Tafsir Ayat Relasional yang Kurang Mencerminkan Kesetaraan: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
tidak ada ringkasan suntingan
(←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber |: |[https://rahma.id/ Rahma.id] |- |Penulis |: |Izza Royyani (''Alumni UIN Sunan Kalijaga. Berminat dalam kajian perempuan dan agama''...')
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://rahma.id/ Rahma.id]
|[https://tafsiralquran.id/tafsir-ayat-relasional-yang-kurang-mencerminkan-kesetaraan/ tafsiralquran.id]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Izza  Royyani (''Alumni UIN Sunan Kalijaga. Berminat dalam kajian perempuan dan  agama'')
|Halya Millati
|-
|-
|Tanggal Publikasi
|Tanggal Publikasi
|:
|:
|16 Mei  2021
|20/02/2022
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://rahma.id/faqihuddin-abdul-kodir-qiraah-mubaadalah/ Faqihuddin Abdul Kodir dan Teori Qira’ah Mubaadalah untuk  Relasi Kesalingan]
|[https://tafsiralquran.id/tafsir-ayat-relasional-yang-kurang-mencerminkan-kesetaraan/ Tafsir Ayat Relasional yang Kurang Mencerminkan Kesetaraan]
|}
|}
Wacana keadilan gender dalam agama pada era post-modern ini semakin menunjukkan kekuatannya. Bagaimana tidak, pada era ini banyak cendekiawan muslim yang mencoba merumuskan metodologi untuk membaca teks sumber Islalm yang masih sering diinterpretasi secara kurang tepat, atau bahkan mendiskriminasikan perempuan. Faqihudin Abdul Kodir, merupakan salah satu nama cendekiawan muslim Indonesia yang turut memberikan andil dalam hal ini
Sebagaimana dijelaskan pada artikel sebelumnya, eksistensi tafsir ayat relasional yang bernuansa patriarki juga menjadi alasan tersendiri mengapa harus mengembangkan penafsiran dengan kacamata kesetaraan. Terdapat beberapa tema tafsir ayat relasional yang bernuansa patriarki, seperti konsep kepemimpinan, awal penciptaan manusia, disharmonis dalam rumah tangga, dan lain-lain. Untuk dapat melihat secara lebih gamblang, berikut ini contoh tafsir ayat relasional yang kurang (untuk tidak menyatakan seluruhnya) mencerminkan kesetaraan.


Faqihuddin Berasal dari Cirebon, Jawa Barat.  Mengawali rihlah menjadi  santri di Dar al-[[Tauhid]] Arjawinangun, Cirebon (1983-1989).  Pendidikan Sarjananya ia tempuh di Damaskus-Syiria dengan mengambil ''double degree'' Fakultas Dakwah Abu Nur (1989-1995) dan Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus (1990-1996). Jenjang Master secara resmi ia tempuh di International Islamic University Malaysia pada bidang pengembangan fiqih zakat (1996-1999). Sepuluh tahun kemudian, ia melanjutkan studi doktor di Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), UGM Yogyakarta (2009-2015).
Di antara penafsiran ayat relasional yang bernuansa patriarki, ada pada pembacaan atas Q.S. Annisa: 34, yang dilakukan oleh beberapa mufasir klasik. Secara umum, ayat tersebut berbicara soal konsep kepemimpinan dalam rumah tangga. Kata kunci yang kemudian menjadi pokok pembahasan isu kepemimpinan laki-laki ialah ''qawwamun''.
[[Kategori:Jejak Tokoh]]
[[Kategori:Jejak Tokoh]]
[[Kategori:Jejak Faqihuddin Abdul Kodir]]
[[Kategori:Jejak Faqihuddin Abdul Kodir]]

Menu navigasi