Bashirotul Hidayah: Perbedaan revisi

18 bita dihapus ,  19 November 2021 11.34
tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 10: Baris 10:


Di luar kegiatan akademik kampus, sebagai seorang pengajar di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas Bahrul ‘Ulum (Madrasah tertua di Jawa Timur, tempat studi KH. Abdurrahman Wahid/Gus Dur saat berada di Pondok Tambakberas), Ning Ida banyak mengajarkan tentang potensi dan posisi strategis yang dapat diperankan oleh perempuan. Ia banyak mengenalkan [[tokoh]]-tokoh perempuan inspiratif di dalam Al-Qur’an, seperti Maryam, Asiyah, dan para Istri Nabi, dan para mufasir perempuan, misalnya ‘Aisyah Bintu Syathi’. Ning Ida juga aktif berdakwah di masyarakat terutama dengan [[komunitas]] perempuan yang itu relevan dengan isu-isu atau kajian-kajian KUPI. Ia merasa berkewajiban untuk mengajarkan apa-apa yang telah ia dapatkan dari KUPI kepada keluarga dan lingkungannya.
Di luar kegiatan akademik kampus, sebagai seorang pengajar di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas Bahrul ‘Ulum (Madrasah tertua di Jawa Timur, tempat studi KH. Abdurrahman Wahid/Gus Dur saat berada di Pondok Tambakberas), Ning Ida banyak mengajarkan tentang potensi dan posisi strategis yang dapat diperankan oleh perempuan. Ia banyak mengenalkan [[tokoh]]-tokoh perempuan inspiratif di dalam Al-Qur’an, seperti Maryam, Asiyah, dan para Istri Nabi, dan para mufasir perempuan, misalnya ‘Aisyah Bintu Syathi’. Ning Ida juga aktif berdakwah di masyarakat terutama dengan [[komunitas]] perempuan yang itu relevan dengan isu-isu atau kajian-kajian KUPI. Ia merasa berkewajiban untuk mengajarkan apa-apa yang telah ia dapatkan dari KUPI kepada keluarga dan lingkungannya.
== Riwayat Hidup ==
== Riwayat Hidup ==
Ning Ida lahir di lingkungan pesantren, tepatnya Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Ia menerima pendidikan pertama kali dan terus berlangsung hingga saat ini dari kedua orang tuanya. Lingkungan dan tradisi pesantren memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan jati diri dan gagasan utama pemikirannya dalam menjalankan peran sebagai ''khadimat al-ummat''. Ia menempuh pendidikan formal dasarnya di dua tempat sekaligus, yaitu SDN Tambakrejo dan MI Bahrul Ulum Tambakberas. Selepas pendidikan dasar, ia melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah dan atas di Madrasah Mu’allimin-Mu’allimat Atas Bahrul ‘Ulum. Pendidikan sarjana ia selesaikan di UIN Sunan Ampel Surabaya (saat itu masih bernama IAIN), sementara pendidikan pasca sarjana ia tempuh di UNIPDU Jombang.
Ning Ida lahir di lingkungan pesantren, tepatnya Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Ia menerima pendidikan pertama kali dan terus berlangsung hingga saat ini dari kedua orang tuanya. Lingkungan dan tradisi pesantren memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan jati diri dan gagasan utama pemikirannya dalam menjalankan peran sebagai ''khadimat al-ummat''. Ia menempuh pendidikan formal dasarnya di dua tempat sekaligus, yaitu SDN Tambakrejo dan MI Bahrul Ulum Tambakberas. Selepas pendidikan dasar, ia melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah dan atas di Madrasah Mu’allimin-Mu’allimat Atas Bahrul ‘Ulum. Pendidikan sarjana ia selesaikan di UIN Sunan Ampel Surabaya (saat itu masih bernama IAIN), sementara pendidikan pasca sarjana ia tempuh di UNIPDU Jombang.


Selain pendidikan formal, ia juga menempuh pendidikan non-formal di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah, di antaranya Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Pondok Pesantren Al-Quran Maunah, Sari Bandar Kidul, Kediri, Pondok pesantren Al-Quran, Robayan, Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah, Pondok Pesantren Salafiyah, Pethuk, Semen, Kediri, dan Pondok Pesantren Salafiyah Bustanul Arifin, Papar, Purwoasri, Kediri.
Selain pendidikan formal, ia juga menempuh pendidikan non-formal di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah, di antaranya Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Pondok Pesantren Al-Quran Maunah, Sari Bandar Kidul, Kediri, Pondok pesantren Al-Quran, Robayan, Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah, Pondok Pesantren Salafiyah, Pethuk, Semen, Kediri, dan Pondok Pesantren Salafiyah Bustanul Arifin, Papar, Purwoasri, Kediri.
== Tokoh Dan Keulamaan Perempuan ==
== Tokoh Dan Keulamaan Perempuan ==
Di antara kegiatan kemasyarakatan yang Ning Ida jalankan adalah Kajian Rutin Fikih Perempuan setiap Selasa Pahing. Kajian ini secara khusus diikuti oleh para perempuan di sekitar lingkungan pesantren di Tambakberas Jombang. Materi kajian berisi tentang persoalan fikih. Pola kajian dilakukan dengan menggunakan tanya jawab. Persoalan fikih perempuan yang bersifat keseharian dan kekinian diajukan oleh para peserta kajian. Persoalan yang masuk kemudian dicarikan jawaban berdasar pada khazanah kitab kuning dilengkapi dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an maupun Hadits. Di kota yang sama, setiap hari Ning Ida juga melakukan kajian kitab ''Mukasyafatul Qulub'' karya Hujjatul Islam, Abu Hamid Al-Ghazali. Kajian ini diikuti juga oleh para perempuan di sekitar pesantren. Berbeda dengan kajian fikih perempuan, dalam kajian ini fokus yang dibahas adalah persoalan akhlak.
Di antara kegiatan kemasyarakatan yang Ning Ida jalankan adalah Kajian Rutin Fikih Perempuan setiap Selasa Pahing. Kajian ini secara khusus diikuti oleh para perempuan di sekitar lingkungan pesantren di Tambakberas Jombang. Materi kajian berisi tentang persoalan fikih. Pola kajian dilakukan dengan menggunakan tanya jawab. Persoalan fikih perempuan yang bersifat keseharian dan kekinian diajukan oleh para peserta kajian. Persoalan yang masuk kemudian dicarikan jawaban berdasar pada khazanah kitab kuning dilengkapi dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an maupun Hadits. Di kota yang sama, setiap hari Ning Ida juga melakukan kajian kitab ''Mukasyafatul Qulub'' karya Hujjatul Islam, Abu Hamid Al-Ghazali. Kajian ini diikuti juga oleh para perempuan di sekitar pesantren. Berbeda dengan kajian fikih perempuan, dalam kajian ini fokus yang dibahas adalah persoalan akhlak.
Baris 29: Baris 25:
Ning Ida kemudian terlibat di dalam kelompok kajian yang dibentuk bersama Fatayat NU dan Women Crisis Center (WCC) di Jombang untuk meneruskan pemikiran-pemikiran KUPI di lingkungannya. Kajian Fatayat NU merupakan kajian rutin keagamaan yang membahas tentang tema-tema perempuan, dari tingkat ranting, cabang, hingga wilayah. Sementara dengan WCC Jombang, Ning Ida membentuk kajian berkala mendiskusikan tema-tema perempuan dan anak. Ning Ida juga mewakili perempuan pesantren bermitra dengan WCC dalam pendampingan psikis korban kekerasan.
Ning Ida kemudian terlibat di dalam kelompok kajian yang dibentuk bersama Fatayat NU dan Women Crisis Center (WCC) di Jombang untuk meneruskan pemikiran-pemikiran KUPI di lingkungannya. Kajian Fatayat NU merupakan kajian rutin keagamaan yang membahas tentang tema-tema perempuan, dari tingkat ranting, cabang, hingga wilayah. Sementara dengan WCC Jombang, Ning Ida membentuk kajian berkala mendiskusikan tema-tema perempuan dan anak. Ning Ida juga mewakili perempuan pesantren bermitra dengan WCC dalam pendampingan psikis korban kekerasan.


Menurut Ning Ida, salah satu peluang besar yang dimiliki oleh KUPI untuk memperluas jaringan dan pengaruhnya adalah pemikiran dan sikap KUPI yang moderat dan berkeadilan dan diperkuat oleh ulama-ulama perempuan yang kompeten di bidang masing-masing. Namun demikian, Ning Ida juga melihat bahwa budaya patriarkis yang masih kuat mengakar di tengah masyarakat, khususnya masyarakat pesantren, membuat ruang gerak dan kiprah perempuan masih terbatas. Di lingkungan Ning Ida, isu-isu yang dikembangkan oleh KUPI masih belum mendapatkan respon yang signifikan, dengan fakta bahwa kegiatan-kegiatan yang ia lakukan bersama jaringan dari simpul-simpul KUPI masih belum ramai peminat. Persoalan ini merupakan salah satu tantangan bagi gerakan dan gagasan KUPI ke depan.
Menurut Ning Ida, salah satu peluang besar yang dimiliki oleh KUPI untuk memperluas [[jaringan]] dan pengaruhnya adalah pemikiran dan sikap KUPI yang moderat dan berkeadilan dan diperkuat oleh ulama-ulama perempuan yang kompeten di bidang masing-masing. Namun demikian, Ning Ida juga melihat bahwa budaya patriarkis yang masih kuat mengakar di tengah masyarakat, khususnya masyarakat pesantren, membuat ruang gerak dan kiprah perempuan masih terbatas. Di lingkungan Ning Ida, isu-isu yang dikembangkan oleh KUPI masih belum mendapatkan respon yang signifikan, dengan fakta bahwa kegiatan-kegiatan yang ia lakukan bersama jaringan dari simpul-simpul KUPI masih belum ramai peminat. Persoalan ini merupakan salah satu tantangan bagi gerakan dan gagasan KUPI ke depan.


Selain itu, Ning Ida juga menemukan bahwa peran perempuan di lingkungannya masih dianggap sebagai peran nomor dua, baik di lembaga formal maupun non-formal. Misalnya, di lingkungan kerja Ning Ida masih jarang perempuan yang menempati posisi utama atau nomor satu. Karena kesempatan itu masih sedikit diberikan kepada perempuan, meskipun kapasitas dan kualitas yang dimiliki sama, atau bahkan melebihi. Fenomena ini menjadi tantangan bagi Ning Ida secara pribadi juga anggota KUPI di lingkungannya untuk terus bersama-sama memberikan pemahaman tentang keadilan terhadap perempuan, baik sebagai individu maupun sebagai anggota dalam kehidupan organisasi dan kemasyarakatan.
Selain itu, Ning Ida juga menemukan bahwa peran perempuan di lingkungannya masih dianggap sebagai peran nomor dua, baik di lembaga formal maupun non-formal. Misalnya, di lingkungan kerja Ning Ida masih jarang perempuan yang menempati posisi utama atau nomor satu. Karena kesempatan itu masih sedikit diberikan kepada perempuan, meskipun kapasitas dan kualitas yang dimiliki sama, atau bahkan melebihi. Fenomena ini menjadi tantangan bagi Ning Ida secara pribadi juga anggota KUPI di lingkungannya untuk terus bersama-sama memberikan pemahaman tentang keadilan terhadap perempuan, baik sebagai individu maupun sebagai anggota dalam kehidupan organisasi dan kemasyarakatan.
== Penghargaan Dan Prestasi ==
== Penghargaan Dan Prestasi ==
Ning Ida memperoleh penghargaan-penghargaan, di antaranya dari perguruan tinggi tempat ia mengabdi, yaitu dinobatkan sebagai Dosen Terbaik dalam Bidang Pengembangan Pemikiran Perempuan (2019) dan Dosen Perempuan Inspiratif (2021).
Ning Ida memperoleh penghargaan-penghargaan, di antaranya dari perguruan tinggi tempat ia mengabdi, yaitu dinobatkan sebagai Dosen Terbaik dalam Bidang Pengembangan Pemikiran Perempuan (2019) dan Dosen Perempuan Inspiratif (2021).
== Karya-Karya ==
== Karya-Karya ==
Di antara karya akademik yang telah Ning Ida tulis adalah sebagai berikut:
Di antara karya akademik yang telah Ning Ida tulis adalah sebagai berikut:
Baris 43: Baris 35:
# “Afiksasi Kata Kerja Masa Lampau dalam Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia: Analisis Kontrastif”, di dalam ''Jurnal Tafaqquh'', (2013). <nowiki>http://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/tafaqquh/article/view/16/14</nowiki>
# “Afiksasi Kata Kerja Masa Lampau dalam Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia: Analisis Kontrastif”, di dalam ''Jurnal Tafaqquh'', (2013). <nowiki>http://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/tafaqquh/article/view/16/14</nowiki>
# “Qâmûs Al-Af’âl Al-Muta’addiyah Bi Al-Haf Al-Jarr Al-Takhrîj Min Al-Qur’ân Al-Karîm”, di dalam ''Jurnal Tafaqquh'' (2014). <nowiki>http://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/tafaqquh/issue/view/4</nowiki>
# “Qâmûs Al-Af’âl Al-Muta’addiyah Bi Al-Haf Al-Jarr Al-Takhrîj Min Al-Qur’ân Al-Karîm”, di dalam ''Jurnal Tafaqquh'' (2014). <nowiki>http://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/tafaqquh/issue/view/4</nowiki>
# 3.        “Ta’lîm Al-Lughah Al-‘Arabiyyah Al-Badawiyyah Li Tathawwur Al-Taqaddum ‘Al Al-Daulah Al-Umawiyyah; Al-Dirâsah Al-Takhlîliyyah Hîlâl Al-Manhaj Wa Al-Tharîqah”, di dalam ''Jurnal Tafaqquh'' (2016). <nowiki>http://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/tafaqquh/article/view/94/78</nowiki>
# “Ta’lîm Al-Lughah Al-‘Arabiyyah Al-Badawiyyah Li Tathawwur Al-Taqaddum ‘Al Al-Daulah Al-Umawiyyah; Al-Dirâsah Al-Takhlîliyyah Hîlâl Al-Manhaj Wa Al-Tharîqah”, di dalam ''Jurnal Tafaqquh'' (2016). <nowiki>http://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/tafaqquh/article/view/94/78</nowiki>
# “Penerapan Metode Amtsilati Dalam Penguasaan Kitab Kuning Di Pesantren Putri Al-Amanah Tambakberas Jombang”, di dalam ''Jurnal Murobbi'' (2018). <nowiki>http://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/murobbi/article/view/175/128</nowiki>
# “Penerapan Metode Amtsilati Dalam Penguasaan Kitab Kuning Di Pesantren Putri Al-Amanah Tambakberas Jombang”, di dalam ''Jurnal Murobbi'' (2018). <nowiki>http://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/murobbi/article/view/175/128</nowiki>
# “Peningkatan Kemampuan Membaca Bahasa Arab Melalui Teknik Pembelajaran Istima’ pada Siswa MTs. Al-Anwar Cangkringrandu Perak Jombang”, di dalam ''Jurnal Murobbi'' (2019). <nowiki>http://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/murobbi/article/view/268/178</nowiki>
# “Peningkatan Kemampuan Membaca Bahasa Arab Melalui Teknik Pembelajaran Istima’ pada Siswa MTs. Al-Anwar Cangkringrandu Perak Jombang”, di dalam ''Jurnal Murobbi'' (2019). <nowiki>http://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/murobbi/article/view/268/178</nowiki>