Pendidikan dan Diskriminasi Perempuan Disabilitas: Perbedaan revisi
(←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel:''' {| |Sumber Original |: |[https://mubadalah.id/pendidikan-dan-diskriminasi-perempuan-disabilitas/ Mubadalah.id] |- |Tanggal Publikasi |: |26/07/2023...') |
|||
| Baris 8: | Baris 8: | ||
|: | |: | ||
|26/07/2023 | |26/07/2023 | ||
|- | |||
|Penulis | |||
|: | |||
|Erfin Walida | |||
|- | |- | ||
|Artikel Lengkap | |Artikel Lengkap | ||
|: | |: | ||
|[https://mubadalah.id/pendidikan-dan-diskriminasi-perempuan-disabilitas/ Pendidikan dan Diskriminasi Perempuan Disabilitas] | |[https://mubadalah.id/pendidikan-dan-diskriminasi-perempuan-disabilitas/ Pendidikan dan Diskriminasi Perempuan Disabilitas] | ||
|}[[Mubadalah]].id – Perempuan disabilitas kerap mendapat perlakuan diskriminatif. Termasuk di [[lembaga]] pendidikan seperti sekolah atau lembaga pemerintahan. Dari pandangan tak biasa oleh orang sekitarnya, sampai program pendidikan yang tidak ramah pada penyandang disabilitas, terutama perempuan. Seperti yang temanku alami, Hani namanya. | |}[[Mubadalah]].id – Perempuan disabilitas kerap mendapat perlakuan diskriminatif. Termasuk di [[lembaga]] pendidikan seperti sekolah atau lembaga pemerintahan. Dari pandangan tak biasa oleh orang sekitarnya, sampai program pendidikan yang tidak ramah pada penyandang disabilitas, terutama perempuan. Seperti yang temanku alami, Hani namanya. | ||
Revisi per 6 Februari 2025 23.17
Info Artikel:
| Sumber Original | : | Mubadalah.id |
| Tanggal Publikasi | : | 26/07/2023 |
| Penulis | : | Erfin Walida |
| Artikel Lengkap | : | Pendidikan dan Diskriminasi Perempuan Disabilitas |
Mubadalah.id – Perempuan disabilitas kerap mendapat perlakuan diskriminatif. Termasuk di lembaga pendidikan seperti sekolah atau lembaga pemerintahan. Dari pandangan tak biasa oleh orang sekitarnya, sampai program pendidikan yang tidak ramah pada penyandang disabilitas, terutama perempuan. Seperti yang temanku alami, Hani namanya.
Di hari pernikahanku, para sahabat hadir dan turut berbahagia. Termasuk sahabat suamiku. Mereka bersuka cita di hari pentahbisan kami. Dari sana aku mengenal Lathi, Hani, dan Ada. Mereka sangat menyenangkan. Sepulang tamu undangan, kami melanjutkan obrolan. Tentang apapun. Keesokan harinya mereka pulang setelah menginap di rumah kami.
Wajah Hani mulai membayangi. Sebagai orang yang baru kenal, aku sangat tertarik pada cerita-ceritanya. Senyuman menghiasi wajahnya setiap waktu. Tapi, aku melihat ada sesuatu yang ia tutupi di balik wajah cerianya.
Sejak saat itu aku kerap kepo dengan status medsosnya. Sesekali kutinggalkan jempol atau komentar. Komunikasi di medsos membuat kami lebih dekat. Ia kerap mengirim teks atau menelponku. Bahkan saat menyempatkan diri datang ke rumah, ia membagikan kisahnya denganku. Ia merasa orang-orang di sekitar dia memandangnya dengan sebelah mata.
Hani memiliki keterbatasan fisik. Ia tak mampu berjalan tegak lantaran salah satu kakinya disable sejak lahir. Menurutnya, ini salah satu penyebab menurut Hani orang lain menyepelekannya. Bahkan Hani kerap menerima perlakuan diskriminatif oleh individu atau kelompok. . . . . .