studies. Vol.2, No.1 https://ijws.ub.ac.id/index.php/ijws/article/view/104



Penulis : Riyana Rizki Yuliatin
Editor : Nor Ismah
Reviewer : Faqihuddin Abdul Kodir