Ulama Perempuan: Eksistensi dan Peran: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
Term ”ulama” dalam konteks kebudayaan Indonesia dimaknai secara khusus. Ia adalah gelar yang diberikan kepada orang-orang yang dipandang mengerti dan memahami ilmu-ilmu agama Islam. Hal itu biasanya dibuktikan dengan kemampuan seseorang membaca Alquran dan "kitab-kitab kuning". Kitab-kitab ini umumnya berisi ilmu-ilmu fikih, tafsir, hadist, tauhid, dan sejenisnya yang ditulis para [[tokoh]] Islam abad pertengahan. Dengan keahliannya dalam keilmuan agama tersebut ulama juga acap dipahami sebagai pemimpin/tokoh agama. Ulama adalah juga agen perubahan sosial.
Term ”ulama” dalam konteks kebudayaan Indonesia dimaknai secara khusus. Ia adalah gelar yang diberikan kepada orang-orang yang dipandang mengerti dan memahami ilmu-ilmu agama Islam. Hal itu biasanya dibuktikan dengan kemampuan seseorang membaca Alquran dan "kitab-kitab kuning". Kitab-kitab ini umumnya berisi ilmu-ilmu fikih, tafsir, hadist, [[tauhid]], dan sejenisnya yang ditulis para [[tokoh]] Islam abad pertengahan. Dengan keahliannya dalam keilmuan agama tersebut ulama juga acap dipahami sebagai pemimpin/tokoh agama. Ulama adalah juga agen perubahan sosial.


Dalam bacaan antropologis yang sederhana, ulama di Indonesia biasanya tampil dengan pakaian sarung, peci, sorban, atau tutup kepala yang lain. Tutup kepala ini, konon, merupakan ciri yang meneguhkan sosoknya sebagai ulama. Tanpa aksesori ini unsur ''wira'i'' (kehormatan) pada diri ulama menjadi berkurang. Ulama juga dikesankan sebagi orang yang rajin beribadah, banyak membaca Alquran, berzikir, dan pandai berdoa. Mereka menjadi rujukan dalam setiap urusan yang berkaitan dengan agama, termasuk memberi fatwa.  
Dalam bacaan antropologis yang sederhana, ulama di Indonesia biasanya tampil dengan pakaian sarung, peci, sorban, atau tutup kepala yang lain. Tutup kepala ini, konon, merupakan ciri yang meneguhkan sosoknya sebagai ulama. Tanpa aksesori ini unsur ''wira'i'' (kehormatan) pada diri ulama menjadi berkurang. Ulama juga dikesankan sebagi orang yang rajin beribadah, banyak membaca Alquran, berzikir, dan pandai berdoa. Mereka menjadi rujukan dalam setiap urusan yang berkaitan dengan agama, termasuk memberi [[fatwa]].  


Terminologi tersebut tentu saja telah mereduksi makna ''genuine'' dari ulama. Ulama adalah kata jamak (plural) dari ''<nowiki/>'alim'', yakni orang yang mengerti, orang yang tahu tentang banyak bidang ilmu. Kata lain yang semakna dengan ulama adalah "''ulu al-'ilm''" (para pemilik ilmu pengetahuan), "''ulu al-albab''" (pemilik ketajaman pikiran) dan "''ulu al-abshar''" (pemilik pandangan yang jauh). Pada masa awal Islam sebutan ulama ditujukan kepada orang-orang yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keagamaan (''diniyyah''), tetapi juga ilmu-ilmu secara lebih luas (ilmu umum), seperti fisika, kedokteran, astronomi, dan ilmu-ilmu humaniora. Bidang-bidang keilmuan ini pada masa lalu tidak dihadapkan secara dikotomis. Alquran menyatakan, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mempunyai pikiran yang mendalam. Yakni orang-orang yang senantiasa mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi. (Mereka kemudian berkata), ’Wahai Tuhan, tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau. Maka jauhkan aku dari siksa neraka."(QS Ali Imran [3]: 190).   
Terminologi tersebut tentu saja telah mereduksi makna ''genuine'' dari ulama. Ulama adalah kata jamak (plural) dari ''<nowiki/>'alim'', yakni orang yang mengerti, orang yang tahu tentang banyak bidang ilmu. Kata lain yang semakna dengan ulama adalah "''ulu al-'ilm''" (para pemilik ilmu pengetahuan), "''ulu al-albab''" (pemilik ketajaman pikiran) dan "''ulu al-abshar''" (pemilik pandangan yang jauh). Pada masa awal Islam sebutan ulama ditujukan kepada orang-orang yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keagamaan (''diniyyah''), tetapi juga ilmu-ilmu secara lebih luas (ilmu umum), seperti fisika, kedokteran, astronomi, dan ilmu-ilmu humaniora. Bidang-bidang keilmuan ini pada masa lalu tidak dihadapkan secara dikotomis. Alquran menyatakan, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mempunyai pikiran yang mendalam. Yakni orang-orang yang senantiasa mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi. (Mereka kemudian berkata), ’Wahai Tuhan, tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau. Maka jauhkan aku dari siksa neraka."(QS Ali Imran [3]: 190).   
Baris 34: Baris 34:
''(Diterbitkan di Koran Sindo, 17 April 2017)''
''(Diterbitkan di Koran Sindo, 17 April 2017)''


'''Penulis: KH. Husein Muhammad'''
'''Penulis: KH. [[Husein Muhammad]]'''


''(Ketua Yayasan [[Fahmina]] dan Anggota SC KUPI)''
''(Ketua Yayasan [[Fahmina]] dan Anggota SC [[KUPI]])''
[[Category:Diskursus]]
 
[[Kategori:Diskursus]]
[[Kategori:Diskursus Kongres 1]]

Menu navigasi