Shaleh dan Shalihah

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Saleh dalam bahasa Indonesia memiliki dua arti. Pertama, taat dan bersungguh-sungguh menjalankan ibadah. Kedua, suci dan beriman.[1] Saleh berasal dari bahasa Arab صَالِحٌ (shalihun), artinya laki-laki yang menegakkan hak dan kewajibannya. Sementara kata salihah berasal dari kata صَالِحَةٌ (shalihatun) dengan definisi arti serupa yang digunakan bagi perempuan.[2] Sederhananya, saleh berarti baik. Beramal saleh artinya beramal baik dan orang yang beramal saleh adalah orang yang baik. Dan untuk sampai pada derajat orang saleh/salihah, beramal saleh saja tidaklah cukup akan tetapi juga dibutuhkan landasan iman kepada Allah swt.

Beramal saleh dapat dimulai dengan menjaga hal-hal yang sudah baik tetap dalam kebaikannya. Ini berarti ia tidak melakukan tindakan perusakan (ترك المفاسد) sebagai tahap awal dari amal saleh. Barulah kemudian beranjak pada perbuatan yang berkaitan dengan tugasnya sebagai khalifah fil ‘ardh, apapun yang dilakukan dalam rangka menciptakan kemaslahatan di bumi yang berakibat baik pada manusia baik dari segi akhlak, sopan santun, relasi keluarga dan sosial maka itu termasuk amal saleh.[3]

Dalam realitas sosial dapat ditemukan bahwa suatu amal saleh yang dinilai baik oleh seseorang belum tentu baik bagi orang lain, itu terjadi karena perspektif masing-masing yang berbeda dalam memasang standar kebaikan bergantung pada landasan yang digunakan. Alquran sebagai kitab suci umat muslim mengoreksi berbagai pandangan yang tak terarah ini. Saat menyebut tentang kebaikan, Alquran menggunakan berbagai macam istilah seperti al-hasanah, al-khair, al-ma’ruf, al-maslhlahah, dan al-birr. Variasi term ini memiliki inti kebaikan yang sama dengan warna kebaikan yang berbeda-beda lintas dimensi dan integrasi. Dengan penggunaan beragam istilah, Alquran secara tegas mengoreksi sekaligus mengarahkan pandangan kebaikan dari landasan yang tak pasti kepada integrasi dimensi akal dan transenden menuju pertanggung-jawaban pada diri sendiri, sesama, dan Tuhannya.[4] Ini sejalan dengan konsep maslahat sebagai maqashidus syariah, karena apapun yang diklaim sebagai kebaikan oleh sebuah pihak tidak boleh merugikan pihak lainnya dan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.

Siapapun bisa beramal saleh dan mendapatkan imbalan dari amal salehnya itu, meskipun ia tidak beriman kepada Allah. Seperti para ilmuwan non-muslim yang mengabdikan diri pada kemanusiaan, menciptakan teknologi yang bermanfaat, dan merumuskan berbagai teori-teori bagi keberlangsungan kehidupan. Mereka mendapatkan imbalan atas amal baiknya itu, tapi bukan imbalan dari sisi Allah. Mereka termasuk orang-orang baik, tapi bukan orang-orang saleh.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُدْخِلَنَّهُمْ فِي الصَّالِحِينَ

“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh pasti akan Kami masukkan mereka dalam (golongan) orang-orang saleh.” (QS. Al-Ankabut: 9)

Syarat utama menjadi bagian dari kelompok orang-orang saleh hanyalah keimanan. Maka, manusia manapun di muka bumi asalkan dia beramal saleh dan beriman niscaya ia akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang salih, baik laki-laki maupun perempuan.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Jadi jelas sudah, tingkat kesalehan bukan terletak pada jenis kelamin seorang hamba. Untuk menjadi seorang saleh dan salihah cukup dengan beriman kepada Allah serta menunaikan hak dan kewajibannya sebagai individu dan makhluk sosial.

Penulis: Nurun Sariyah


  1. KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
  2. Larrouse, Munjid fi Al-Lughoh wa Al-A’lam, Daar El-Machreq, Beirut, 2005, hal. 432
  3. Asy-Sya’rawiy, Muhammad Mutawali Asy-Sya’rawiy, Tafsir Asy-Sya’rawiy, Akhbaar Al-Yaom, juz 5, hal. 2.664
  4. Enoh, Konsep Baik (Kebaikan) dan Buruk (Keburukan) dalam Al-Quran, Mimbar Vol XXIII No. 01 Januari – Maret 2007.