Mendobrak Budaya Patriarki di Pesantren

Dari Kupipedia
Revisi per 14 Juli 2025 20.59 oleh Agus Munawir (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Info Artikel

Sumber Original : pepnews.com
Penulis : Alexander Sudrajat
Tanggal Publikasi : Kamis, 22 April 2021 | 08:51 WIB
Artikel Lengkap : Mendobrak Budaya Patriarki di Pesantren

Ya Allah, hari ini kuangkat Engkau sebagai kekasih sebagaimana lelaki menjadikan-Mu sebagai kekasih.

Nyai Masriyah Amva pernah terpuruk ketika suaminya, KH Muhammad, berpulang pada 2007.

Seperti perempuan pada umumnya dia merasa separuh jiwanya hilang, masa depannya suram. Hingga pada suatu waktu ego dan kesadarannya bangkit. Perempuan kelahiran Cirebon, 13 Oktober 1961 itu tak ingin bernasib seperti perempuan lain pada umumnya.  

Dia melihat bila suami kehilangan isteri pada umumnya tetap tegar perkasa. Masriyah pun insyaf bahwa mereka bisa begitu karena bersandar pada kekuatan sang Khalik. Dirinya pun harus bersikap serupa. Tak ada yang patut menjadi sandaran hidup kecuali sang Pencipta itu sendiri.

“Ya Allah, hari ini kuangkat Engkau sebagai kekasih sebagaimana lelaki menjadikan-Mu sebagai kekasih,” kata Masriyah Amva mengutip salah satu coretan puisinya saat ditemui tim Blak-blakan detikcom, Jumat (9/4/2021).

Perlahan dia membangun kepercayaan diri untuk langsung memimpin pesantren yang didirikan bersama almarhum suaminya. Tak langsung mulus tentu.

Para alumni, pengurus pesantren yang semuanya lelaki pun memandang Masriyah sebelah mata. Apalagi ketika alumnus Pesantren Al-Muayyad Solo, Pesantren Al-Badi'iyyah Pati, dan Pesantren Dar al-Lughah wa Da'wah di Bangil, Jawa Timur itu mulai menanamkan nilai-nilai kemandirian kepada para santrinya.

“Yang membunuh saya itu bukan hanya budaya, doktrin agama, tapi justru banyak dari sesama perempuan. Dalam waktu yang sangat lama saya tidak diakui dan diterima oleh para alumni. Mereka memandang saya sebelah mata,” tutur Masriyah Amva yang kini telah menerbitkan lebih dari 20 buku puisi, motivasi dan ketuhanan. . . . . .