Potensi Tafsir Bias Gender Masih Tinggi: Perbedaan revisi

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
 
Baris 18: Baris 18:
|}
|}
Pandemi Covid-19 tak menyurutkan langkah [[Nur Rofiah]] menggelar Ngaji Keadilan Gender (KGI). Lewat forum dakwah yang digagasnya sejak Ramadan dua tahun lalu itu, doktor ilmu Al-Qur'an dan tafsri yang mengajar di Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an Jakarta Selatan ini memperjuangkan keadilan gender bagi perempuan. Nur berupaya membangun kesadaran tentang kemanusiaan perempuan yang setara dengan laki-laki. Dia berkenalan dengan isu keadilan gender saat masih kuliah di Institut Agama Islam Negeri Sunan Kajijaga Yogyakarta, pada 1990an. Saat itu sedang ramai isu gender dihubungkan dengan Islam di Indonesia.
Pandemi Covid-19 tak menyurutkan langkah [[Nur Rofiah]] menggelar Ngaji Keadilan Gender (KGI). Lewat forum dakwah yang digagasnya sejak Ramadan dua tahun lalu itu, doktor ilmu Al-Qur'an dan tafsri yang mengajar di Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an Jakarta Selatan ini memperjuangkan keadilan gender bagi perempuan. Nur berupaya membangun kesadaran tentang kemanusiaan perempuan yang setara dengan laki-laki. Dia berkenalan dengan isu keadilan gender saat masih kuliah di Institut Agama Islam Negeri Sunan Kajijaga Yogyakarta, pada 1990an. Saat itu sedang ramai isu gender dihubungkan dengan Islam di Indonesia.
[[Kategori:Jejak Tokoh]]
 
[[Kategori:Jejak Nur Rofiah]]
[[Kategori:Jejak Nur Rofiah]]

Revisi terkini pada 9 Juli 2025 02.34

Info Artikel

Sumber : majalah.tempo.co
Penulis : -
Tanggal Publikasi : Sabtu, 8 Mei 2021
Artikel Lengkap : Potensi Tafsir Bias Gender Masih Tinggi

Pandemi Covid-19 tak menyurutkan langkah Nur Rofiah menggelar Ngaji Keadilan Gender (KGI). Lewat forum dakwah yang digagasnya sejak Ramadan dua tahun lalu itu, doktor ilmu Al-Qur'an dan tafsri yang mengajar di Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an Jakarta Selatan ini memperjuangkan keadilan gender bagi perempuan. Nur berupaya membangun kesadaran tentang kemanusiaan perempuan yang setara dengan laki-laki. Dia berkenalan dengan isu keadilan gender saat masih kuliah di Institut Agama Islam Negeri Sunan Kajijaga Yogyakarta, pada 1990an. Saat itu sedang ramai isu gender dihubungkan dengan Islam di Indonesia.