Perempuan, Seni, dan Pesantren: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
1.871 bita ditambahkan ,  15 Juli 2025 00.10
tidak ada ringkasan suntingan
(←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia] |- |Penulis |: |Editor :...')
 
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia]
|[https://alif.id/read/alz/perempuan-seni-dan-pesantren-b232807p/ alif.id]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Editor : Triwinarno
|Al-Zastrouw
|-
|-
|Tanggal Publikasi
|Tanggal Publikasi
|:
|:
|23/10/2020 05:15
|Jumat, 18 September 2020
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Belajar dari sang Nyai Masriyah Amva]
|[https://alif.id/read/alz/perempuan-seni-dan-pesantren-b232807p/ Perempuan, Seni, dan Pesantren]
|}PESANTREN menjadi salah satu [[lembaga]] pendidikan, khusus agama Islam. Tidak heran jika satu pesantren terkadang memiliki ratusan hingga ribuan santri yang rela mondok untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.  
|}Berbicara mengenai perempuan dalam seni, bisa dibagi dalam tiga posisi; sebagai obyek, subyek (kreator) dan pelaku seni. Sebagai obyek, perempuan berposisi sebagai sumber inspirasi, model atau hasil dari suatu karya seni, tidak peduli karya seni tersebut hasil kreasi lelaki atau perempuan. Sedangkan pada perspektif kedua perempuan diposisikan sebagai kreator atau pelaku yang menghasilkan karya seni.  


Jika pada umumnya pesantren identik dengan penokohan seorang kiai, beda halnya dengan Pesantren Kebon Jambu yang berada di kawasan kampung
Pada posisi subyek kita bisa melihat berbagai sosok dan karakter perempuan dalam  karya seni. Pada seni sastra kita bisa melihat sosok Nyai Ontosoroh dalam novel tetralogi (Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa dan Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer, Ronggeng Dukuh Paruk dalam novel karya Ahmad Tohari, Novel Pronocitro karya Romo Mangun Wijaya dan sebagainya.


Dalam dunia tari kita bisa melihat sosok Dewi Shinta dalam sendratari epos Ramayana, dalam dunia lukis kita bisa melihat lukisan perempuan bermata putih karya Jehan, Monalisa karya Leonardo da Vinci. Pada seni pahat, bisa dilihat pada patung Roro Jongrang yang ada di Candi Prambanan. Dalam seni musik kita bisa melihat sosok Camelia dalam lagu Ebiet G. Ade dan Rhoma Irama dan sebagainya.
Pada semua karya seni ini perempuan menjadi obyek atau cermin dari imaginasi kreatif para seniman.  Keberadaan perempuan dalam dunia seni di sini bersifat pasif, karena sifatnya yang pasif, maka posisi perempuan dalam dunia seni menjadi dependen (tidak mandiri). Dalam perspektif ini, keberadaan perempuan dalam seni sangat tergantung pada sang kreator seni. Mau dibuat positif atau negatif, penting atau tidak penting, baik atau buruk, semua tergantung pada sang kreator.
Sebaliknya dalam posisi subyek (''kreator''), posisi perempuan dalam dunia seni menjadi sangat independen dan kuat. Dia memiliki otoritas penuh untuk mengekspresikan imaginasi kreatifnya dalam berbagai bentuk seni. Beberapa figur perempuan yang berada dalam posisi ini, diantaranya Abidah el-Khaliqi, NH Dini, La Rose, Nawal Sadawi (sastra), Retno Maruti  (tari), Ummi Kulsum (musik). Tracey Emin, Frida Kahlo, Marlene Dumas Kartika Affandi (lukis). Mereka adalah contoh perempuan yang menjadi subyek atau kreator seni yang melahirkan karya-karya monumental sehingga menempati posisi strategis dan terhormat dalam dunia seni. . . . .
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]

Menu navigasi