Ulama Perempuan sebagai Puser Bumi: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
2.963 bita ditambahkan ,  3 September 2025 23.30
tidak ada ringkasan suntingan
(←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel:''' {| |Sumber Original |: |[https://www.nu.or.id/nasional/kupi-deklarasikan-mei-bulan-kebangkitan-ulama-perempuan-indonesia-T9Wlj NU Online] |- |Penul...')
 
Baris 26: Baris 26:
Tak ada kemewahan berlebih di Masjid Puser Bumi. Hanya saja, memang sangat sarat makna. Tempat ini bukan hanya pusat spiritual, melainkan lambang dari sesuatu yang lebih besar, sebagai pusat kehidupan, poros peradaban, titik mula gerakan.
Tak ada kemewahan berlebih di Masjid Puser Bumi. Hanya saja, memang sangat sarat makna. Tempat ini bukan hanya pusat spiritual, melainkan lambang dari sesuatu yang lebih besar, sebagai pusat kehidupan, poros peradaban, titik mula gerakan.


Ulama Kok Perempuan?
'''Ulama Kok Perempuan?'''
 
Dalam banyak budaya, istilah “puser bumi” dilabelkan untuk tempat yang menghubungkan langit dan bumi, roh dan jasad, sejarah dan harapan. Dan pada Ahad, 18 Mei 2025, kemarin, tempat ini menjadi saksi kebangkitan yang telah lama dinanti, yakni Deklarasi Bulan Kebangkitan [[Ulama Perempuan]], oleh [[Jaringan]] [[Kongres Ulama Perempuan Indonesia]] ([[KUPI]]).
Dalam banyak budaya, istilah “puser bumi” dilabelkan untuk tempat yang menghubungkan langit dan bumi, roh dan jasad, sejarah dan harapan. Dan pada Ahad, 18 Mei 2025, kemarin, tempat ini menjadi saksi kebangkitan yang telah lama dinanti, yakni Deklarasi Bulan Kebangkitan [[Ulama Perempuan]], oleh [[Jaringan]] [[Kongres Ulama Perempuan Indonesia]] ([[KUPI]]).


Baris 41: Baris 42:
Sebagaimana Allah Swt berfirman:
Sebagaimana Allah Swt berfirman:


<big>يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ</big>
''“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”'' (QS. Al-Ḥujurāt: 13)
Rasulullah Muhammad Saw pun bersabda:
<big>إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَال</big>
''“Sesungguhnya perempuan adalah saudara kandung laki-laki.”'' (HR. Abu Dawud)
Sejak zaman Nabi, perempuan telah menjadi rujukan ilmu. Sayyidah Aisyah RA meriwayatkan ribuan hadis, Ummu Darda’ mengajar para qadhi, Fatimah al-Bataihiyyah menjadi guru seorang ulama besar, Imam Suyuthi. Ribuan nama lain terhimpun dalam riwayat dan cerita. Maka, mempertanyakan eksistensi ulama perempuan hari ini adalah bentuk pengingkaran terhadap akar keilmuan Islam itu sendiri.
'''Turun dan Menyala'''
Dari puncak Gunung Sembung, para ulama perempuan tidak turun dengan tangan kosong. Mereka membawa pulang api, api ilmu yang membela, yang menolak diam atas ketidakadilan, dan yang menghidupkan kesadaran bahwa Islam tak pernah mengajarkan diskriminasi.
<big>إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ</big>
''“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.”'' (QS An-Nahl: 90)<blockquote>Keadilan harus hadir bukan lagi sebagai wacana, tapi lahir dalam bentuk kebijakan yang melindungi perempuan, dalam tafsir yang berpihak pada korban, dalam ruang keagamaan yang memberi tempat kepada suara perempuan, dan dalam gerakan sosial yang menjadikan nyawa perempuan sebagai pusat nilai, bukan sekadar angka statistik.
Di dalam masjid, di bawah semacam pohon jati tua, dan di antara nisan-nisan sunyi, para perempuan pengemban ilmu berdiri tegak. Mereka tidak meminta ruang, mereka menciptakannya. Dengan kitab di tangan dan cinta di benak, mereka merawat kehidupan agar tak lagi timpang sebelah.</blockquote>Dari Gunung Sembung, mereka menebarkan suara ke ruang tafsir, ke ruang legislatif, ke dapur, ke kelas, ke layar digital, ke ranjang yang sepi, ke ladang yang kering, ke rahim yang dilemahkan. Karena perempuan adalah pusat bumi, dari kehidupan itu sendiri.


Dan ulama perempuan adalah sumbu, yang menyalakan kesadaran bahwa tak ada peradaban yang utuh tanpa keadilan bagi perempuan. Bahwa membela perempuan bukan sekadar kerja aktivisme, tapi kerja keimanan.


Wallahu a’lam bis-shawab. []
[[Kategori:Berita Bulan KUPI]]
[[Kategori:Berita Bulan KUPI]]

Menu navigasi