15.259
suntingan
(←Membuat halaman berisi 'Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pertama yang dilaksanakan pada 25-27 April 2017 di Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon telah ber...') |
|||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pertama yang dilaksanakan pada 25-27 April 2017 di Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon telah berhasil mengikis praduga banyak pihak, bahwa Kongres ini diselenggarakan sebagai bentuk fasilitasi kaum intelektual perempuan Islam yang kata rumornya karena tidak terakomodasi dalam struktur Majlis Ulama Indonesia (MUI). Sejak awal, satu bulan sebelum berlangsungnya KUPI, panitia sudah mensosialisasikan bahwa perhelatan akbar ini tidak untuk “memilih orang” atau tidak sama dengan lazimnya Kongres organisasi yang sangat politis dengan lahirnya elit politik. Komitmen panitia yang dimotori tiga organisasi yakni ALIMAT, FAHMINA dan RAHIMA (ALFARA) terhadap ruang perjumpaan ulama perempuan nampak dalam ''Term Of Reference'' dan jadwal kegiatan yang telah disiarkan kepada publik melalui media sosial, wabsite dan liputan berita. | Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia (KUPI) pertama yang dilaksanakan pada 25-27 April 2017 di Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon telah berhasil mengikis praduga banyak pihak, bahwa Kongres ini diselenggarakan sebagai bentuk fasilitasi kaum intelektual perempuan Islam yang kata rumornya karena tidak terakomodasi dalam struktur Majlis Ulama Indonesia (MUI). Sejak awal, satu bulan sebelum berlangsungnya KUPI, panitia sudah mensosialisasikan bahwa perhelatan akbar ini tidak untuk “memilih orang” atau tidak sama dengan lazimnya Kongres organisasi yang sangat politis dengan lahirnya elit politik. Komitmen panitia yang dimotori tiga organisasi yakni [[Alimat|ALIMAT]], FAHMINA dan [[Rahima|RAHIMA]] (ALFARA) terhadap ruang perjumpaan ulama perempuan nampak dalam ''Term Of Reference'' dan jadwal kegiatan yang telah disiarkan kepada publik melalui media sosial, wabsite dan liputan berita. | ||
Saat pendaftaran KUPI yang dipublis melalui website, sebanyak 1.270 orang mendaftar dari seluruh Indonesia. Antusiasme kaum intelektual mendaftarkan diri menjadi peserta karena terbentuk kesadaran akan pentingnya jaringan ulama perempuan yang selama ini nyaris “tidak dianggap”. Masyarakat umum memiliki pemahaman bahwa term “ulama” itu seakan-akan hanya untuk “laki-laki” dan akhirnya mengesampingkan posisi dan peran ulama perempuan dalam sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara. Di sisi lain, gerakan perempuan Islam selama ini mengkooptasikan diri dalam gerakan yang parsial seperti misalnya kelompok agamawan yang terdiri dari ustadzah menyibukkan diri dengan aktivitas dakwah ''bil lisan''nya. Kelompok kampus sibuk dengan aktivitas penelitiannya dan aktor LSM memfokuskan diri dalam gerakan pemberdayaan. Masing-masing kelompok tersebut di satu sisi sama-sama menjadikan agama sebagai sumber dan inspirasi gerakan namun di sini lain, mereka bergerak sendiri-sendiri. KUPI menyatukan tiga kelompok ini. | Saat pendaftaran KUPI yang dipublis melalui website, sebanyak 1.270 orang mendaftar dari seluruh Indonesia. Antusiasme kaum intelektual mendaftarkan diri menjadi peserta karena terbentuk kesadaran akan pentingnya jaringan ulama perempuan yang selama ini nyaris “tidak dianggap”. Masyarakat umum memiliki pemahaman bahwa term “ulama” itu seakan-akan hanya untuk “laki-laki” dan akhirnya mengesampingkan posisi dan peran ulama perempuan dalam sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara. Di sisi lain, gerakan perempuan Islam selama ini mengkooptasikan diri dalam gerakan yang parsial seperti misalnya kelompok agamawan yang terdiri dari ustadzah menyibukkan diri dengan aktivitas dakwah ''bil lisan''nya. Kelompok kampus sibuk dengan aktivitas penelitiannya dan aktor LSM memfokuskan diri dalam gerakan pemberdayaan. Masing-masing kelompok tersebut di satu sisi sama-sama menjadikan agama sebagai sumber dan inspirasi gerakan namun di sini lain, mereka bergerak sendiri-sendiri. KUPI menyatukan tiga kelompok ini. | ||
| Baris 5: | Baris 5: | ||
Apa urgensinya KUPI bagi pergerakan perempuan Islam? Pengalaman penulis sebagai peserta KUPI, setidaknya terdapat dua manfaat yang diperoleh oleh peserta dan pengamat selama berlangsungnya acara yakni; Konsolidasi Gerakan Ulama Perempuan dan Penguatan Metodologi Ulama Perempuan. | Apa urgensinya KUPI bagi pergerakan perempuan Islam? Pengalaman penulis sebagai peserta KUPI, setidaknya terdapat dua manfaat yang diperoleh oleh peserta dan pengamat selama berlangsungnya acara yakni; Konsolidasi Gerakan Ulama Perempuan dan Penguatan Metodologi Ulama Perempuan. | ||
=== | === Konsolidasi Gerakan Ulama Perempuan === | ||
KUPI di Cirebon, tanpa disadari telah menyatukan banyak ulama perempuan dari berbagai daerah, yang dulunya pernah punya kesejarahan sama dalam berproses di pesantren, memiliki guru yang sama dan ilmu yang juga sama. KUPI juga menyatukan para mantan aktivis mahasiswa Islam dari berbagai perguruan tinggi yang kini menyebar di seluruh Indonesia. | KUPI di Cirebon, tanpa disadari telah menyatukan banyak ulama perempuan dari berbagai daerah, yang dulunya pernah punya kesejarahan sama dalam berproses di pesantren, memiliki guru yang sama dan ilmu yang juga sama. KUPI juga menyatukan para mantan aktivis mahasiswa Islam dari berbagai perguruan tinggi yang kini menyebar di seluruh Indonesia. | ||
| Baris 14: | Baris 14: | ||
Bertemunya para ulama perempuan yang dulunya punya kesamaan sejarah baik di pesantren, perguruan tinggi dan organisasi pada momen KUPI ini, tak pernah lewatkan untuk curhat gerakan. Istilah ngetren-nya menjadi ajang “curcol (curhat colongan)” karena bentuknya yang non formal dan tidak ada dalam daftar kegiatan yang telah terjadwalkan oleh panitia. Sesi seperti ini, dibahas di sela-sela aktivitas dalam kamar pondok, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Banyak tema menarik didiskusikan, mulai dari perjalanan hidup, apa saja yang telah dilakukan selama ''lost'' kontak di antara satu sama lain. | Bertemunya para ulama perempuan yang dulunya punya kesamaan sejarah baik di pesantren, perguruan tinggi dan organisasi pada momen KUPI ini, tak pernah lewatkan untuk curhat gerakan. Istilah ngetren-nya menjadi ajang “curcol (curhat colongan)” karena bentuknya yang non formal dan tidak ada dalam daftar kegiatan yang telah terjadwalkan oleh panitia. Sesi seperti ini, dibahas di sela-sela aktivitas dalam kamar pondok, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Banyak tema menarik didiskusikan, mulai dari perjalanan hidup, apa saja yang telah dilakukan selama ''lost'' kontak di antara satu sama lain. | ||
Pengalaman yang berbeda dari masing-masing peserta selain menambah khazanah pengetahuan, juga telah berhasil mentransformasi ide dan gerakan yang mungkin masalahnya sama, namun metode penyelesaiannya berbeda. Suasana diskusi informal di antara peserta nampak hangat dan harmonis yang kita temui di pojok-pojok pesantren, sembari sarapan atau sambil menunggu antrian mandi, ini dalam pandangan penulis dapat terjadi karena di antara peserta telah terjalin hubungan emosional. KUPI telah berhasil mengkonsolidasikan hubungan emosional tersebut. | Pengalaman yang berbeda dari masing-masing peserta selain menambah [[khazanah]] pengetahuan, juga telah berhasil mentransformasi ide dan gerakan yang mungkin masalahnya sama, namun metode penyelesaiannya berbeda. Suasana diskusi informal di antara peserta nampak hangat dan harmonis yang kita temui di pojok-pojok pesantren, sembari sarapan atau sambil menunggu antrian mandi, ini dalam pandangan penulis dapat terjadi karena di antara peserta telah terjalin hubungan emosional. KUPI telah berhasil mengkonsolidasikan hubungan emosional tersebut. | ||
=== | === Penguatan Metodologi Ulama Perempuan === | ||
Beragamnya peserta KUPI di Cirebon, membawa dampak positif bagi peserta dalam pengkayaan wawasan dalam melihat permasalahan perempuan dan anak. Bagi Nyai Pesantren yang sehari-harinya berinteraksi dengan santri, tentu memiliki tantangan permasalahan yang berbeda dengan aktivis LSM yang banyak berinteraksi dengan korban yang masalahnya lebih ''complicated''. Pun demikian bagi akademisi kampus yang banyak berinteraksi dengan literasi dan penelitian ilmiah. | Beragamnya peserta KUPI di Cirebon, membawa dampak positif bagi peserta dalam pengkayaan wawasan dalam melihat permasalahan perempuan dan anak. Bagi Nyai Pesantren yang sehari-harinya berinteraksi dengan santri, tentu memiliki tantangan permasalahan yang berbeda dengan aktivis LSM yang banyak berinteraksi dengan korban yang masalahnya lebih ''complicated''. Pun demikian bagi akademisi kampus yang banyak berinteraksi dengan literasi dan penelitian ilmiah. | ||
| Baris 28: | Baris 28: | ||
Penulis: Susianah Affandy | |||
'''Penulis: Susianah Affandy''' ''(Wakil Ketua [[Lembaga]] Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKK PBNU)'' | |||
Jakarta, 7 Mei 2017 | Jakarta, 7 Mei 2017 | ||
[[Kategori:Diskursus]] | [[Kategori:Diskursus]] | ||