KUPI: Wadah Konsolidasi Ulama Perempuan: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
tidak ada ringkasan suntingan
Baris 1: Baris 1:
Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) pertama yang dilaksanakan pada 25-27 April 2017 di Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon telah berhasil mengikis praduga banyak pihak, bahwa Kongres ini diselenggarakan sebagai bentuk fasilitasi kaum intelektual perempuan Islam yang kata rumornya karena tidak terakomodasi dalam struktur Majlis Ulama Indonesia (MUI). Sejak awal, satu bulan sebelum berlangsungnya KUPI, panitia sudah mensosialisasikan bahwa perhelatan akbar ini tidak untuk “memilih orang” atau tidak sama dengan lazimnya Kongres organisasi yang sangat politis dengan lahirnya elit politik. Komitmen panitia yang dimotori tiga organisasi yakni [[Alimat|ALIMAT]], FAHMINA dan [[Rahima|RAHIMA]] (ALFARA) terhadap ruang perjumpaan ulama perempuan nampak dalam ''Term Of Reference'' dan jadwal kegiatan yang telah disiarkan kepada publik melalui media sosial, wabsite dan liputan berita.
'''Info Artikel:'''
{|
|Sumber Original
|:
|[https://mubadalah.id/islam-agama-yang-ramah-anak/ Mubadalah.id]
|-
|Tanggal Publikasi
|:
| 23 Januari 2023
|-
|Penulis
|:
| Winarno
|-
|Artikel Lengkap
|:
|[https://mubadalah.id/islam-agama-yang-ramah-anak/ Islam Agama yang Ramah Anak]
|}
 
 
Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) pertama yang dilaksanakan pada 25-27 April 2017 di Pondok Pesantren [[Kebon Jambu Al-Islamy|Kebon Jambu al-Islamy]] Babakan Ciwaringin Cirebon telah berhasil mengikis praduga banyak pihak, bahwa Kongres ini diselenggarakan sebagai bentuk fasilitasi kaum intelektual perempuan Islam yang kata rumornya karena tidak terakomodasi dalam struktur Majlis Ulama Indonesia (MUI). Sejak awal, satu bulan sebelum berlangsungnya KUPI, panitia sudah mensosialisasikan bahwa perhelatan akbar ini tidak untuk “memilih orang” atau tidak sama dengan lazimnya Kongres organisasi yang sangat politis dengan lahirnya elit politik. Komitmen panitia yang dimotori tiga organisasi yakni [[Alimat|ALIMAT]], [[Fahmina|FAHMINA]] dan [[Rahima|RAHIMA]] (ALFARA) terhadap ruang perjumpaan ulama perempuan nampak dalam ''Term Of Reference'' dan jadwal kegiatan yang telah disiarkan kepada publik melalui media sosial, wabsite dan liputan berita.


Saat pendaftaran KUPI yang dipublis melalui website, sebanyak 1.270 orang mendaftar dari seluruh Indonesia. Antusiasme kaum intelektual mendaftarkan diri menjadi peserta karena terbentuk kesadaran akan pentingnya [[jaringan]] ulama perempuan yang selama ini nyaris “tidak dianggap”. Masyarakat umum memiliki pemahaman bahwa term “ulama” itu seakan-akan hanya untuk “laki-laki” dan akhirnya mengesampingkan posisi dan peran ulama perempuan dalam sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara. Di sisi lain, gerakan perempuan Islam selama ini mengkooptasikan diri dalam gerakan yang parsial seperti misalnya kelompok agamawan yang terdiri dari ustadzah menyibukkan diri dengan aktivitas dakwah ''bil lisan''nya. Kelompok kampus sibuk dengan aktivitas penelitiannya dan aktor LSM memfokuskan diri dalam gerakan pemberdayaan. Masing-masing kelompok tersebut di satu sisi sama-sama menjadikan agama sebagai sumber dan inspirasi gerakan namun di sini lain, mereka bergerak sendiri-sendiri. KUPI menyatukan tiga kelompok ini.
Saat pendaftaran KUPI yang dipublis melalui website, sebanyak 1.270 orang mendaftar dari seluruh Indonesia. Antusiasme kaum intelektual mendaftarkan diri menjadi peserta karena terbentuk kesadaran akan pentingnya [[jaringan]] ulama perempuan yang selama ini nyaris “tidak dianggap”. Masyarakat umum memiliki pemahaman bahwa term “ulama” itu seakan-akan hanya untuk “laki-laki” dan akhirnya mengesampingkan posisi dan peran ulama perempuan dalam sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara. Di sisi lain, gerakan perempuan Islam selama ini mengkooptasikan diri dalam gerakan yang parsial seperti misalnya kelompok agamawan yang terdiri dari ustadzah menyibukkan diri dengan aktivitas dakwah ''bil lisan''nya. Kelompok kampus sibuk dengan aktivitas penelitiannya dan aktor LSM memfokuskan diri dalam gerakan pemberdayaan. Masing-masing kelompok tersebut di satu sisi sama-sama menjadikan agama sebagai sumber dan inspirasi gerakan namun di sini lain, mereka bergerak sendiri-sendiri. KUPI menyatukan tiga kelompok ini.

Menu navigasi