Ponpes Kebon Jambu Cirebon, Pencetak Ulama Perempuan: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
tidak ada ringkasan suntingan
(←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia] |- |Penulis |: |Editor :...')
 
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia]
|[https://kbr.id/saga/ponpes_kebon_jambu_cirebon__pencetak_ulama_perempuan kbr.id]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Editor : Triwinarno
|
|-
|-
|Tanggal Publikasi
|Tanggal Publikasi
|:
|:
|23/10/2020 05:15
|Kamis 12 Desember 2019 pukul 13.44 WIB
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Belajar dari sang Nyai Masriyah Amva]
|[https://kbr.id/saga/ponpes_kebon_jambu_cirebon__pencetak_ulama_perempuan Ponpes Kebon Jambu Cirebon, Pencetak Ulama Perempuan]
|}PESANTREN menjadi salah satu [[lembaga]] pendidikan, khusus agama Islam. Tidak heran jika satu pesantren terkadang memiliki ratusan hingga ribuan santri yang rela mondok untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.  
|}''Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamy Cirebon sudah 12 tahun dipimpin oleh ulama perempuan. [[Masriyah Amva]], yang memimpin 1600-an santri, selalu mengedepankan kesetaraan gender kepada seluruh santrinya, laki-laki atau perempuan. Jurnalis KBR Astri Yuana Sari berkunjung ke pesantren ini.  ''


Jika pada umumnya pesantren identik dengan penokohan seorang kiai, beda halnya dengan Pesantren Kebon Jambu yang berada di kawasan kampung santri Desa Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat.
KBR, Cirebon- Di hadapan ratusan santri laki-laki yang ''mondok'' di Pesantren Kebon Jambu, Masriyah Amva bicara tentang keseteraan gender.


Di pesantren ini justru seorang nyailah yang menjadi pemimpin utama.
Sudah 12 tahun Masriyah Amva menjadi ''Ibu Nyai'' atau pemimpin pesantren ini, setelah suaminya meninggal dunia.


"Dulunya pesantren ini dipimpin oleh suami saya, tetapi beliau wafat. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kepemimpinan pesantren ini," ungkap Nyai [[Masriyah Amva]] pemimpin Pesantren Kebon Jambu.
Di masa awal, tak mudah bagi ia memimpin pondok pesantren ini.Banyak [[tokoh]] agama memandangnya sebelah mata. Bahkan banyak pula orangtua santri yang memindahkan anaknya ke pesantren lain, hanya karena tak mau dipimpin perempuan.


Keputusan Sang Nyai untuk menjadi pimpinan pesantren bukanlah tanpa alasan. Masih belum siapnya penerus suami untuk memimpin pesantren menjadi dasar utama diambilnya keputusan tersebut.
Ma'had Alyatau pendidikan setara perguruan tinggi di Pondok Kebon Jambu, menjadi sarana bagi Masriyah untuk mewujudkan cita-citanya mencetak ulama-ulama perempuan.


"Saya ingat waktu awal-awal suami meninggal satu per satu santri pergi meninggalkan pesantren ini. Orangtua mereka datang dan izin untuk memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain," ujarnya kembali.
“Dari perjalanan saya ini, saya menganggap bahwa ulama-ulama perempuan ini perlu diangkat. Karena sebetulnya mereka banyak, tapi tidak bisa terangkat. Saya kalau tidak mengangkat diri untuk hidup, saya mungkin tenggelam,” katanya.


Masa-masa itu menjadi masa yang kelam baginya. Hidup dalam keterpurukan yang akhirnya membuat ia sadar bahwa hanya Sang Mahakuasalah yang dapat menolongnya. Perlahan, tapi pasti Masriyah Amva mampu membawa pesantrennya bangkit dalam keterpurukan. Bahkan kini Pondok Kebon Jambu menjadi salah satu tempat pembelajaran agama favorit.
Versi Marsiyah, ulama perempuan tak hanya mereka yang berjenis kelamin perempuan. Tapi juga ulama laki-laki yang punya pemahaman soal isu perempuan.


Apa sebenarnya yang menjadi kekuatan Nyai Masriyah Amva memimpin Pesantren Kebon Jambu yang mayoritas santrinya didominasi oleh pria? Lalu bagaimana respons dirinya terhadap anggapan jika seorang wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin?
Di pesantren ini seluruh pengajar baik ustad atau guru dan dosen harus punya pemahaman tentang kesetaraan gender.


Cerita sang Nyai dirangkum dalam film dokumenter berjudul Pesan dari sang Nyai yang tayang dalam program Melihat Indonesia di Metro TV pada Minggu, 25 Oktober 2020 pukul 10.30 WIB. (RO/H-1)
“Di sini nggak boleh dosennya itu yang punya 2 istri atau 3 istri, itu nggak boleh. Trus dosennya harus punya wacana-wacana tentang perempuan, dan pembela perempuan, itu yang disyaratkan oleh rektor kita. Karena perjuangan kita ini masih sangat berat. Dan kita sudah melihat banyak titik-titik terang keberhasilan. Dan mulai banyak orang menerima, mulai banyak orang sadar,” jelas Marsiyah.
 
Pemimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamy Cirebon, Masriyah Amva, berharap Islam semakin indah bersama ulama-ulama perempuan.
 
“Ini saya berharap ajaran agama kita semakin lebih indah dibawa oleh para perempuan-perempuan ini. Kemudian lebih lembut, lebih toleran, dan lebih memperhatikan masalah-masalah perempuan yang banyak sekali, yang berhubungan dengan kekerasan seksual, dengan diskriminasi.
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]

Menu navigasi