Zawaj: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
376 bita dihapus ,  13 Januari 2024 23.39
tidak ada ringkasan suntingan
Baris 20: Baris 20:
Ayat pertama ''zawj'' bermakna istri sementara ayat kedua bermakna suami, Alquran menyetarakan keduanya. Namun agar bisa membedakan penyebutannya dalam penggunaan sehari-hari maka dibedakanlah antara suami dan istri, ''zawj'' dan ''zawjah''.  
Ayat pertama ''zawj'' bermakna istri sementara ayat kedua bermakna suami, Alquran menyetarakan keduanya. Namun agar bisa membedakan penyebutannya dalam penggunaan sehari-hari maka dibedakanlah antara suami dan istri, ''zawj'' dan ''zawjah''.  


Dari semangat Alquran ini seharusnya mampu menyadarkan kita semua tentang kesalingan dalam kerja peran kekeluargaan, pemenuhan hak biologis (QS. Al-Baqarah: 187), melakukan pekerjaan rumah (Sayyidah Aisyah saat ditanya pekerjaan apa yang dilakukan Nabi di rumahnya, Aisyah menjawab   <ref>Ibn Battal, ''Syarah Sahih al-Bukhari li ibn Baṯṯāl'', (Riyād, Maktabah ar-Rusyd: 2003), 7/542</ref><big>كَانَ يَكُونُ فِى مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا سَمِعَ الأذَانَ خَرَجَ</big> Nabi melakukan pekerjaan rumah dan jika terdengar adzan baliau berangkan), tanggung jawab mengurus anak (QS. Al-Baqarah:233), berkarir dan mencari [[nafkah]] (Zainab Ats-Tsaqafiyah sahabat perempuan pernah bertanya kepada Nabi tentang perhiasan dan hartanya yang ia gunakan untuk menafkahi suami dan anak yatim, Nabi menjawab نهم <big>لها أجران, أجر القرابة وأجر</big> الصدقة[4] “''Ya, dia mendapatkan dua pahala; pahala kerabat dan pahala sedekah''”) dan sebagainya.


Dalam beberapa ayat juga ditegaskan prinsip berpasangan, seperti Al-Baqarah 187. Artinya pekerjaan dilakukan sesuai “siapa yang bisa” bukan jenis kelaminnya apa. Menyapu, memasak dan menemani anak belajar bukan khusus untuk istri melainkan siapa yang bisa (waktu dan kapabilitas) melakukannya, mencari nafkah juga dilakukan oleh siapa yang mampu bukan selalu tugas suami. sembari yang lainnya membangun support system untuk yang sedang melakukan kewajibannya.
Dari semangat Alquran ini seharusnya mampu menyadarkan kita semua tentang kesalingan dalam kerja peran kekeluargaan, pemenuhan hak biologis (QS. Al-Baqarah: 187), melakukan pekerjaan rumah (Sayyidah Aisyah saat ditanya pekerjaan apa yang dilakukan Nabi di rumahnya, Aisyah menjawab   <ref>Ibn Battal, ''Syarah Sahih al-Bukhari li ibn Baṯṯāl'', (Riyād, Maktabah ar-Rusyd: 2003), 7/542</ref>كَانَ يَكُونُ فِى مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا سَمِعَ الأذَانَ خَرَجَ Nabi melakukan pekerjaan rumah dan jika terdengar adzan baliau berangkan), tanggung jawab mengurus anak (QS. Al-Baqarah:233),
----
 
 
 
Dalam beberapa ayat juga ditegaskan prinsip berpasangan, seperti Al-Baqarah 187. Artinya pekerjaan dilakukan sesuai “siapa yang bisa” bukan jenis kelaminnya apa. Menyapu, memasak dan menemani anak belajar bukan khusus untuk istri melainkan siapa yang bisa (waktu dan kapabilitas) melakukannya, mencari [[nafkah]] juga dilakukan oleh siapa yang mampu bukan selalu tugas suami. sembari yang lainnya membangun support system untuk yang sedang melakukan kewajibannya.


Dengan kesadaran ini tugas dan peran dalam pernikahan akan imbang, tidak terikat dengan tuntutan kebiasaan masyarakat kepada jenis kelamin tertentu dan pada gilirannya pernikahan akan terasa tentram/Sakinah. Sejatinya inilah tujuan utama pernikahan yakni ketentraman bagi seluruh anggota keluarga (seperti yang telah penulis jabarkan dalam tulisan sebelumnya).
Dengan kesadaran ini tugas dan peran dalam pernikahan akan imbang, tidak terikat dengan tuntutan kebiasaan masyarakat kepada jenis kelamin tertentu dan pada gilirannya pernikahan akan terasa tentram/Sakinah. Sejatinya inilah tujuan utama pernikahan yakni ketentraman bagi seluruh anggota keluarga (seperti yang telah penulis jabarkan dalam tulisan sebelumnya).

Menu navigasi