Merebut Tafsir: Perempuan dan Rumah Ibadah: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
tidak ada ringkasan suntingan
(←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://www.tempo.co/arsip/nyai-pondok-penggores-puisi-907695 Tempo] |- |Penulis |: | |- |Tanggal Publikasi |: |04 Juli 201...')
 
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://www.tempo.co/arsip/nyai-pondok-penggores-puisi-907695 Tempo]
|[https://rumahkitab.com/merebut-tafsir-perempuan-dan-rumah-ibadah/ rumahkitab.com]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|
|[[Lies Marcoes]]
|-
|-
|Tanggal Publikasi
|Tanggal Publikasi
|:
|:
|04 Juli 2016 00:00 WIB
|November 30, 2020
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://www.tempo.co/arsip/nyai-pondok-penggores-puisi-907695 Nyai Pondok Penggores Puisi]
|Merebut Tafsir: Perempuan dan Rumah Ibadah
|}Perempuan pertama yang memimpin pondok pesantren. Simbol Pembaruan Islam dalam Isu Gender.  
|}Salah satu isu yang mencuat dari peristiwa pembakaran rumah ibadah di Sigi Sulawesi Tengah adalah soal definisi “Rumah Ibadah”. Pihak aparat menyatakan tidak ada pembakaran Gereja melainkan sebuah “Pos Layanan”. Di lapangan, sebuah bangunan yang dikenali warga sebagai tempat ibadah salah satu kelompok dalam lingkungan gereja Kristen memang terbakar. Ini jelas bukan soal semantik bahwa “Pos Layanan” berbeda dari gereja, namun soal siapa yang punya otoritas untuk menentukan bahwa suatu tempat disebut sebagai Rumah Ibadah atau bukan.  


LANTUNAN ayat suci Al-Qur'an berkumandang di teras rumah pemimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu, Babakan, Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Dengan sabar, sang pemimpin pondok pesantren, Nyai Hj. [[Masriyah Amva]], 54 tahun, membimbing puluhan santri muda mendaras ayat. Sesuatu yang tak lazim dalam [[tradisi]] pesantren: perempuan memimpin pesantren.  
Mungkin karena latar belakang pendidikan saya dari Perbandingan Agama, saya selalu sangat tertarik pada fenomena orang beribadat. Saya tertarik kepada ritual dan apapun yang dikenali dan diakui warga/umat/jamaah/komunitas tentang cara dan tempat mereka beribadah. Apapun ragam dan keyakinannya.


Belakangan ketika saya menekuni isu feminisme dan gender serta pengalaman sendiri sebagai perempuan, saya menjadi sangat sensitif dalam melihat, mengamati atau terlibat dalam ritual dan praktik ibadat berdasarkan cara suatu agama memperlakukan perempuan.
Ketika di Tengger tahun 1984, saya melihat ibadat-ibadat pemujaan agama Jawa Kuno Hindu Tengger secara formal seperti perayaan Karo atau Kasodo. Di sana saya menyaksikan seluruh ritual resmi dipimpin oleh para dukun desa yang semuanya lelaki. Ritual ibadahnya tertib, konsisten sesuai aturan dari A sampai Z, bersuara riuh sehingga terdengar apa yang didoakan. Pada dukun itu memakai atribut pakaian resmi sebagai dukun. Ritual dijalankan selaras waktu yang ditentukan ( umumnya malam hari). . . . .
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]

Menu navigasi