Nur Rofiah: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
383 bita ditambahkan ,  1 November 2023 03.24
tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 2: Baris 2:
*Pengasuh Ngaji KGI}}'''Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm''' adalah salah seorang pemikir feminis Muslim di Indonesia. Ia dilahirkan di Randudongkal, Pemalang, Jawa Tengah pada tanggal 6 September tahun 1971. Menempuh pendidikan dasar di SDN Randudongkal sementara pendidikan menengah dan atas ia lanjutkan di MTS dan Madrasah Aliyah di Jombang, tepatnya yayasan Khoiriyah Hasyim.  
*Pengasuh Ngaji KGI}}'''Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm''' adalah salah seorang pemikir feminis Muslim di Indonesia. Ia dilahirkan di Randudongkal, Pemalang, Jawa Tengah pada tanggal 6 September tahun 1971. Menempuh pendidikan dasar di SDN Randudongkal sementara pendidikan menengah dan atas ia lanjutkan di MTS dan Madrasah Aliyah di Jombang, tepatnya yayasan Khoiriyah Hasyim.  


Perempuan yang juga dosen di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran Jakarta ini termasuk tim utama dalam penyelenggaraan Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]). Ia terlibat secara intensif dari persiapan, proses, dan paska KUPI hingga sekarang. Ia bahkan sudah terlibat sejak awal dalam program Pengkaderan Ulama Perempuan yang dilaksanakan oleh [[Rahima]]. Dalam pelaksanaan KUPI, ia diamanati sebagai ketua Panitia satu.
Perempuan yang juga dosen di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran Jakarta ini termasuk tim utama dalam penyelenggaraan Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]). Ia terlibat secara intensif dari persiapan, proses, dan paska KUPI hingga sekarang. Ia bahkan sudah terlibat sejak awal dalam program [[Pengkaderan Ulama Perempuan]] yang dilaksanakan oleh [[Rahima]]. Dalam pelaksanaan KUPI, ia diamanati sebagai ketua Panitia satu.


== Riwayat Hidup ==
== Riwayat Hidup ==
Pendidikan tingginya ditempuh di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurusan Tafsir Hadis di bawah naungan Fakultas Ushuluddin antara tahun 1990-1995. Fakultas Ushuluddin dulu memang menjadi salah satu fakultas favorit mahasiswa sebab di sana mahasiswa mendiskusikan secara kritis wacana-wacana keislaman, termasu tentang Al-Qur’an.  
Pendidikan tingginya ditempuh di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurusan Tafsir Hadis di bawah naungan Fakultas Ushuluddin antara tahun 1990-1995. Fakultas Ushuluddin dulu memang menjadi salah satu fakultas favorit mahasiswa sebab di sana mahasiswa mendiskusikan secara kritis wacana-wacana keislaman, termasu tentang [[Al-Qur’an]].  


Kemudian ia menempuh pendidikan pascasarjananya di Turki, tepatnya di Ankara University. Sosok yang memberi jalan Nur untuk hijrah ke Turki adalah Nyai Hj. Ida Rufaida Ali Ma’shum, Krapyak yang menawarinya beasiswa ke Turki. Tanpa pikir panjang Nur mengiyakan. Ia tak pulang kampung selama lima tahun di Turki, selama waktu yang ia habiskan untuk menyelesaikan pendidikan pascasarjana (1997-1999) dan program doktoral (1999-2001).  
Kemudian ia menempuh pendidikan pascasarjananya di Turki, tepatnya di Ankara University. Sosok yang memberi jalan Nur untuk hijrah ke Turki adalah Nyai Hj. Ida Rufaida Ali Ma’shum, Krapyak yang menawarinya beasiswa ke Turki. Tanpa pikir panjang Nur mengiyakan. Ia tak pulang kampung selama lima tahun di Turki, selama waktu yang ia habiskan untuk menyelesaikan pendidikan pascasarjana (1997-1999) dan program doktoral (1999-2001).  
Baris 18: Baris 18:
Nur Rofiah tertarik dengan isu-isu gender sejak menjadi mahasiswi di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia terus mendalami kajian itu ketika menjadi mahasiswi pascasarjana dan doktoral di Turki. Terkait apa yang mempengaruhi untuk kali pertama, sehingga ia menyelami kajian gender? Jawabannya adalah sumber bacaan. Ia mengaku gelisah ketika membaca beberapa literatur yang berkaitan dengan perempuan.  
Nur Rofiah tertarik dengan isu-isu gender sejak menjadi mahasiswi di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia terus mendalami kajian itu ketika menjadi mahasiswi pascasarjana dan doktoral di Turki. Terkait apa yang mempengaruhi untuk kali pertama, sehingga ia menyelami kajian gender? Jawabannya adalah sumber bacaan. Ia mengaku gelisah ketika membaca beberapa literatur yang berkaitan dengan perempuan.  


Untungnya, kegelisahan yang dialami oleh Nur Rofiah mendapatkan ruang karena ia adalah mahasiswi jurusan Tafsir Hadits. Di program ini, ia mencurahkan segala kegelisahannya untuk didiskusikan bahkan sesekali diuji dengan sesama mahasiswa atau dosen. Dari banyaknya diskusi dan perenungan panjang, kegelisahan Nur Rofiah memuncak bahkan ia sempat kecewa. Kekecewaannya adalah hasil tafsir atas teks.
Untungnya, kegelisahan yang dialami oleh Nur Rofiah mendapatkan ruang karena ia adalah mahasiswi jurusan Tafsir [[Hadits]]. Di program ini, ia mencurahkan segala kegelisahannya untuk didiskusikan bahkan sesekali diuji dengan sesama mahasiswa atau dosen. Dari banyaknya diskusi dan perenungan panjang, kegelisahan Nur Rofiah memuncak bahkan ia sempat kecewa. Kekecewaannya adalah hasil tafsir atas teks.


“Kekecewaanku adalah pada beberapa hasil tafsir yang cenderung tidak menguntungkan perempuan. Kenapa saya bilang hasil tafsir, sebab jika kita baca dengan tafsir lain, misal dengan Double Movement-nya Fazlur Rahman, maka tafsir itu tidak demikian,” jelas Nur Rofiah.  
“Kekecewaanku adalah pada beberapa hasil tafsir yang cenderung tidak menguntungkan perempuan. Kenapa saya bilang hasil tafsir, sebab jika kita baca dengan tafsir lain, misal dengan Double Movement-nya Fazlur Rahman, maka tafsir itu tidak demikian,” jelas Nur Rofiah.  
Baris 34: Baris 34:
Pada tahun 2004, ia diterima sebagai dosen PNS, karena kewajiban yang makin menempuk akhirnya ia mengundurkan diri dari P3M dan aktif di Rahima, sebuah lembaga yang menjadi pusat pendidikan dan informasi Islam dan hak-hak perempuan. Bersama Rahima Nur Rofiah seperti mendapatkan tempat yang nyaman untuk semakin lantang menyuarakan ide-idenya.  
Pada tahun 2004, ia diterima sebagai dosen PNS, karena kewajiban yang makin menempuk akhirnya ia mengundurkan diri dari P3M dan aktif di Rahima, sebuah lembaga yang menjadi pusat pendidikan dan informasi Islam dan hak-hak perempuan. Bersama Rahima Nur Rofiah seperti mendapatkan tempat yang nyaman untuk semakin lantang menyuarakan ide-idenya.  


Organisasi selanjutnya yang menjadi tempat berlabuh Nur adalah Alimat. Berbeda dengan Rahima yang lebih concern terhadap perempuan, Alimat fokus pada isu-isu perempuan, anak, dan keluarga. Di lembaga ini, misalnya ia bergelut dengan isu KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga), aborsi, dan poligami.  
Organisasi selanjutnya yang menjadi tempat berlabuh Nur adalah Alimat. Berbeda dengan Rahima yang lebih concern terhadap perempuan, Alimat fokus pada isu-isu perempuan, anak, dan keluarga. Di lembaga ini, misalnya ia bergelut dengan isu KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga), aborsi, dan [[poligami]].  


Ketika KUPI resmi dideklarasikan, Nur mengaku sangat bahagia. Ia terlibat bahkan sebelum Konggres berlangsung. KUPI sebagaiamana disebut Nur, tunasnya adalah Pendidikan Ulama Perempuan yang diasuh oleh Rahima. Alumni dan lulusan program pendidikan ulama ini banyak dan tersebar di mana-mana. Dalam sebuah kesempatan, Rahima berencana mengadakan pertemuan alumni.  
Ketika KUPI resmi dideklarasikan, Nur mengaku sangat bahagia. Ia terlibat bahkan sebelum Konggres berlangsung. KUPI sebagaiamana disebut Nur, tunasnya adalah Pendidikan Ulama Perempuan yang diasuh oleh Rahima. Alumni dan lulusan program pendidikan ulama ini banyak dan tersebar di mana-mana. Dalam sebuah kesempatan, Rahima berencana mengadakan pertemuan alumni.  
Baris 40: Baris 40:
Ide itu kemudian disambut beberapa organisasi lain, seperti Alimat dan [[Fahmina]] yang juga punya alumni dari program pelatihan. Jika memang hendak mengadakan pertemuan, kenapa tidak dilaksanakan secara akbar saja yang diselenggarakan bersama-sama. Akhirnya kemudian KUPI untuk pertama kali berhasil diselenggarakan dengan sukses.
Ide itu kemudian disambut beberapa organisasi lain, seperti Alimat dan [[Fahmina]] yang juga punya alumni dari program pelatihan. Jika memang hendak mengadakan pertemuan, kenapa tidak dilaksanakan secara akbar saja yang diselenggarakan bersama-sama. Akhirnya kemudian KUPI untuk pertama kali berhasil diselenggarakan dengan sukses.


Salah satu agenda yang dilakukan di dalam KUPI adalah musyawarah keagamaan untuk menghasilkan sikap dan pandangan keagamaan atau fatwa. Dalam mempersiapkan agenda tersebut, Nur Rofiah memiliki peran yang signifikan. Ia menuturkan, “Aku dan Faqih (Kiai Faqih Abdul Kodir, maksudnya, red) ditugasi untuk mematangkan metode. Faqih dengan metode [[Mubadalah]]-nya sementara aku dengan [[Keadilan Hakiki]] Perempuan. Kongres ini yang berhasil mematangkan metode yang aku gagas itu.”  
Salah satu agenda yang dilakukan di dalam KUPI adalah musyawarah keagamaan untuk menghasilkan sikap dan pandangan keagamaan atau [[fatwa]]. Dalam mempersiapkan agenda tersebut, Nur Rofiah memiliki peran yang signifikan. Ia menuturkan, “Aku dan Faqih (Kiai Faqih Abdul Kodir, maksudnya, red) ditugasi untuk mematangkan metode. Faqih dengan metode [[Mubadalah]]-nya sementara aku dengan [[Keadilan Hakiki]] Perempuan. Kongres ini yang berhasil mematangkan metode yang aku gagas itu.”  


Selesai acara, kedua gagasan yang sama-sama diusung itu terus dikembangkan sehingga kedua metode dikenal luas sebagai metode khas KUPI. Nur Rofiah menambahkan bahwa salah satu warisan dari KUPI yang berlangsung hingga hari ini adalah program Ngaji Keadilan Gender Islam (KGI) yang ia asuh dan telah diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah.  
Selesai acara, kedua gagasan yang sama-sama diusung itu terus dikembangkan sehingga kedua metode dikenal luas sebagai metode khas KUPI. Nur Rofiah menambahkan bahwa salah satu warisan dari KUPI yang berlangsung hingga hari ini adalah program Ngaji Keadilan Gender Islam (KGI) yang ia asuh dan telah diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah.  


Secara garis besar, Ngaji KGI yang diampu oleh Nur Rofiah terbagi menjadi dua program unggulan. ''Pertama'', kajian yang bersifat serial metodologi Islam, dan ''kedua'', kajian yang bersifat tematik.  
Secara garis besar, [[Ngaji KGI]] yang diampu oleh Nur Rofiah terbagi menjadi dua program unggulan. ''Pertama'', kajian yang bersifat serial metodologi Islam, dan ''kedua'', kajian yang bersifat tematik.  


Terkait keberadaan KUPI di Indonesia, menurut Nur, posisinya sangat strategis. KUPI bahkan bisa disebut sebagai yang pertama dan satu-satunya di dunia. Program-program KUPI banyak mendapat apresiasi dari negara-negara lain dan sorotan dari banyak pihak. Di Indonesia, yang menganut sistem demokrasi, wacana-wacana gender mendapatkan ruang yang cukup. Berbeda misalnya dengan di negara-negara Islam yang banyak menolak wacana-wacana gender karena dianggap bertentangan dengan Islam. Itulah sebabnya, menurut Nur, keberadaan KUPI kemudian “menghebohkan” beberapa negara.  
Terkait keberadaan KUPI di Indonesia, menurut Nur, posisinya sangat strategis. KUPI bahkan bisa disebut sebagai yang pertama dan satu-satunya di dunia. Program-program KUPI banyak mendapat apresiasi dari negara-negara lain dan sorotan dari banyak pihak. Di Indonesia, yang menganut sistem demokrasi, wacana-wacana gender mendapatkan ruang yang cukup. Berbeda misalnya dengan di negara-negara Islam yang banyak menolak wacana-wacana gender karena dianggap bertentangan dengan Islam. Itulah sebabnya, menurut Nur, keberadaan KUPI kemudian “menghebohkan” beberapa negara.  
Baris 78: Baris 78:
# “Hermeneutika Al-Qur’an: Melacak Akar Krusial Penafsiran” (Jurnal al-Burhan).  
# “Hermeneutika Al-Qur’an: Melacak Akar Krusial Penafsiran” (Jurnal al-Burhan).  
# “Gerakan Sekularisasi di Turki” (Jurnal al-Burhan).  
# “Gerakan Sekularisasi di Turki” (Jurnal al-Burhan).  
# “Seksualitas Perempuan dalam Tarikan Tradisi dan Agama” (Jurnal Perempuan)
# “Seksualitas Perempuan dalam Tarikan [[Tradisi]] dan Agama” (Jurnal Perempuan)
# “Gugatan Perempuan atas Makna Perkawinan”.  
# “Gugatan Perempuan atas Makna Perkawinan”.  


Baris 87: Baris 87:
# Modul Pelatihan Wawasan Keluarga Sakinah
# Modul Pelatihan Wawasan Keluarga Sakinah
# Modul Penguatan Hukum Islam Perspektif Keadilan bagi Perempuan Kepala Keluarga.  
# Modul Penguatan Hukum Islam Perspektif Keadilan bagi Perempuan Kepala Keluarga.  
== Jejak Tokoh ==
# Mengenal Nyai Nur Rofi’ah, Tokoh Muda NU Penggerak Pemberdayaan Perempuan: https://bangkitmedia.com/mengenal-nyai-nur-rofiah-tokoh-muda-nu-penggerak-pemberdayaan-perempuan/
# Nur Rofiah Dorong Kajian Gender dalam Islam yang Lebih Inklusif: https://magdalene.co/story/nur-rofiah-dorong-kajian-gender-dan-islam-yang-lebih-inklusif/




Menu navigasi