15.259
suntingan
(←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia] |- |Penulis |: |Editor :...') |
|||
| Baris 3: | Baris 3: | ||
|Sumber Original | |Sumber Original | ||
|: | |: | ||
|[https:// | |[https://bincangmuslimah.com/kajian/masriyah-amva-dan-kepemimpinan-perempuan-di-pesantren-32516/ Bincang Muslimah] | ||
|- | |- | ||
|Penulis | |Penulis | ||
|: | |: | ||
| | |Yaqut Al-amnah | ||
|- | |- | ||
|Tanggal Publikasi | |Tanggal Publikasi | ||
|: | |: | ||
| | |20 Oktober 2024 | ||
|- | |- | ||
|Artikel Lengkap | |Artikel Lengkap | ||
|: | |: | ||
|[https:// | |[https://bincangmuslimah.com/kajian/masriyah-amva-dan-kepemimpinan-perempuan-di-pesantren-32516/ Masriyah Amva dan Kepemimpinan Perempuan di Pesantren] | ||
|} | |}'''BincangMuslimah.Com –''' Pemimpin pondok pesantren selalu identik dengan laki-laki atau sosok kiai. Tidak heran jika ada yang mengatakan bahwa unsur yang membentuk pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning (Zamakhsyari Dhofier: 1982, 44-45). Tidak ada peran penting perempuan di dalamnya. | ||
Berbeda dengan pesantren pada umumnya, Pesantren [[Kebon Jambu Al-Islamy]] di Cirebon Jawa Barat di bawah pimpinan sosok seorang [[tokoh]] perempuan, Nyai [[Masriyah Amva]]. | |||
Dalam satu kunjungan ke Cirebon awal tahun lalu, saya bersama kawan-kawan dari Peace Train Indonesia, berkesempatan untuk berdialog dan mendengarkan Nyai Masriyah Amva selaku pimpinan pesantren. | |||
Sebelum Nyai Masriyah Amva memimpin, almarhum suaminya, KH Muhammad yang memimpin Pesantren Kebon Jambu. Ketika suaminya meninggal, Masriyah Amva mengalami kekecewaan karena para santri berbondong-bondong pergi meninggalkan pesantrennya. “Kenapa perempuan begitu direndahkan? kenapa pesantren hanya bisa dipimpin oleh laki-laki?” tanyanya. | |||
=== Sosok Pemimpin Perempuan di Pesantren === | |||
Setelah menghadapi masa keterpurukan, Masriyah Amva bangkit. Ia mulai membina santri-santrinya yang masih tersisa. Dalam perjuangannya, ia tidak lagi bersandar kepada laki-laki, melainkan mengangkat Tuhan langsung sebagai penuntun, pelindung dan pemimpinnya. Tidak heran jika ceritanya ini mengingatkan banyak orang kepada sosok perempuan sufi, Rabiah Adawiyah. | |||
Menurutnya, jika kita semua hanya bersandar kepada Allah, maka kedudukan laki-laki dan perempuan menjadi setara. Jika kita memuliakan Tuhan, maka kita juga harus memuliakan semua makhluknya. Pemikirannya ini juga yang membuat ia terkenal sebagai tokoh feminis, pluralis hingga ulama. | |||
Melalui keteguhannya, pesantren ini perlahan semakin besar dan luas. Mendirikan bangunan baru, mengembangkan pendidikan, santri-santri baru pun terus berdatangan hingga jumlahnya lebih dari seribu orang. . . . . | |||
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]] | [[Kategori:Jejak Masriyah Amva]] | ||