15.259
suntingan
(←Membuat halaman berisi '{{Infobox person|name=Umdatul Choirot|birth_date=|image=Berkas:Umdatul Choirot.jpeg|imagesize=220px|known for=*Menulis lirik lagu “Sebelum Subuh”, lirik mars Bahru...') |
|||
| Baris 25: | Baris 25: | ||
Fondasi demikian kembali diperkuat oleh Pak Hasan, suami Bu Um yang begitu mendukung aktivitas dakwahnya. Bu Um mengaku peran Pak Hasan demikian besar dalam melengkapi dan memudahkan aktivismenya. Keduanya saling melengkapi. Profesi Pak Hasan sebagai PNS membuat Bu Um tidak menyasar pekerjaan yang sama agar, menurutnya, ada yang ''nggawangi'' di rumah. Pak Hasan juga dengan siaga mem-''back-up'' semua aktivitas Bu Um. Ketika harus ikut pelatihan di Jakarta, Pak Hasan tidak segan membelikan tiket pesawat ketika moda transportasi tersebut masih terbilang mahal dan tidak banyak dipilih orang ketika itu. | Fondasi demikian kembali diperkuat oleh Pak Hasan, suami Bu Um yang begitu mendukung aktivitas dakwahnya. Bu Um mengaku peran Pak Hasan demikian besar dalam melengkapi dan memudahkan aktivismenya. Keduanya saling melengkapi. Profesi Pak Hasan sebagai PNS membuat Bu Um tidak menyasar pekerjaan yang sama agar, menurutnya, ada yang ''nggawangi'' di rumah. Pak Hasan juga dengan siaga mem-''back-up'' semua aktivitas Bu Um. Ketika harus ikut pelatihan di Jakarta, Pak Hasan tidak segan membelikan tiket pesawat ketika moda transportasi tersebut masih terbilang mahal dan tidak banyak dipilih orang ketika itu. | ||
Dengan perannya yang demikian sentral di pondok maupun di lingkungan yang meski belakangan semakin terbatas tersebut, Bu Um bukan tidak pernah menerima komentar kurang mengenakkan. Cibiran sebagai bu nyai gender yang disampaikan dengan sinis, misalnya, kerap ia terima. Bu Um mengaku cuek saja dengan respon-respon yang demikian dan merasa tidak dirundung. Ia menilai bahwa komentar semacam itu biasanya datang dari mereka yang tidak siap menerima perbedaan. Karenanya, ia tidak terlalu mempedulikan dan lebih fokus mengembangkan peluang ulama perempuan yang ia nilai demikian besar untuk melanjutkan perjuangan yang sudah dimulai. | Dengan perannya yang demikian sentral di pondok maupun di lingkungan yang meski belakangan semakin terbatas tersebut, Bu Um bukan tidak pernah menerima komentar kurang mengenakkan. Cibiran sebagai bu nyai gender yang disampaikan dengan sinis, misalnya, kerap ia terima. Bu Um mengaku cuek saja dengan respon-respon yang demikian dan merasa tidak dirundung. Ia menilai bahwa komentar semacam itu biasanya datang dari mereka yang tidak siap menerima perbedaan. Karenanya, ia tidak terlalu mempedulikan dan lebih fokus mengembangkan peluang [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] yang ia nilai demikian besar untuk melanjutkan perjuangan yang sudah dimulai. | ||
Gerakan ulama perempuan seperti KUPI, baginya adalah upaya untuk mengeksiskan diri sendiri, orang lain, [[lembaga]], termasuk calon-calon ulama perempuan yang saat ini masih nyantri. KUPI, menurut Bu Um, bisa menjadi ''role model'' atau contoh dari kelembagaan ulama perempuan dengan kekuatan yang luar biasa. Tanpa kelembagaan semacam ini, Bu Um melihat bahwa akan cukup susah untuk membangun kekuatan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, seperti RUU PKS yang membutuhkan dukungan institusional untuk memeratakan semangat pengarusutamaan gender. | Gerakan ulama perempuan seperti KUPI, baginya adalah upaya untuk mengeksiskan diri sendiri, orang lain, [[lembaga]], termasuk calon-calon ulama perempuan yang saat ini masih nyantri. KUPI, menurut Bu Um, bisa menjadi ''role model'' atau contoh dari kelembagaan ulama perempuan dengan kekuatan yang luar biasa. Tanpa kelembagaan semacam ini, Bu Um melihat bahwa akan cukup susah untuk membangun kekuatan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, seperti RUU PKS yang membutuhkan dukungan institusional untuk memeratakan semangat pengarusutamaan gender. | ||
| Baris 49: | Baris 49: | ||
|'''Penulis''' | |'''Penulis''' | ||
|''':''' | |''':''' | ||
|'''Masyithah | |'''Masyithah Mardhatillah''' | ||
|- | |- | ||
|'''Editor''' | |'''Editor''' | ||