Di Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy, Para Santri Riuh Berpuisi: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
tidak ada ringkasan suntingan
(←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia] |- |Penulis |: |Editor :...')
 
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia]
|[https://news.detik.com/berita/d-5541821/di-pesantren-kebon-jambu-al-islamy-para-santri-riuh-berpuisi detikNews]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Editor : Triwinarno
|Sudrajat
|-
|-
|Tanggal Publikasi
|Tanggal Publikasi
|:
|:
|23/10/2020 05:15
|Kamis, 22 Apr 2021 10:38 WIB
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Belajar dari sang Nyai Masriyah Amva]
|[https://news.detik.com/berita/d-5541821/di-pesantren-kebon-jambu-al-islamy-para-santri-riuh-berpuisi Di Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy, Para Santri Riuh Berpuisi]
|}PESANTREN menjadi salah satu [[lembaga]] pendidikan, khusus agama Islam. Tidak heran jika satu pesantren terkadang memiliki ratusan hingga ribuan santri yang rela mondok untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.  
|}Jakarta - Menulis adalah level ketiga sesudah mendengar dan membaca dalam aktivitas akademis. Kesadaran semacam ini tumbuh dengan baik di lingkungan Pesantren Kebon Jambu al-Islamy, Cirebon. Belasan santri di sana sudah mulai mengikuti jejak sang pengasuh mereka, Nyai [[Masriyah Amva]].  


Jika pada umumnya pesantren identik dengan penokohan seorang kiai, beda halnya dengan Pesantren Kebon Jambu yang berada di kawasan kampung santri Desa Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat.
Selain dikenal sebagai ulama perempuan, Masriyah tercatat sebagai penyair muslim terkemuka, Apa & Siapa Penyair Indonesia, 2017. Dia telah menulis lebih dari 20 buku motivasi dan puisi.


Di pesantren ini justru seorang nyailah yang menjadi pemimpin utama.
Sejak beberapa tahun terakhir telah belasan buku karya para santri Kebon Jambu diterbitkan. Baik puisi, novel, maupun buku referensi. Hilyatul Aulia, misalnya, menerbitkan Santriwati Berbicara Islam, Pesantren, Gender, dan Sastra. Sementara M. Iqbal Saripudin menulis novel Kabut Cinta di Ujung Senja, serta Muhammad Ridwan menerbitkan Catatan sang Santri.


"Dulunya pesantren ini dipimpin oleh suami saya, tetapi beliau wafat. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kepemimpinan pesantren ini," ungkap Nyai [[Masriyah Amva]] pemimpin Pesantren Kebon Jambu.
Salah satu anak lelaki Masriyah, Robith Hasymi Yassin, menerbitkan tiga buku. Dua di antaranya, Dasar dasar Ilmu Mantiq, dan Skema dan tabel Aljauhar Almaknun menjadi materi rujukan di berbagai pesantren besar dan universitas-universitas Islam. "Juga dipakai untuk pelatihan guru-guru dan dosen," kata Masriyah bangga.


Keputusan Sang Nyai untuk menjadi pimpinan pesantren bukanlah tanpa alasan. Masih belum siapnya penerus suami untuk memimpin pesantren menjadi dasar utama diambilnya keputusan tersebut.
Sementara Syafii Atsmari, menantunya, menerbitkan enam buku seperti Minhajul 'Abidin, Syarifaty 'Imrity, dan Atsmarul Iman. . . .
 
"Saya ingat waktu awal-awal suami meninggal satu per satu santri pergi meninggalkan pesantren ini. Orangtua mereka datang dan izin untuk memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain," ujarnya kembali.
 
Masa-masa itu menjadi masa yang kelam baginya. Hidup dalam keterpurukan yang akhirnya membuat ia sadar bahwa hanya Sang Mahakuasalah yang dapat menolongnya. Perlahan, tapi pasti Masriyah Amva mampu membawa pesantrennya bangkit dalam keterpurukan. Bahkan kini Pondok Kebon Jambu menjadi salah satu tempat pembelajaran agama favorit.
 
Apa sebenarnya yang menjadi kekuatan Nyai Masriyah Amva memimpin Pesantren Kebon Jambu yang mayoritas santrinya didominasi oleh pria? Lalu bagaimana respons dirinya terhadap anggapan jika seorang wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin?
 
Cerita sang Nyai dirangkum dalam film dokumenter berjudul Pesan dari sang Nyai yang tayang dalam program Melihat Indonesia di Metro TV pada Minggu, 25 Oktober 2020 pukul 10.30 WIB. (RO/H-1)
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]

Menu navigasi