15.259
suntingan
| Baris 3: | Baris 3: | ||
Nyai Afwah terlibat secara aktif dalam perayaan [[KUPI]] pertama tahun 2017, mulai perencanaan, pelaksanaan dan paska KUPI. Saat perencanaan, ia terlibat mulai dari pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh Rahima maupun [[Fahmina]] di Cirebon. Ketika pertama kali KUPI digulirkan dalam pertemuan Rahima di Wisma Hijau sekitar tahun 2002/2003, ia mengusulkan ada wadah ulama perempuan yang diakui oleh bangsa yang konsen pada isu perempuan dan Islam. Ide tersebut direspon oleh KH. [[Helmi Ali]] Yafie, bersama Nyai [[Farha Ciciek]] dan Nyai Eridani. Nyai Afwah menegaskan kelahiran KUPI yang digagas Rahima berangkat dari temuan-temuan lapangan ulama perempuan terkait peminggiran peran perempuan oleh [[tokoh]]-tokoh agama. Ia merasa bangga dan terharu lima belas tahun kemudian gagasan itu terlaksana. | Nyai Afwah terlibat secara aktif dalam perayaan [[KUPI]] pertama tahun 2017, mulai perencanaan, pelaksanaan dan paska KUPI. Saat perencanaan, ia terlibat mulai dari pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh Rahima maupun [[Fahmina]] di Cirebon. Ketika pertama kali KUPI digulirkan dalam pertemuan Rahima di Wisma Hijau sekitar tahun 2002/2003, ia mengusulkan ada wadah ulama perempuan yang diakui oleh bangsa yang konsen pada isu perempuan dan Islam. Ide tersebut direspon oleh KH. [[Helmi Ali]] Yafie, bersama Nyai [[Farha Ciciek]] dan Nyai Eridani. Nyai Afwah menegaskan kelahiran KUPI yang digagas Rahima berangkat dari temuan-temuan lapangan ulama perempuan terkait peminggiran peran perempuan oleh [[tokoh]]-tokoh agama. Ia merasa bangga dan terharu lima belas tahun kemudian gagasan itu terlaksana. | ||
Menjelang pelaksanaan KUPI, Nyai Afwah turut serta dalam beberapa kali rapat persiapan baik yang diselenggarakan oleh Rahima maupun Fahmina, antara lain di Pondok Pesantren Mahasina, kediaman Nyai Badriyah Fayumi dan di Pesantren Kebon Jambu Cirebon. Pertemuan-pertemuan itu membahas mengenai aspek substansi maupun teknis penyelenggaran. Bahkan untuk poin tertentu sempat terjadi perdebatan, antara lain dalam catatan Nyai Afwah, saat menentukan pilihan diksi tematik yang tidak mengundang kontroversi. Seperti tema kemaslahatan umat, serta sebutan fatwa bagi produk keputusan KUPI. Perdebatannya bahwa fatwa identik dengan MUI, sedangkan peserta KUPI dating dari berbagai latar belakang. Nyai Afwah terlibat dalam perdebatan serius untuk merumuskan tema-tema tersebut. Ia juga turut berjibaku dengan penanggung jawab teknis di Cirebon. | Menjelang pelaksanaan KUPI, Nyai Afwah turut serta dalam beberapa kali rapat persiapan baik yang diselenggarakan oleh Rahima maupun Fahmina, antara lain di Pondok Pesantren Mahasina, kediaman Nyai [[Badriyah Fayumi]] dan di Pesantren Kebon Jambu Cirebon. Pertemuan-pertemuan itu membahas mengenai aspek substansi maupun teknis penyelenggaran. Bahkan untuk poin tertentu sempat terjadi perdebatan, antara lain dalam catatan Nyai Afwah, saat menentukan pilihan diksi tematik yang tidak mengundang kontroversi. Seperti tema kemaslahatan umat, serta sebutan fatwa bagi produk keputusan KUPI. Perdebatannya bahwa fatwa identik dengan MUI, sedangkan peserta KUPI dating dari berbagai latar belakang. Nyai Afwah terlibat dalam perdebatan serius untuk merumuskan tema-tema tersebut. Ia juga turut berjibaku dengan penanggung jawab teknis di Cirebon. | ||
== Riwayat Hidup == | == Riwayat Hidup == | ||
Nyai Afwah merupakan anak ke-3 dari 9 bersaudara dari pasangan Ny. Hj. Izzah Syathori dan KH. Fuad Amin. Sang ayah, KH. Fuad Amin merupakan anak dari Kyai Amin, seorang kiai kharismatik yang menjadi bagian penting dalam peristiwa heroik 10 November 1945 di Surabaya dalam melawan para penjajah. Ibunda Nyai Afwah yaitu Nyai Izzah binti Syatori merupakan puteri dari Mbah Syatori pendiri Pondok Pesantren Arjawinangun. Nyai Afwah menikah dengan KH. Muhammad Nawawi Umar, pengasuh Pesantren Kempek dan mempunyai tiga orang anak yaitu Aufa Najda Zainab, Sholah Mafaza Muhammad, dan Ayundia Kamala. | Nyai Afwah merupakan anak ke-3 dari 9 bersaudara dari pasangan Ny. Hj. Izzah Syathori dan KH. Fuad Amin. Sang ayah, KH. Fuad Amin merupakan anak dari Kyai Amin, seorang kiai kharismatik yang menjadi bagian penting dalam peristiwa heroik 10 November 1945 di Surabaya dalam melawan para penjajah. Ibunda Nyai Afwah yaitu Nyai Izzah binti Syatori merupakan puteri dari Mbah Syatori pendiri Pondok Pesantren Arjawinangun. Nyai Afwah menikah dengan KH. Muhammad Nawawi Umar, pengasuh Pesantren Kempek dan mempunyai tiga orang anak yaitu Aufa Najda Zainab, Sholah Mafaza Muhammad, dan Ayundia Kamala. | ||
| Baris 13: | Baris 11: | ||
Kemudian Afwah pindah ke Krapyak, Yogyakarta, dengan tetap memegang janji akan menghafal Al-Qur’an. Dia pun akhirnya masuk ke Pesantren Krapyak asuhan KH Ali Ma'shum dan juga masuk Madrasah Aliyah (MA) YASMA (Yayasan Ali Ma'shum). Saat hendak masuk ke MA Krapyak, kelas sudah masuk 4 bulan. Waktu itu kepala madrasah, Kiai Hasbullah tidak menghendaki Nyai Afwah masuk kelas 1 MA, namun Nyai Afwah memaksa dan akhirnya diizinkan dengan syarat mampu mengikuti pelajaran. Kalau tidak mampu maka akan masuk kelas persiapan (''i’dad''). Setelah masuk kelas 1 MA, pada akhir tahun ajaran, Nyai Afwah mendapatkan peringkat pertama. | Kemudian Afwah pindah ke Krapyak, Yogyakarta, dengan tetap memegang janji akan menghafal Al-Qur’an. Dia pun akhirnya masuk ke Pesantren Krapyak asuhan KH Ali Ma'shum dan juga masuk Madrasah Aliyah (MA) YASMA (Yayasan Ali Ma'shum). Saat hendak masuk ke MA Krapyak, kelas sudah masuk 4 bulan. Waktu itu kepala madrasah, Kiai Hasbullah tidak menghendaki Nyai Afwah masuk kelas 1 MA, namun Nyai Afwah memaksa dan akhirnya diizinkan dengan syarat mampu mengikuti pelajaran. Kalau tidak mampu maka akan masuk kelas persiapan (''i’dad''). Setelah masuk kelas 1 MA, pada akhir tahun ajaran, Nyai Afwah mendapatkan peringkat pertama. | ||
Selama di MA Krapyak, Nyai Afwah aktif di berbagai organisasi seperti [[Komunitas]] Santri Cirebon (KSC), majalah dinding (mading), dan diskusi. Dia lalu pindah ke Pesantren Bustanul Usyaqil Qur'an, Demak, untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur’an yang ia khatamkan selama satu tahun. Pendidikan Perguruan Tinggi ia tempuh di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir Hadits. Saat kuliah semester lima, Nyai Afwah dinikahkan dengan Kyai Muhammad Nawawi Umar, pengasuh Pesantren Kempek pada 18 Januari 1994 di usia 22 tahun. Suaminya itulah yang selalu mendukung setiap langkah yang diambil Nyai Afwah. Suaminya membolehkannya kembali ke Yogyakarta persis beberapa jam setelah akad nikah selesai. | Selama di MA Krapyak, Nyai Afwah aktif di berbagai organisasi seperti [[Komunitas]] Santri Cirebon (KSC), majalah dinding (mading), dan diskusi. Dia lalu pindah ke Pesantren Bustanul Usyaqil Qur'an, Demak, untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur’an yang ia khatamkan selama satu tahun. Pendidikan Perguruan Tinggi ia tempuh di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir Hadits. Saat kuliah semester lima, Nyai Afwah dinikahkan dengan Kyai Muhammad Nawawi Umar, pengasuh Pesantren Kempek pada 18 Januari 1994 di usia 22 tahun. Suaminya itulah yang selalu mendukung setiap langkah yang diambil Nyai Afwah. Suaminya membolehkannya kembali ke Yogyakarta persis beberapa jam setelah [[Akad Nikah|akad nikah]] selesai. | ||
Tidak lama kemudian Nyai Afwah pindah kuliah ke jurusan Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Jati di Cirebon. Meski saat berangkat kuliah ke IAIN Cirebon, Nyai Afwah banyak menerima sindiran dari saudara-saudara suaminya di Kempek. Sindiran itu tidak jauh dari anggapan bahwa perempuan tak pantas jika sekolah hingga ke perguruan tinggi. Sindiran itu tak mengurungkan tekad Nyai Afwah untuk tetap sekolah. Nyai Afwah mampu menyelesaikan studi S1-nya di tengah terpaan pergunjingan dan sindiran dari orang-orang di sekelilingnya. Keluarganya menjadi tembok yang begitu kukuh yang menguatkannya. | Tidak lama kemudian Nyai Afwah pindah kuliah ke jurusan Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Jati di Cirebon. Meski saat berangkat kuliah ke IAIN Cirebon, Nyai Afwah banyak menerima sindiran dari saudara-saudara suaminya di Kempek. Sindiran itu tidak jauh dari anggapan bahwa perempuan tak pantas jika sekolah hingga ke perguruan tinggi. Sindiran itu tak mengurungkan tekad Nyai Afwah untuk tetap sekolah. Nyai Afwah mampu menyelesaikan studi S1-nya di tengah terpaan pergunjingan dan sindiran dari orang-orang di sekelilingnya. Keluarganya menjadi tembok yang begitu kukuh yang menguatkannya. | ||
| Baris 22: | Baris 20: | ||
Ia menjabat sebagai Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon sejak 2016-2021. ISIF merupakan sebuah [[lembaga]] pendidikan tinggi yang menekankan pada riset dan transformasi sosial berbasis pada kebudayaan lokal dan [[khazanah]] pengetahuan Islam. Sebelum menjabat rektor, Nyai Afwah menjadi dosen Ilmu Al-Qur’an, Psikologi dan Pengembangan Al-Qur’an sekaligus Kaprodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Dekan Fakultas Tarbiyah ISIF. Menjadi seorang rektor merupakan tantangan yang sangat berat baginya. Berada di kampus yang belum lama berdiri membuatnya harus menerima segala kondisi yang serba terbatas dan berupaya untuk meningkatkan kualitas lembaga. | Ia menjabat sebagai Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon sejak 2016-2021. ISIF merupakan sebuah [[lembaga]] pendidikan tinggi yang menekankan pada riset dan transformasi sosial berbasis pada kebudayaan lokal dan [[khazanah]] pengetahuan Islam. Sebelum menjabat rektor, Nyai Afwah menjadi dosen Ilmu Al-Qur’an, Psikologi dan Pengembangan Al-Qur’an sekaligus Kaprodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Dekan Fakultas Tarbiyah ISIF. Menjadi seorang rektor merupakan tantangan yang sangat berat baginya. Berada di kampus yang belum lama berdiri membuatnya harus menerima segala kondisi yang serba terbatas dan berupaya untuk meningkatkan kualitas lembaga. | ||
== Tokoh dan Keulamaan Perempuan == | == Tokoh dan Keulamaan Perempuan == | ||
Pergulatannya dengan masyarakat mengasah kepekaan Nyai Afwah dalam memahami realitas di masyarakat yang sangat kompleks. Timbulnya kesadaran dengan realitas kehidupan masyarakat baru dirasakan Nyai Afwah setelah belajar dalam program Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) yang diselenggarakan Rahima. Sebab dari pelatihan selama 12 bulan itu, ia mendapatkan banyak sekali pengetahuan tentang kehidupan sosial. Terutama dari para pemateri, seperti KH Masdar F. Mas’udi, KH Abdul Moqsith Ghazali, dan KH [[Husein Muhammad]]. Sebelumnya, saat menghadapi berbagai macam pertanyaan dari masyarakat, Nyai Afwah tak mampu menjawabnya. Utamanya masalah riil yang sedang mereka mereka. Hampir setiap hari, orang tua wali santri datang ke rumahnya dan menanyakan ihwal masalah yang mereka hadapi. Pernah suatu waktu ada orang tua santri mendatanginya dengan maksud untuk membawa pulang anaknya dari pesantren. Alasannya karena si santri puteri itu hendak dikawinkan. Nyai Afwah pun tidak bisa menjawab apa-apa, meski di dalam hatinya yang paling dalam, dia tidak setuju. Tapi, dia tak punya argumen yang bisa meyakinkan orang tua santri itu. | Pergulatannya dengan masyarakat mengasah kepekaan Nyai Afwah dalam memahami realitas di masyarakat yang sangat kompleks. Timbulnya kesadaran dengan realitas kehidupan masyarakat baru dirasakan Nyai Afwah setelah belajar dalam program Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) yang diselenggarakan Rahima. Sebab dari pelatihan selama 12 bulan itu, ia mendapatkan banyak sekali pengetahuan tentang kehidupan sosial. Terutama dari para pemateri, seperti KH Masdar F. Mas’udi, KH Abdul Moqsith Ghazali, dan KH [[Husein Muhammad]]. Sebelumnya, saat menghadapi berbagai macam pertanyaan dari masyarakat, Nyai Afwah tak mampu menjawabnya. Utamanya masalah riil yang sedang mereka mereka. Hampir setiap hari, orang tua wali santri datang ke rumahnya dan menanyakan ihwal masalah yang mereka hadapi. Pernah suatu waktu ada orang tua santri mendatanginya dengan maksud untuk membawa pulang anaknya dari pesantren. Alasannya karena si santri puteri itu hendak dikawinkan. Nyai Afwah pun tidak bisa menjawab apa-apa, meski di dalam hatinya yang paling dalam, dia tidak setuju. Tapi, dia tak punya argumen yang bisa meyakinkan orang tua santri itu. | ||
| Baris 38: | Baris 34: | ||
Kehadiran menteri agama dan sejumlah tokoh baik dari dalam maupun luar negeri saat perayaan KUPI, menyedot perhatian ulama laki-laki di Cirebon. Menurutnya, kehadiran ulama laki-laki dalam acara KUPI, pada awalnya hanya untuk melihat atau observasi, tidak dalam rangka mendukung. Namun sisi positifnya, para kiai sadar bahwa KUPI merupakan gerakan serius yang didukung banyak pihak. Dari situ akhirnya Nyai Afwah sering mendapat undangan untuk mengisi pengajian yang jamaahnya adalah para hafidz laki-laki. | Kehadiran menteri agama dan sejumlah tokoh baik dari dalam maupun luar negeri saat perayaan KUPI, menyedot perhatian ulama laki-laki di Cirebon. Menurutnya, kehadiran ulama laki-laki dalam acara KUPI, pada awalnya hanya untuk melihat atau observasi, tidak dalam rangka mendukung. Namun sisi positifnya, para kiai sadar bahwa KUPI merupakan gerakan serius yang didukung banyak pihak. Dari situ akhirnya Nyai Afwah sering mendapat undangan untuk mengisi pengajian yang jamaahnya adalah para hafidz laki-laki. | ||
== Prestasi/Penghargaan == | == Prestasi/Penghargaan == | ||
Nyai Afwah pernah beberapa kali ditawari penghargaan atas posisinya sebagai rektor perempuan, dengan catatan ia harus membayar. Ia menolaknya dengan alasan ada perasaan malu karena penghargaan itu seperti dimita bukan diberikan karena kinerjanya. Nyai Afwah pernah mendapat beberapa penghargaan dalam lomba MHQ 20 juz, mendapat juara dari kabupaten, serta juara kaligrafi dan menulis ilmiah. | Nyai Afwah pernah beberapa kali ditawari penghargaan atas posisinya sebagai rektor perempuan, dengan catatan ia harus membayar. Ia menolaknya dengan alasan ada perasaan malu karena penghargaan itu seperti dimita bukan diberikan karena kinerjanya. Nyai Afwah pernah mendapat beberapa penghargaan dalam lomba MHQ 20 juz, mendapat juara dari kabupaten, serta juara kaligrafi dan menulis ilmiah. | ||
== Karya-Karya == | == Karya-Karya == | ||
Berikut adalah di antara karya tulis Nyi Afwah: | Berikut adalah di antara karya tulis Nyi Afwah: | ||